Rokok Bukan Narkoba! Jadi Berhenti Mengaitkannya!

Rokok bukan narkoba. Namun, antirokok selalu mengaitkan soal rokok yang sama bikin kecanduannya, seperti narkoba.

Dalam Artikel Ini

Rokok bukan narkoba

Dalam Artikel Ini

Dalam berbagai kampanye anti rokok, sering muncul narasi yang mengaitkan rokok dengan narkoba. Narasi yang dibangun sangat sederhana dan dikemas sedemikian rupa hingga terdengar meyakinkan bagi sebagian orang. Padahal, kalau mau ditelaah lebih dalam, memaksakan keterkaitan rokok dengan narkoba justru mengaburkan perbedaan mendasar antara keduanya.

“Rokok gerbang awal menuju perilaku adiktif,” begitu katanya.

Soal adiksi, rasanya masih terbuka ruang perdebatan yang besar. Hampir seluruh perokok lebih memilih mengasosiasikan rokok dengan sebuah kebiasaan, alih-alih kecanduan. Maksudnya, perilaku merokok itu perkara habituatif, bukan adiktif. Perokok rutin merokok ya karena terbiasa merokok, bukan karena kecanduan dan terus menuntut konsumsinya.

Rokok bukan narkoba, sebab tak membuat kecanduan dan ketergantungan

Bisakah seorang perokok tidak merokok dalam waktu yang panjang? Ya sangat bisa. Pengguna narkoba jelas mengalami kecanduan berat. Mereka akan secara serta-merta mengalami gejala putus zat serius atau yang kita kenal dengan istilah ‘sakau’ saat mereka berhenti mengonsumsi barang yang biasa mereka konsumsi.

Kondisi sakau tersebut bisa menimbulkan gangguan psikis dan fisik yang signifikan. Sedangkan, seperti yang sudah disinggung tadi, para perokok paling-paling hanya akan merasa ‘asem’ di mulut saat tidak merokok dalam waktu yang panjang. Gejala asem jelas jauh berbeda dengan sakau. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menemukan banyak perokok yang tetap bekerja, bepergian, hidup normal, atau menjalankan aktivitas selama berjam-jam tanpa rokok ketika situasi mengharuskannya.

Perbedaan paling jelas terletak pada aspek hukum. Industri Hasil Tembakau (IHT) memproduksi rokok secara legal. Ada cukai dan pajak yang dipungut secara resmi oleh negara. Rokok merupakan produk legal yang diatur secara ketat dan serius oleh negara. Produksi, distribusi, teknis pemasaran, hingga wujud kemasannya pun diatur.

Baca Juga:  Benar Bu, Rokok Lebih Bahaya dari Narkoba

Berbeda dengan narkoba, sejauh yang kita tahu, narkoba itu barang ilegal, kecuali ada fakta yang menunjukkan sebaliknya. Kita tahu, produksi, distribusi, teknis pemasaran narkoba berputar tanpa restu negara. Tidak ada cukai, pajak, atau pungutan apapun dari aparatur negara dalam lingkaran peredaran narkoba.

Logika sesat antirokok

Penggunaan narkoba dilarang karena memiliki risiko sosial dan kesehatan yang sangat tinggi. Saat seseorang membeli rokok di warung, dia sedang melakukan transaksi jual-beli yang sah. Tapi, saat seseorang membeli narkoba, sudah barang tentu transaksi itu terjadi di ruang gelap, tersembunyi, dan pastinya melanggar hukum.

Keterkaitan antara perilaku merokok dan penggunaan narkoba sering kali dinarasikan secara serampangan. Aktifitas merokok sering disebut sebagai tahap awal, dilanjutkan dengan konsumsi alkohol, ganja, hingga penggunaan barang haram seperti obat-obatan terlarang. Pertanyaannya, apakah ada pengguna narkoba yang tidak pernah merokok? Ada, banyak!

Fakta bahwa sebagian pengguna narkoba pernah merokok tidak lantas membuktikan bahwa rokok menyebabkan seseorang adalah calon pengguna narkoba. Logika itu sesat. Sama saja dengan mengatakan bahwa kopi dan teh adalah gerbang menuju perilaku kriminal, karena sebagian besar narapidana pernah minum kopi atau teh. Dua hal yang muncul bersamaan tidak selalu memiliki kausalitas.

Adapun hal yang lebih relevan dalam kasus penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan lingkungan sosial, kondisi keluarga, pergaulan, masalah mental, hingga adanya akses terhadap barang terlarang tersebut. Persoalan narkoba adalah persoalan kompleks. Simplifikasi persoalan narkoba menjadi soal rokok justru berpotensi mengaburkan dan mengabaikan akar masalah yang sesungguhnya. Konsekuensi logis dari pengabaian itu menyebabkan upaya penanggulangan narkoba menjadi kurang atau bahkan tidak tepat sasaran.

Baca Juga:  Tudingan Ada Narkoba dalam Rokok Adalah Hoax dari Antirokok

Jangan samakan rokok dengan narkoba!

Sekali lagi, berhenti mengaitkan rokok dengan narkoba. Proses seseorang menuju penyalahgunaan narkoba tidak bisa direduksi jadi sekadar kebiasaan merokok. Kita tentu tidak bisa menyebut seorang anak yang senang bersepeda adalah bibit-bibit pembalap liar ketika dewasa kelak. Ada banyak variabel yang menentukan seseorang akhirnya memilih melakukan atau tidak melakukan suatu hal.

Diskusi terkait rokok dan narkoba sebaiknya dibangun di atas fakta yang objektif dan proporsional. Rokok dan narkoba adalah dua hal yang berbeda, keduanya memiliki status hukum, karakteristik, pola penggunaan, serta konsekuensi sosial yang berbeda.

Siapa pun berhak untuk mengkritik atau mendukung kebijakan terkait rokok. Tapi, memaksakan ketarkaitan rokok dengan narkoba tanpa mempertimbangkan variabel-variabel lain berisiko melahirkan kesimpulan yang jauh panggang dari api.

Penulis: Aris Perdana

BACA JUGA: Menolak Narasi Rokok Gerbang Menuju Narkoba