×

Kopi Pangku hingga Asap Kretek di Pantura, Potret Perjuangan Hidup yang Tak Bisa Disikapi Pakai Urusan Moral Belaka  

Dalam Artikel Ini

Kopi pangku, asap kretek, dan realitas hidup di Pantura Komunitas Kretek

Dalam Artikel Ini

Di antara moralitas dan realitas hidup yang keras, para perempuan yang jadi janda muda, korban kekerasan rumah tangga, atau ditinggal suami tanpa nafkah bertaruh nasib dengan di warung kopi pangku.

Obrolan tentang kopi pangku baru-baru ini diperbincangkan di jagat maya karena diangkat menjadi film oleh Reza Rahadian. Bukan soal desah yang jadi topik utama. Melainkan sosok ibu yang berjuang mencari nafkah untuk keluarga, tanpa sosok suami di sampingnya.

Dalam film Pangku maupun realitas kehidupan, warung-warung kopi pangku juga tidak menjual kesedihan. Air mata sudah kering oleh kerasnya hidup di Pantura. Kenyataan pahit yang sudah jadi makanan sehari-hari. Itulah yang ditemukan Reza Rahadian saat melakukan riset di pesisir pantai Indramayu, Jawa Barat.

“Waktu saya ngobrol sama mereka, gila, mereka enggak punya waktu buat mengeluh. Nggak ada momen di mana kayak, ‘ya namanya kita orang susah mas,’ Itu enggak ada kalimat itu. Mereka di situ kerja, yang penting bisa makan. Mereka punya anak dan anak harus makan. Kebetulan, suami nelayan, pulang sebulan sekali. Jadi kalau bisa kerja, kenapa nggak?” terang Reza dikutip dari Historia.id (7/11/2025).

Tak banyak pilihan mencari nafkah di Pantura. Kesampingkan dahulu  perdebatan moralitas jika negara tidak hadir di masyarakat. Warung kopi pangku, bagi sebagian orang, adalah ruang singgah dari lelah. Bagi sebagian lainnya menjadi sumber penghidupan.

Dan ketika semakin dalam melihat, kita akan melihat bahwa warung kopi pangku adalah bentuk nyata dari kegigihan perempuan pesisir bertahan hidup di tengah sempitnya ruang ekonomi.

Baca Juga:  Wajib Coba! 5 Rokok Murah Enak di Tahun 2023

Ruang hidup yang sudah lahir sejak masa penjajahan, hingga masa kemerdekaan. Dalam lampu remang dan kepulan uap kopi hitam yang bercampur asap kretek pelanggan–Pantura hidup dalam kesederhanaan, dan letih yang berkesudahan.

Kopi pangku, asap kretek, dan kepahitan hidup di Pantura

Kehidupan di Pantura diwarnai dengan berbagai pekerjaan, di antaranya; nelayan, petani, sopir truk, dan penjual warung kopi. Semua berasal dari kalangan ekonomi bawah.

Tidak banyak hiburan yang bisa dilakukan untuk sekadar mengusir lelah, kecuali dengan ngopi, ngebul sambil ditemani musik dangdut, atau sesekali goyang langsung bersama biduan.

Tidak dimungkiri kehidupan di Pantura acap kali dikutuk sebagai kemorosotan moral. Padahal, apabila dilihat dari sudut pandang pelanggan yang kebanyakan sopir truk, disadur dari artikel Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Nahdlatul Ulama Indramayu, “Para pengunjung, terutama sopir truk dan pekerja jalanan–datang bukan semata mencari sensasi. Di tengah lelah dan sepi perjalanan, mereka mencari percakapan, tawa ringan, atau sekadar kehangatan manusiawi. Dalam ruang yang dianggap “gelap” itulah, terkadang terselip sisi-sisi kemanusiaan yang jarang kita pahami.”

Begitu pula dengan para perempuan yang menjadikan tubuhnya sebagai infrastruktur sosial dan ekonomi di warung kopi pangku–juga tak punya banyak pilihan. Seperti halnya tokoh dalam film Pangku yang digarap Reza Rahadian.

Nama tokohnya Sartika. Saat pagi menjadi buruh tani, dan malam menjadi pelayan kopi di warung kopi pangku. Tokoh seperti Sartika itu bukan mitos. Ibu satu anak yang tak tahu siapa bapaknya itu memang ada dalam dunia nyata.

Baca Juga:  Tembakau dalam Hidup Saya

Kisah seperti Sartika tertulis dalam liputan Mojok.co  yang berjudul “Ibuku Penjual Kopi Pangku, Dicap Kotor dan Memalukan karena Layani Sopir Truk tapi Beri Kami Hidup”.

Demi menyekolahkan anak, ibunya rela menjual apa saja, termasuk tubuhnya. Lantas bagaimana kita menghakimi tanpa mau mengerti keadaan yang mereka alami!

Begitu pula dalam konteks rokok yang masif diidentikan dengan perilaku amoral, bejat, dan tidak bertanggungjawab. Rokok, khususnya kretek menjadi konsumsi andalan para nelayan, petani dan supir truk. Itulah hiburan paling murah mereka selain memakai jasa kopi pangku.

Dan di warung kopi pangku, pemilik juga biasanya menjual rokok kretek eceran supaya dapat penghasilan tambahan. Kombinasi mantap untuk dijadikan sebagai bahan makian bagi kaum moralis.

Bayangkan saja, stereotip buruk berlapis yang mereka dapatkan; merokok dan melakukan aktivitas sensual. Tapi justru dari sana, pendidikan anaknya diperjuangkan, karena tak ada pilihan lain yang bisa dilakukan.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang

BACA JUGA: Laki-laki Perlu Belajar dari Perempuan Soal Menjadi Perokok Santun