Narasi merokok menyebabkan candu telah menjadi hegemoni dan diamini oleh banyak orang, termasuk para perokok sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir secara rasional, persoalan merokok itu hanya persoalan kebiasaan saja. Tapi sejak rezim farmasi ingin menguasai pasar nikotin maka mereka membuat beraneka ragam cara agar rokok menjadi sesuatu yang candu.
Buku Perang Nikotin: Membunuh Denyut Ekonomi Kerakyatan memaparkan bagaimana merokok yang awalnya hanya sebagai kebiasaan saja, kemudian berubah menjadi candu. Rezim farmasi memberikan cap jahat kepada musuhnya: rokok.
Keterlibatan WHO dalam narasi rokok bikin candu
Hal itu bisa ditemukan dalam laporan Surgeon General di Amerika Serikat yang diterbitkan pada tahun 1964. Awalnya mereka hadir dalam konteks di mana merokok masih dianggap sebagai kebiasaan sosial yang lumrah. Namun, seiring dengan semakin kuatnya gerakan anti rokok yang mendapat dukungan pendanaan besar, laporan tersebut justru menjadi titik balik. Dalam laporan itu, Surgeon General akhirnya menyatakan bahwa rokok bukan sekadar kebiasaan, melainkan zat adiktif yang menyebabkan kecanduan dan membahayakan kesehatan.
Pernyataan ini menjadi semacam ‘menelan ludah sendiri’ karena sebelumnya rokok tidak diposisikan seburuk itu oleh otoritas kesehatan. Laporan ini kemudian memicu gelombang riset lanjutan di negara-negara maju dan memperkuat konsensus ilmiah bahwa rokok harus dikendalikan secara serius. Dalam konteks ini, WHO melihat peluang untuk memperluas mandatnya sebagai badan koordinasi kesehatan dunia. Dari situlah kemudian narasi rokok adalah candu telah menempel dalam benak masyarakat.
Padahal sudah betul kalau merokok itu hanya urusan kebiasaan saja. Saya kasih contoh begini, bagaimana masing-masing orang memiliki pola kebiasaan dalam merokok. Ada yang perlu merokok sehabis makan, ada juga yang tidak. Ada yang menghabiskan satu bungkus dalam sehari, tapi ada juga yang menghabiskan 1 bungkus dalam seminggu. Begitu seterusnya. Coba diamati para perokok di sekitar kalian. Sedikit-banyak di antara mereka berbeda-beda. Ya karena merokok itu kebiasaan.
Merokok itu cuma urusan kebiasaan, bukan candu
Saya sendiri merokok tergantung situasi dan kondisi. Kalau sering bertemu dengan kawan, alias nongkrong, bisa dikatakan saya akan cukup banyak menghabiskan rokok. Bahkan bisa dua bungkus dalam sehari. Tapi kalau sedang sendirian, kadang satu bungkus dalam sehari belum tentu habis. Lalu saya lazim menemukan berbagai teman yang merokoknya kadang-kadang. Maksudnya adalah selama berhari-hari dia tidak merokok tidak menjadi soal. Di momen-momen tertentu saja. Itu baru sebagian bukti saja ya mengenai rokok adalah urusan kebiasaan saja. Bukan candu.
Ada satu lagi bukti konkret yang menunjukan bahwa rokok bukan candu. Adalah ketika bulan suci Ramadan. Di bulan ini para perokok mampu menahan dirinya untuk tidak merokok selama lebih dari 12 jam. Dan apakah mereka kenapa-napa? Maksudnya kalau memang rokok candu, seharusnya ada efeknya ketika seseorang tidak menghisapnya. Tapi kan tidak. Mereka masih bisa beraktivitas sebagaimana biasanya ketika bulan Ramadan. Kalau agak lemes mungkin iya karena yang namanya puasa kan tidak boleh makan dan minum. Jadi berhenti mengatakan rokok adalah candu karena ini hanya urusan kebiasaan saja. Dan terakhir bilangin sama yang anti tembakau, nggak merokok ketika puasa itu nggak bikin sakau.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Kata Siapa Rokok Itu Candu? Saya Malah Lebih Sering Jajan daripada Merokok
- Ini Buktinya Kalau Merokok Itu Hanya Urusan Kebiasaan Saja, Bukan Candu - 19 February 2026
- Tokoh Muhammadiyah Prof. Malik Fadjar Pindah NU Gara-gara Rokok - 18 February 2026
- Ribuan Buruh akan Turun ke Jalan jika Rancangan Permenkes Disahkan - 10 February 2026



