Menjadi sehat adalah dambaan semua manusia. Kita bisa bebas beraktivitas, berkumpul dengan keluarga, makan enak, bisa berpikir tenang dan bahagia. Beda ketika mereka terserang penyakit, semua menjadi serba terbatas. Sehat atau sakit berhubungan dengan aspek biologis, psikologis, dan sosio-kultural setiap manusia. Ketika sehat atau sakit pasti akan berpengaruh pada efektivitas manusia yang bersangkutan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya.

Konsep sehat berdasarkan kronologi sejarah, mengalami perubahan sesuai dengan pemahaman manusia. Berangkat dari pemahaman tentang nilai, peran, dan penghargaan atas kesehatannya sendiri. Persis seperti kebudayaan yang merupakan konsep di kepala manusia. Konsep sehat selalu berubah dari satu waktu, tempat dan kesejarahannya. Sehat adalah sebuah konsep yang sangat kultural dan tentu juga politis.

Di masa Yunani orang sehat merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Sedangkan orang sakit dianggap tidak bermanfaat dalam hidupnya. Pandangan tentang sakit pada masa itu, yaitu orang yang mengalami disfungsi atau cacat anggota tubuhnya. Semakin berkembang pengetahuan, kemudian ditemukan kuman dan virus sebagai penyebab penyakit dan adanya kepentingan politik ekonomi atas itu.

Konsep sehat pun berubah. Orang bisa dikatakan sehat setelah melewati pemeriksaan penyakit. Apabila diperiksa kemudian tidak ditemukan terjangkit kuman atau virus, maka dianggap sehat, begitu juga sebaliknya. Batasan sehat atau sakit bagi manusia semakin dikekalkan dengan indikasi apakah terjangkit kuman dan virus.

Siapa yang mempunyai otoritas untuk menentukan penyakit? Uniknya tidak sembarangan orang yang mempunyai wewenang menyatakan sehat dan sakit, penyakit dan bukan penyakit. Dan semua itu politis. Pastilah para ahli kesehatan modern yang telah melakukan penelitian dan memiliki pengetahuan tentang apa yang disebut penyakit. Mereka dipercaya bisa menentukan sehat atau sakitnya seseorang dengan pengetahuan yang dipercaya netral, obyektif dan tanpa kepentingan.

Pada masa itu muncul keyakinan untuk memerangi penyakit dengan melakukan pencegahan dan pemeriksaan. Entah orang-orang itu terlihat sehat ataupun sakit akan diperiksa untuk memastikan terjangkit kuman, virus atau tidak. Munculnya sistem kesehatan modern ditandai dengan ditemukannya beragam endemik penyakit. Sederhananya, pengetahuan kesehatan modern telah menemukan istilahistilah berbagai jenis penyakit, serta pencegahan dan pengobatannya.

Di Indonesia, pengetahuan kesehatan modern diperkenalkan oleh Belanda. Mereka mengirim obat-obatan dan ahli medisnya (dokter) ke Hindia Belanda. Pemerintah Kolonial Belanda merasa berkepentingan melakukan pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan bagi anggota militer dan pegawai sipil VOC (Vereegnide OostIndische Compagnie) dari serangan penyakit.

Orang-orang pribumi masa itu, tidak diperkenankan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter Belanda. Memang ada diskriminasi dalam memperlakukan orang pribumi dan non-pribumi. Di kalangan masyarakat pribumi masih mengandalkan pengetahuan tradisional berdasarkan pandangan budaya dalam memahami kesehatan.

Namun, lambat laun kolonial Belanda mulai membuka diri dengan memberi kesempatan pada elit pribumi untuk mengakses pelayanan kesehatan. Tentu hanya pribumi yang memiliki relasi (kepentingan) dengan Belanda, termasuk orang-orang Arab dan Tionghoa.

Seiring berjalannya waktu, pelayanan kesehatan mulai diperuntukkan pada buruh di perusahaan dan perkebunan milik Belanda. Mereka sadar bahwa buruh adalah investasi ekonomi untuk meningkatkan daya produksi perusahaan dan perkebunan. Buruh harus sehat agar semakin produktif bekerjanya sehingga bisa meningkatkan pendapatan.

Semakin masif kesadaran dan kebutuhan tentang pelayanan kesehatan. Kolonial Belanda membuat Dinas Kesehatan Militer (Militaire Geneeskundige Dienst), yang khusus mengurus kebutuhan dalam pelayanan kesehatan militer. Ada juga Dinas Kesehatan Sipil (Burgelijk Geneeskundige Dienst), untuk mengurus pelayanan kesehatan masyarakat.

Karena jangkauan wilayah jajahan semakin luas, kolonial Belanda mendirikan lagi Dinas Kesehatan Rakyat (Dienst der Volksgezondheid). Kemudian, Belanda juga membuat sekolah kedokteran (Dokter Djawa School untuk memperbanyak tenaga ahli di bidang pelayanan kesehatan. Lulusan sekolah kedokteran Belanda dikenal sebagai “Dokter Djawa.”

Sampai lahirlah STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) yang menggantikan Dokter Djawa School. Itulah sekilas sejarah munculnya sistem kesehatan modern di Indonesia. Sampai kolonial Belanda pergi dari Indonesia, sistem ini semakin mengakar sampai sekarang. Begitu pula dengan warisan pola pikir dan pemahaman tentang kesehatan yang juga ikut tertanam dalam diri masyarakat.

***

Begitulah masuknya proyek modernitas kesehatan mengakar di Indonesia. Modernitas lantas menjadi medusa pada segala hal yang dihayati dan dijalankan oleh subyek kolonial. Menjadi acuan dan ukuran atas segala hal. Termasuk dalam konsep sehat, penyakit dan penanganannya dari sejak masyarakat kolonial hingga sekarang. Begitu pula dengan konsep umur panjang dan bahagia.

Mereka yang Melampaui Waktu Modernitas diterjemahkan sebagai proyek yang membebaskan diri dari nilai-nilai dekaden, primitif, dan feodal warisan nenek moyang. Institusi publik untuk kesehatan, hukum, pendidikan dibangun Belanda semata untuk menyokong kekuasaan kolonial. Mereka menyebutnya sebagai politik etis atau balas budi. Namun, itu semua tak lebih untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah dan patuh.

Di tengah semakin sedikit dan susahnya mencari tenaga kolonial berkulit putih yang mau bekerja administrasi dan menjadi tentara bayaran di Hindia Belanda. Proyek-proyek modernitas itu menistakan pengetahuan serta pengalaman subyek kolonial terhadap berbagai konsepsi yang selama ini mereka hayati dan praktikkan.

Proyek modernitas menolak kepercayaan akan keseimbangan alam dan manusia. Mereka percaya bahwa pengalaman subyek kolonial sebagai hal yang irasional, tertinggal dan mengancam keselamatan. Agama dan pandangan hidup lokal telah lama menjadi acuan apa itu sehat, penyakit dan penangganannya, – seperti halnya apa itu panjang umur dan bahagia – tersungkur.

Sehat, penyakit dan penanganannya semenjak itu adalah otoritas modernitas. Tidak boleh yang lain. Pada permulaan abad 20, proyek intervensi kesehatan di Hindia Belanda mulai diperhitungkan oleh beberapa kalangan. Misionaris Kristen, para dermawan, organisasi kemasyarakatan dan Rockefeller Foundation mulai campur tangan dalam berbagai proyek kesehatan dan pendidikan pada masa itu.

Pejabat publik Hindia Belanda resah jika model-model pemaksaan dijalankan untuk memahamkan apa itu sehat dalam masyarakat modern. Mereka cenderung menerapkan cara-cara lama yang koersif, tapi tidak kentara (printah haloes). Berbagai pendidikan populer, penyuluhan, penyebaran pamflet masa kolonial menjadi proyek penuh gairah. Ada kepentingan ekonomi, politik dan penyeragaman di balik semua praktik itu. Semua untuk membangun dan menguatkan otoritas kolonial.

Para penganut modernitas kian percaya bahwa negara baru merdeka ini penting untuk membangun dan mempersiapkan pemerintahan sendiri. Diperlukan basis-basis sosio-ekonomi dan budaya dengan bantuan konsultan pembangunan, dana pembangunan, riset sosial dan sains, pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan, pelatihan dan sekolah di luar negeri.

Tercatat dalam sejarah, pada tahun 1950an, ramai-ramai pendonor dan peneliti asing hadir di Indonesia untuk mendanai dan meneliti segala aspek tentang masyarakat dan kebudayaan Indonesia. Tumpuan utama mereka adalah masalah kesehatan dan pendidikan. Ribuan orang-orang pintar dari republik yang baru merdeka ini berbondong-bondong dengan beasiswa pendonor dan rekomendasi peneliti asing.

Sebagian dari mereka kelak menjadi penganut modernitas yang saleh, yang menafikan pengetahuan, pengalaman dan praktik dari nenek moyang. Kini kepentingan kolonial untuk penyeragaman pemikiran, penumpukan ekonomi, status quo, ketidaksetaraan yang dulu diajarkan tuan kolonial, telah diambil alih oleh subyek-subyek kolonial itu sendiri.

Mereka, secara sadar dan tidak sadar, telah menjadi abdi sejati untuk menyuarakan hasrat para tuan kolonial. Modernitas berupa kesehatan, umur panjang, dan bahagia telah berhasil tidak hanya diterjemahkan, tetapi disesapkan ke berbagai pengetahuan yang sadar sebagai gaya hidup.

Tidak merokok, meminum kopi, rajin berolahraga, hidup material, individualisme, gemar menabung, sudah menjadi kebenaran baru. Maka tidaklah mengherankan di masa Indonesia kontemporer, merokok adalah tindakan subversif publik. Meminum kopi dan merokok sebagai bagian mengisi waktu luang pada masa lalu adalah dianggap sebagai hal yang harus dilawan, dihindari dan kalau bisa ditiadakan.

Dalam modernisasi kesehatan, semua itu hanya penyakit dan laknat bagi panjang umur dan produkvitas. Tidak akan pernah tua mereka yang merokok dan meminum kopi. Sepanjang buku akan dituturkan bahwa umur panjang, sehat, bahagia itu adalah sosial, kultural, dan tentu saja politis.

“Mereka yang melampaui waktu” di dalam dirinya sendiri dan relasinya dengan hal lain memiliki kejamakan suara dan anti monolitisme. Subyek-subyek dalam buku ini memberi pengetahuan, pengalamanan, dan praktiknya mengenai itu. Tafsir menjadi suatu hal yang selalu terbuka.

*Disadur dari pengantar buku Mereka Yang Melampaui Waktu. Ditulis oleh Sigit Budhi Setiawan dan Marlutfi Yoandinas, diterbitkan oleh Pustaka Sempu & INSISTPress, tahun 2013.