Sejak Kapan Ada Spesialisasi Pencuri Rokok?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata ‘spesialis’? Yap, tentu penyebutan itu dialamatkan kepada orang yang memiliki keahlian khusus. Merujuk pada KBBI, spesialis adalah orang yang ahli dalam suatu cabang ilmu atau keterampilan tertentu. Dan biasanya untuk mendapatkan predikat spesialis itu dinilai dari ketekunan dan dedikasi yang penuh terhadap profesi yang dilakoni. Misalnya untuk profesi dokter spesialis syaraf, dia harus menempuh pendidikan pascasarjana untuk mendapatkan gelar spesialis tersebut.

Bagaimana jika ada judul berita yang menyebut Tiga Spesialis Pencuri Rokok Berhasil Diringkus Polisi, apakah memang dituntut keterampilan khusus untuk mendapatkan predikat tersebut. Apakah memang hidupnya didedikasikan untuk berkarir sebagai spesialis pencuri rokok, sementara jikapun ada pilihan barang curian yang lebih berharga dari rokok tentu ‘spesialis pencuri rokok’ itu akan memilih barang yang lebih berharga tersebut.

Bagaimana jika seorang spesialis pembuat kunci duplikat yang melakukan pencurian susu dari warung sebelah tempatnya mangkal, meski misalnya hanya sekaleng-dua kaleng susu yang dicurinya. Apakah berarti predikatnya sebagai spesialis pembuat kunci duplikat berubah menjadi spesialis pencuri susu?

Baca Juga:  Pemanfaatan Sampah Rokok

Konyolnya tuh di sini. Media terkadang gampang betul membingkai frasa yang berhubungan sama rokok dengan hal-hal yang negatif. Bahkan kadang jika logika redaksinya ditilik lebih dalam sangat bertentangan dengan logika bahasa di masyarakat umum. Yang artinya, bisa kita tengarai sebetulnya apa motif di balik pencetusan istilah itu. Kenapa media tersebut tidak menggunakan saja judul ‘Spesialis Pembobol Toko Berhasil Diringkus Polisi’, atau ‘Sindikat Pencuri di Makassar Berhasil Dibekuk Aparat’. Apakah dua judul semacam itu sudah dianggap bukan berita lagi, sehingga harus mengganti istilah spesialis pembobol toko menjadi spesialis pencuri rokok. Yang berimplikasi lebih dapat mendulang pembaca lebih banyak.

Jika demikian adanya, diksi rokok maupun perokok memang sudah menjadi alat bahasa yang efektif untuk ditunggangi kepentingan para awak media demi mendulang keuntungan. Celakanya memang, media daring yang lebih mengutamakan politik judul ketimbang kualitas isi berita tidak berasaskan lagi pada kebenaran, melainkan pada keuntungan semata. Tidak lagi mempertimbang dampak dari personifikasi yang dipolitisirnya.

Baca Juga:  Review Rokok Diplomat Mild, Produk Anomali dari Wismilak

Sudah barang tentu dalam konteks ini kredibilitas serta reputasi media penyiaran semacam itu akan dilingkari sebagai media ‘asal goblek’. Hambok, Komisi Penyiaran Indonesia juga perlu dong menyikapi media ‘asal goblek’ semacam itu.

Saya sampaikan koreksi ini bukan karena saya perokok, atau lebih jauh lagi karena saya dikenal juga sebagai spesialis ‘pencuri salam’, jadi sebelum orang lain di perkumpulan mengucap salam untuk pamitan, saya sudah mampu merebut salam lebih dulu. Apakah karena bakat itu juga kelak bakal ada judul berita Spesialis Pencuri Salam Diringkus Polisi Setelah Mengantongi Rokok Tahlilan. Jika memang kelak ada judul berita semacam itu, saya jadi ingin mengingatkan lebih jauh, sebetulnya karena ada berita yang ‘asal goblek’ semacam itu atau memang asap rokok yang bikin manusia Indonesia semakin rendah kualitasnya dalam berbahasa?

 

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah