Barangkali hanya sedikit benda yang memicu perdebatan panjang seperti rokok. Di Indonesia, eksistensi rokok selalu dikelilingi oleh berbagai stigma. Hari ini disebut biang kemiskinan. Besok disebut pintu masuk narkoba. Label buruk demi label buruk terus disematkan secara sepihak. Sementara itu, industrinya justru terus menyumbang pemasukan besar bagi negara.
Perdebatan Halal Haram Rokok di Tengah Masyarakat
Di antara semua stigma, isu perdebatan halal haram rokok paling sensitif. Padahal, kita terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan keyakinan sehari-hari. Ada makanan yang diyakini haram oleh sebagian kelompok masyarakat. Namun, makanan itu menjadi favorit bagi kelompok masyarakat yang lain.
Ada yang beribadah dengan cara bersujud. Ada pula yang melipat tangannya. Perbedaan pandangan jelas bukan sesuatu yang baru di negara ini. Fenomena perbedaan serupa juga terlihat sangat jelas pada isu rokok.
Contohnya, organisasi keagamaan besar di Indonesia tidak memiliki pandangan sama. Muhammadiyah punya fatwa haram untuk rokok. Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan pendekatan hukum yang berbeda. Keduanya berangkat dari ajaran agama yang sama. Namun, mereka menghasilkan kesimpulan hukum yang tidak identik.
Menghargai Perbedaan Perdebatan Halal Haram Rokok
Fakta ini menunjukkan bahwa ruang perbedaan tafsir akan selalu ada. Karenanya, memaksakan satu pandangan sebagai kebenaran absolut rasanya tidak bijak. Hal itu seperti mengabaikan fakta masyarakat yang memiliki beragam perspektif.
Bagi kelompok yang mengharamkan rokok, hal tersebut sah-sah saja. Itu adalah hak kebebasan individu. Mereka boleh terus memegang keyakinannya secara teguh. Tentu saja tanpa harus melabeli buruk pandangan pihak lain.
Pun demikian bagi mereka yang menghalalkan konsumsi rokok harian. Keyakinannya bisa terus dipertahankan dengan baik. Namun, jangan memaksa orang lain berubah pikiran dan mulai mencoba rokok.
Tokoh Publik dan Panasnya Perdebatan Halal Haram Rokok
Perdebatan semacam ini sering mengemuka akibat ulah tokoh publik. Reaksi publik di media sosial biasanya akan langsung terbelah. Sebagian mendukung dan sebagian lagi menolak keras. Sementara itu, kelompok lain memilih untuk menanggapinya dengan santai.
Sebagai tokoh publik, mereka pasti punya pengaruh bagi pengikutnya. Kalau sudah berpendapat, pasti ada kelompok yang selalu mendukung. Meski demikian, tidak sedikit pula yang langsung menentangnya. Suasana menjadi gaduh dan publik terbelah. Perdebatan sengit pun menjadi tak terhindarkan.
Apalagi kini kita hidup murni di era media sosial. Potongan video atau kutipan singkat bisa berkembang jadi berita nasional. Banyak orang ikut menyebarkan pendapat pribadi. Ada yang kagum pada tokoh tertentu atau sekadar benci pihak lawan. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan isu ini demi hal lain. Salah satunya adalah untuk memuluskan kepentingan politik.
Hoaks dan Ironi dalam Perdebatan Halal Haram Rokok
Rokok termasuk objek yang paling sering mengalami fenomena hoaks ini. Pernah muncul isu bahwa filter rokok itu mengandung darah babi. Hal itu diklaim membuatnya otomatis menjadi haram. Di momen lain, beredar narasi tembakau berasal dari kencing iblis.
Sangat sulit menemukan asal-usul klaim absurd tersebut. Sayangnya, penyebarannya begitu cepat hingga banyak orang telanjur memercayainya. Uniknya, tidak sedikit tokoh agama besar yang terbukti merupakan perokok. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini sangatlah kompleks. Masalah ini tidak sesederhana membalikkan telapak tangan saja. Urusan perdebatan ini bukan sekadar soal hitam atau putih.
Ironisnya, industri hasil tembakau justru terus memberikan kontribusi besar. Mereka rutin menyumbang penerimaan negara melalui pungutan cukai. Dana tersebut digunakan pemerintah untuk membiayai berbagai kebutuhan publik. Termasuk mendanai subsidi sektor kesehatan melalui program BPJS Kesehatan.
Fasilitas itu dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil. Tidak peduli orang tersebut menghalalkan atau mengharamkan konsumsi rokok. Ini adalah fakta ironi yang jarang disorot dalam perdebatan umum.
Saling Menghormati Perdebatan Halal Haram Rokok
Pada akhirnya, setiap orang punya hak yang sepenuhnya setara. Mereka bebas untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing. Sekali lagi, letak permasalahannya ada pada pemaksaan keyakinan. Keyakinan pribadi privat tidak boleh dipaksa berlaku di ruang publik.
Dengan demikian, pilihan paling bijaksana adalah saling menghormati adanya perbedaan. Para perokok tidak perlu terseret jauh ke dalam perdebatan kusir. Tidak usah repot-repot menjadi advokat rokok dadakan. Sedangkan kelompok nonperokok pun tidak perlu repot menghakimi. Tak perlu kebelet menjadi hakim atas pilihan hidup orang lain.
Penulis: Aris Perdana
BACA JUGA: Aktivis, kok Anti Rokok! Sebuah Pertanyaan Mengapa Rokok Adalah Barang Haram



