×

Kata Siapa Rokok Itu Candu? Saya Malah Lebih Sering Jajan daripada Merokok

Dalam Artikel Ini

rokok itu candu adalah pernyataan salah

Dalam Artikel Ini

Kalau ada yang bilang rokok itu candu yang susah dilepas, sorry to say, saya nggak bisa seratus persen setuju. Buktinya ada di kantong saya sendiri: satu bungkus rokok bisa awet sampai seminggu (dengan catatan nggak dipalak teman tongkrongan).

Buat saya, rokok itu bukan kebutuhan pokok layaknya kuota internet atau nasi Padang. Posisinya ada di urutan paling bawah dalam skala prioritas pengeluaran. Jadi, kalau ada yang bilang, “Mulut asem nih, gak ada rokok,” bagi saya itu cuma sugesti alias bullshit belaka.

Mulut asem? Bagi saya, solusinya ada banyak, contoh: beli jajanan.

Logika saya sederhana: mulut yang terasa “sepet” atau tidak enak itu tidak melulu karena kurang nikotin, tapi karena kurang rasa. Solusinya bukan membakar tembakau, melainkan memanjakan lidah dengan hal lain yang lebih nyata. Saya lebih memilih merogoh kantong untuk membeli camilan pedas, gorengan hangat, atau minuman manis daripada memaksakan diri membeli rokok.

Rokok itu candu adalah pernyataan yang salah, itu cuma kebisaan

Prinsip hidup saya sederhana: setiap uang yang saya miliki tidak harus beli rokok.

Di kantor, saya lebih dikenal sebagai bandar camilan daripada ahli hisap. Teman-teman kantor pun sudah hafal kebiasaan ini. Begitu saya masuk ruangan bawa kresek, pertanyaan standar mereka pasti, “Jajan opo meneh iki? (Jajan apa lagi ini?)”

Saking seringnya, saya jadi “kurator” camilan terpercaya di kantor. Bagi saya, kebahagiaan ngunyah gorengan atau cilok jauh lebih real daripada nikmatnya tembakau. Makanya, sebungkus rokok di tas saya bisa bertahan berhari-hari, sementara stok camilan bisa ludes dalam hitungan jam bahkan hitungan menit.

Baca Juga:  Produk Tembakau Alternatif Merebut Pasar Kretek?

Jujur saja, saya merasa agak miris melihat orang yang rela ngutang demi rokok tapi beras di rumah kosong. Menurut saya, itu namanya gagal paham prioritas. Logikanya, yang bikin kita hidup itu kalori, bukan nikotin.

Makanan adalah kebutuhan primer. Menurut saya, orang yang menukar kebutuhan primer demi asap adalah orang sedang menggali lubang masalahnya sendiri.

Saya sendiri masih menikmati rokok karena saya masih ingin menikmati nikmatnya nikotin yang ditawarkan dari rokok. Menurut saya, rokok juga bisa menjadi “bahan bakar” ketika sedang memikirkan ide kreatif untuk bekerja, maupun sekedar mencari ketenangan di sela-sela kepusingan terhadap pekerjaan.

Tapi saya bukan tipe orang yang menganggap merokok itu karena kecanduan, karena saya sendiri masih bisa produktif dengan tanpa adanya tembakau yang dibakar.

Buktinya, nongkrong nggak harus selalu ada rokok

“Nggak ada rokok, obrolan jadi garing.” Mitos ini bisa dikatakan salah besar.

Di lingkaran pertemanan saya, tidak ada rokok nggak pernah jadi masalah besar. Obrolan kami tetap jalan seperti biasanya, dari bahas konspirasi politik, debat agama, sampai mengenang aib masa lalu, semuanya tetap seru meski tanpa kepulan asap. Kopi dan camilan warung sudah cukup jadi bahan bakar diskusi.

Baca Juga:  Laki-laki Perlu Belajar dari Perempuan Soal Menjadi Perokok Santun

Bahkan, kami sering sengaja memilih cafe ber-AC yang jelas-jelas no smoking area. Kenapa? Karena kami lebih prioritaskan kenyamanan dan makanan enak daripada sekadar tempat buat merokok. Kami nggak mau ambil risiko diusir atau di-blacklist cuma gara-gara ngeyel mau merokok di ruangan ber-AC.

Ternyata, kami baik-baik saja, tuh. Tahan-tahan saja nggak merokok berjam-jam. Uang yang biasanya dipakai beli rokok (yang cuma tahan 1-2 hari) malah lebih worth it dipakai buat beli makanan enak di kafe.

Intinya, rokok itu cuma pelengkap, bukan pemeran utama. Ada syukur, nggak ada ya bisa melanjutkan topik percakapan.

 

Penulis: Aderifqi Dian Maulana

BACA JUGA: Pengalaman Saya Menurunkan Berat Badan Hingga 12kg Dengan Intermittent Fasting dan Kebiasaan Merokok