Seringkali media massa memiliki kebiasaan yang ‘menjijikkan’, yakni menganggap bahwa rokok penyebab kebakaran. Meski hanya dugaan, tapi framming ini bisa menjadi asumsi bahwa perokok itu brengsek.
***
Ada satu kebiasaan media massa di Indonesia yang cukup menyebalkan: membuat headline bombastis, mengundang klik, tetapi isi beritanya tidak benar-benar mengonfirmasi headline. Salah satu yang sering jadi ‘tumbal’ dari kebiasaan ini adalah puntung rokok.
Sebagai contoh, kompas.com merilis berita berjudul “Rumah Kosong di Cirendeu Tangsel Terbakar, Api Diduga Dipicu Puntung Rokok“. Setelah saya baca, tak ada bagian dalam berita yang benar-benar menunjukkan keterkaitan rokok dengan peristiwa kebakaran.
“Apinya dari kecil, nah itu nggak tau dari mana, dari sampah atau gimana,” begitu kata narasumber dalam berita.
Aneh, tapi nyata. Narasumber sendiri mengatakan tidak tahu dari mana api berasal. Entah bagaimana, di meja redaksi, puntung rokok justru mendapat kehormatan jadi tokoh utama dalam judul berita.
Rokok penyebab kebakaran itu cuma framming
Sekilas nampak biasa saja. Dalam bahasa jurnalistik, kata “diduga” membuka ruang bagi kemungkinan. Sayangnya, dalam benak pembaca, headline sering kali bekerja sebagai kesimpulan. Sebagian pembaca tak menghiraukan kata “diduga”. Persoalannya bukan semata-mata soal puntung rokok, melainkan tentang bagaimana sebuah dugaan diperlakukan layaknya fakta.
Kasus di Tangsel ini bukan satu-satunya. Puntung rokok sudah berkali-kali jadi tersangka dalam headline berita kebakaran. Karena sudah terjadi berkali-kali, sulit untuk menganggapnya sekadar kebetulan. Lama-lama kita mulai melihat pola.
Semakin menyedihkan karena hal ini tak hanya muncul di media abal-abal. Hal serupa juga kerap ditemukan di media mainstream nasional. Silakan ketik “rokok kebakaran” di mesin pencarian. Daftar berita yang menjadikan puntung rokok sebagai ‘tersangka’ akan tersaji.
Di banyak kasus kebakaran yang belum jelas penyebabnya, puntung rokok seolah otomatis jadi kandidat tersangka. Kalau logikanya seperti itu, sekalian saja kita dorong ke titik paling absurd. Ribuan titik api di hutan Kalimantan itu juga akibat puntung rokok. Polisi tidak perlu sibuk penyelidikan. Wartawan tidak perlu repot investigasi. Tersangkanya sudah tersedia. Toh rokok juga tidak akan membela diri.
Bisa dipahami bahwa media membutuhkan judul yang menarik perhatian. Ada kecepatan, persaingan, dan algoritma. Ada banyak pembaca yang dalam hitungan detik sudah memutuskan mau mengklik atau melewatkannya.
Masalahnya, masih banyak pembaca yang hanya membaca judul, melihat foto, lalu merasa sudah memahami sebuah peristiwa. Di titik ini, judul bukan lagi sekadar pintu masuk menuju berita. Ia justru menjadi berita itu sendiri.
Rokok jadi kambing hitam atas dosa manusia
Kalau judul mengatakan penyebab kebakaran adalah puntung rokok, pembaca bisa berkesimpulan bahwa perokok memang brengsek. Apa yang tertanam bukan lagi sebuah dugaan, melainkan kesan bahwa rokok adalah biang kerok berbagai kebakaran.
Untuk urusan rokok, kecenderungan itu terasa semakin nyata. Rokok memang sudah punya reputasi sebagai tersangka langganan.
Ini bukan perkara membela rokok atau puntung rokok. Perilaku membuang puntung rokok sembarangan adalah kebiasaan buruk, tak ada pembelaan dari kebiasaan itu. Tapi, kebiasaan membentuk persepsi lewat headline yang sembarangan juga tak kalah buruknya.
Jika terus berulang, wajar saja kalau akhirnya banyak yang mempertanyakan apakah ini sekadar kebetulan, atau memang rokok begitu seksi untuk ditampilkan sebagai headline?
Disadari atau tidak, kebiasaan ini perlahan merusak. Bukan cuma soal kualitas berita, tapi juga kepercayaan pembaca pada media.
Sekali lagi, ini bukan soal membela rokok. Ini soal akal sehat. Jangan biarkan asumsi mendahului fakta.
Penulis: Aris Perdana
BACA JUGA: Kebakaran Akibat Rokok, Sebuah Tren Baru di Masyarakat
- Puntung Rokok, Kebakaran, dan Betapa Menyebalkannya Media Massa Kita - 31 Agustus 2026
- Rokok Ilegal: Razia Lagi, Razia Melulu, Razia Terus - 21 Agustus 2026
- Dari Perokok Untuk Perokok: Jalan Raya Bukan Asbak Raksasa - 4 Agustus 2026



