Undang-undang melindungi aktivitas merokok secara legal, dan setiap orang memiliki kebebasan untuk merokok atau tidak. Namun, publik sering melontarkan narasi, “Percuma menasihati perokok, mereka tidak akan mendengar, bikin lelah saja.” Kalimat ini jelas menggeneralisasi dan menghakimi seseorang yang memilih untuk merokok.
Kita bisa melihat berbagai perbincangan di media sosial yang menyoroti perilaku perokok. Topiknya bermacam-macam, mulai dari keluh kesah perokok itu sendiri hingga kritikan tajam dari publik. Memang, tidak semua perokok bersikap santun. Ada juga perokok sulit dinasihati. Dan, banyak juga yang mengganggu kenyamanan orang lain. Misalnya, mereka merokok sambil berkendara, membuang puntung rokok sembarangan, merokok di toilet umum, atau mengepulkan asap di dekat ibu hamil dan anak kecil. Berbagai pelanggaran etika ini terjadi akibat rendahnya kesadaran individu, serta minimnya ketersediaan tempat merokok yang layak.
Sebagai seorang perokok, saya juga merasa resah ketika melihat seseorang merokok tanpa memperhatikan tempat dan lingkungan sekitarnya. Ketika menghadapi peristiwa semacam itu, saya biasanya langsung menegur mereka dengan sopan. Hasilnya, mereka tidak tersinggung atau marah-marah. Saya meyakini, selama kita mengomunikasikan teguran tersebut dengan cara yang baik, tidak akan ada pihak yang memicu keributan.
Nasihat Seperti Apa yang Pas untuk Perokok?
Pernyataan yang menyebut perokok sulit dinasihati sebenarnya cukup rancu. Kita harus mempertanyakan, nasihat seperti apa yang publik maksud? Apakah teguran karena mereka merokok tidak pada tempatnya, atau tuntutan agar mereka berhenti merokok secara total?
Merokok adalah sebuah pilihan pribadi. Ketika seseorang menasihati perokok untuk berhenti, kita patut mempertanyakan kepentingan orang tersebut dalam mengatur dan memaksa orang lain meninggalkan pilihan hidupnya.
Masyarakat rasanya tidak perlu memperdebatkan pilihan untuk merokok atau tidak merokok. Pilihan ini tidak menentukan apakah seseorang itu bermoral buruk atau baik; ini murni soal bagaimana kita saling menghargai jalan hidup masing-masing individu. Kita tidak bisa melihat dan mengartikan sebuah hal secara sempit layaknya warna hitam dan putih. Pemaknaannya harus jauh lebih luas dari itu.
Kita bisa menggunakan berbagai sudut pandang—lewat pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana—untuk menilai suatu kebiasaan. Pendekatan ini membantu kita menghindari bias dan mendorong kita bersikap lebih bijak. Setiap orang memiliki hak untuk merokok, dan keputusannya kembali pada individu tersebut apakah ia ingin mengambil hak itu atau tidak.
Mematahkan Mitos Perokok Sulit Dinasihati
Berbagai platform media sosial sering menyoroti perokok dari sudut pandang negatif. Ketika ada pihak yang mencoba membela, atau ketika perokok itu sendiri mencoba menyuarakan pendapatnya (speak up), komentar-komentar bernada menghakimi langsung bermunculan. Publik sering kali memperlakukan aktivitas merokok seolah-olah itu adalah perbuatan hina.
Lingkungan sekitar saya berisi banyak perokok, termasuk saya sendiri. Saya bahkan jarang bertemu teman atau orang baru yang sama sekali tidak merokok. Namun, dalam lingkup pertemanan terdekat, kami sudah sejak lama membangun kesadaran bersama untuk menjadi perokok santun. Kami aktif saling mengingatkan agar tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta melarang aktivitas merokok di dekat anak kecil, ibu hamil, maupun di toilet umum.
Kami membangun kesadaran tersebut atas dasar kenyamanan bersama. Saat kami sedang berkumpul di tempat umum yang mengizinkan aktivitas merokok, kami selalu mengelola limbah puntung rokok kami secara bertanggung jawab. Kami juga selalu memastikan arah asap rokok kami tidak mengganggu orang-orang di sekitar. Tujuannya sederhana: agar semua pihak merasa nyaman.
Suatu waktu, saya dan beberapa kawan berkumpul di sebuah ruang publik. Saat itu, kami menahan diri untuk tidak menyalakan rokok karena banyak anak kecil berlalu-lalang di dekat meja kami. Namun, di sudut lain, ada dua orang pengunjung yang asyik merokok.
Salah satu kawan saya berinisiatif menghampiri dan menegur mereka. Kawan saya menyampaikan teguran itu dengan santai dan sopan. Hasilnya, orang tersebut mengerti dan langsung mematikan rokoknya. Mereka tidak menolak sama sekali; bahkan, mereka dengan sukarela berpindah ke area lain yang lebih aman untuk merokok. Kejadian ini hanyalah satu dari banyak bukti bahwa perokok sangat bisa menerima masukan rasional.
Penutup: Menghargai Pilihan, Mengedepankan Komunikasi
Saya berani menegaskan bahwa menasihati perokok bukanlah hal yang sulit. Kuncinya terletak pada bentuk nasihat yang kita berikan dan cara kita membangun komunikasi. Jika kita menegur mereka untuk menjadi perokok santun, saya yakin mereka tidak akan mempermasalahkannya. Langkah ini justru sangat positif, dan saya percaya para perokok akan mau mendengarkan, asalkan kita menyampaikannya dalam suasana yang nyaman.
Sebaliknya, jika masyarakat memaksa perokok untuk berhenti sepenuhnya, mereka telah melampaui batas privasi seseorang. Merokok adalah hak; setiap orang bisa mengambilnya atau mengabaikannya. Hal terbaik yang bisa kita lakukan sebagai sesama manusia adalah saling menghargai pilihan masing-masing, sembari menuntut pertanggungjawaban etis dari setiap pilihan tersebut.
- Memangnya Betul Perokok Sulit Dinasihati? - 19 September 2026
- Tobeko Jogja: Surga Toko Tembakau Komplit Incaran Pelancong - 7 September 2026
- In Defense of Smokers: Melihat Kejanggalan Praktek Brutal Propaganda Anti Rokok - 12 Agustus 2026



