Ketika orang sedang pening, stres, gelisah atau butuh hiburan mereka memakai sarana rokok untuk menemani keadaan dirinya. Alias saya mau mengatakan bahwa merokok adalah bagian dari rekreasi yang masih sangat mudah terjangkau. Ada banyak pilihan jenis rokok. Misal yang lazim ditemukan dan legal adalah rokok kretek, rokok putih, atau bahkan rokok elektrik.
Saya tidak akan membandingkan risiko kesehatan dari masing-masing produk yang ada. Apalagi saya sudah paham bagaimana narasi kesehatan yang selama ini dikampanyekan. Tentu dengan memberikan label jahat kepada rokok adalah agenda rezim farmasi untuk menguasai pasar nikotin (baca: Nicotine War). Jadi saya tidak akan ke situ dulu.
Tapi dari ketiga pilihan yang saya sebutkan di atas, produk yang paling saya pilih secara sadar adalah memilih mengkonsumsi rokok kretek. Bukan karena saya anti dengan rokok putih atau rokok elektrik. Tidak sama sekali. Lha wong saya juga biasa saja ketika melihat orang mengkonsumsi dua rokok selain kretek itu. Saya juga sedang tidak mengajak orang untuk merokok. Karena merokok atau tidak itu adalah pilihan. Melainkan yang ingin sedang saya dudukan adalah kesadaran mengkonsumsi produk.
Alasan mengapa saya memilih kretek daripada rokok putih atau rokok elektrik
Saya mengkonsumsi kretek karena sadar betul bahwa rokok inilah yang menjadi anak kandung dari Indonesia. Rokok putih dan rokok elektrik bukan berasal dari Indonesia. Bukan hanya itu saja, tapi karena kretek lah roda ekonomi terus berjalan. Di situ ada penerimaan negara, ada jutaan lapangan pekerjaan yang hadir karena kretek—khususnya kretek tangan. Kontribusi Kretek yang merasuk dalam ekonomi, budaya, sejarah telah ada sejak lebih dari satu abad. Bahkan sampai sekarang orang yang menggantungkan hidupnya dari kretek tercatat ada 6 juta orang. Sedangkan 6 juta orang itu kalau memiliki keluarga sudah dua-tiga kali lipat yang turut menggantungkan hidupnya dari kretek.
Kesadaran itu kurang-lebih sama dengan kesadaran untuk membeli produk lokal atau memilih membeli barang di warung-warung terdekat, makan dari warung yg bahan-bahannya diproduksi oleh petani, nelayan, dan peternak indonesia.
Jadi bagi saya sendiri merokok kretek itu bukan urusan citarasa semata. Habis makan enaknya merokok kretek. Ngumpul sama teman-teman enaknya kretek. Tidak sebatas itu. Melainkan ini urusan ideologis. Dari merokok kretek inilah saya berarti memiliki kehendak bahwa bangsa ini sudah semestinya merdeka dan berdaulat. Bangsa yang merdeka dan berdaulat inilah yang kemudian bisa memiliki ekonomi secara berdikari. Tidak bergantung dan mengais-ngais kepada asing. Semoga teman-teman yang membaca tulisan ini juga memiliki kesadaran tentang mengkonsumsi produk dalam negeri.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Rokok Elektrik Tidak Bisa Kalahkan Nikmatnya Mengisap Kretek setelah Makan dan Saat Curhat



