Bapak-bapak merokok
Opini

Berhenti Merokok Bisa Selamatkan Pasien Depresi?

Berhenti merokok bisa membuat kita kaya raya, mampu membeli rumah, hingga masuk surga karena sudah meninggalkan barang haram (rokok).

Merokok adalah aktivitas yang sudah pasti menimbulkan banyak kerugian, sementara berhenti dan meninggalkan rokok (berpotensi) membawa banyak manfaat. Pokoknya, bagi yang masih merokok, berhenti merokok sekarang juga.

Kira-kira begitu pesan yang direpetisi oleh kelompok antirokok.

Salah satu yang paling sering dikampanyekan ya itu tadi, kamu bisa beli rumah kalau berhenti merokok dan menabung. Meski faktanya banyak juga perokok yang kaya raya dan punya banyak rumah. Mau menabung ya menabung saja. Kalau soal masuk surga, sih, no comment.

Kemudian, berhenti merokok juga dikampanyekan sebagai terapi bagi para penderita depresi. Benarkah demikian?

Jadi begini. Antirokok, dalam sebuah artikel, mengklaim bahwa banyak penderita depresi atau gangguan kesehatan mental cenderung ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Dan, masih menurut antirokok, kebanyakan dari para penderita depresi adalah perokok.

Bagaimana faktanya?

Saya tidak bisa mengklaim dan membangun narasi untuk mendukung kampanye tertentu. Tapi, dari lingkungan sekitar saya bisa memastikan bahwa banyak dari para perokok justru menjadikan rokok sebagai medium relaksasi. Maksudnya, ketika penat, stres dan sedang galau, aktivitas merokok bisa dijadikan rekreasi sederhana untuk pemulihan. Itu fakta dari orang-orang terdekat saya.

Baca Juga:  Anak Merokok Karena Stres Menghadapi Pandemi, Benarkah?

Lagi pula, tidak semua orang depresi adalah perokok. Tidak semua orang depresi ingin bunuh diri. Jadi, mengampanyekan terapi berhenti merokok sebagai solusi terbaik mencegah kematian pasien depresi adalah sesuatu yang berlebihan.

Mayoritas publik meyakini bahwa yang paling dibutuhkan para penderita gangguan kesehatan mental adalah support system (dalam hal ini keluarga dan orang terdekat), obat penenang, dan para psikiater. Itu yang umumya diketahui orang.

Tapi, lagi-lagi, kelompok antirokok bukanlah orang-orang pada umumnya. Mereka adalah orang-orang khusus dengan keunikan dan sudut pandang khusus. Khusus soal rokok, ya gak ada baiknya. Titik.

Bagaimana mungkin rokok yang sudah turun-temurun dijadikan medium relaksasi tiba-tiba dinarasikan sebaliknya; jadi penyebab bunuh diri. Sungguh tidak bertanggung jawab.

Kebenaran memang perkara perspektif. Benar menurut kita bisa jadi kekeliruan bagi orang lain. Tapi, ada batasan logika sederhana yang rasanya tidak sulit dipahami oleh orang pada umumnya.

Seharusnya mudah bagi kita untuk memahami apa yang membuat orang menjadikan rokok sebagai pelarian. Ya, karena rokok dianggap memberi ketenangan. Silakan tanya ke perokok sekitar kalian, apa yang mereka rasakan setelah merokok. Paling dijawab jadi tenang. Kok ya bisa-bisanya dituduh jadi stimulan motivasi bunuh diri?

Baca Juga:  Aturan KTR Tangsel Mestinya Tak Menggunakan Logika Menggusur

Menjanjikan kekayaan dan surga saja sudah aneh. Sungguh kelompok antirokok itu orang-orang yang tidak umum.

Penulis di Komunitas Kretek