Secara tidak langsung, anti rokok menganggap bahwa tembakau dan cengkeh adalah tanaman yang nista. Sebab darinya dipakai untuk bahan baku rokok kretek. Bahkan ada yang namanya Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati setiap 31 Mei. Dunia—termasuk Indonesia—merayakan itu.
Padahal dari tembakau dan cengkeh ini justru menyelamatkan bumi Indonesia dari eksploitasi. Saya tidak asal bicara. Sebab saya menyaksikan sendiri dan mempelajari bagaimana tembakau dan cengkeh menjadi benteng bagi masyarakat sekitar untuk menghindari industri ekstraktif yang dari dulu terus merongrong bumi Indonesia.
Cerita ini berangkat dari saya bersama kawan-kawan Komunitas Kretek melakukan ekspedisi menggunakan sepeda motor keliling daerah-daerah yang ada di Jawa. Saya keliling ke daerah-daerah seperti Temanggung, Boyolali, Klaten, Jember, dan Situbondo. Karena menggunakan sepeda motor, kami pun melewati dan singgah entah sebentar atau lama di daerah-daerah sekitaran itu.
Lanskap Pertanian Tembakau di Temanggung
Cerita pertama akan saya mulai tentang lanskap tembakau di Temanggung dan Boyolali. Salah dua sentra tembakau terpenting di Jawa Tengah. Keduanya bukan sekadar daerah penghasil tembakau, tetapi juga menjadi bagian hidup yang terus dipertahankan hingga sekarang.
Temanggung sendiri ada 3 gunung yang membentang menaungi daerah-daerah sekitarnya. Ada Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Saya bisa memastikan ketika kalian ke sini akan dibuat takjub oleh pemandangan yang begitu indah. Misalkan di Desa Legoksari, Kecamatan Ngadimulyo, Kabupaten Temanggung yang lokasinya berada di lereng Gunung Sumbing, di sini pagi hari ketika bangun tidur langsung bisa melihat sunrise. Begitu pun kalau menjelang petang, sunset juga bisa terlihat.
Saya bisa memastikan ketika kalian ke sini akan dibuat takjub oleh pemandangan yang begitu indah. Misalkan di Desa Legoksari, Kecamatan Ngadimulyo, Kabupaten Temanggung yang lokasinya berada di lereng Gunung Sumbing, di sini pagi hari ketika bangun tidur langsung bisa melihat sunrise. Begitu pun kalau menjelang petang, sunset juga bisa terlihat.
Lalu ke daerah lereng Sindoro, misalnya Desa Canggal, hal serupa juga bisa kita temukan. Hamparan hijau pertanian yang membentang dan berkelok-kelok bisa memanjakan mata. Bisa dipakai untuk melepas penat dari rutinitas bekerja terutama di kota-kota besar.
Keindahan alam itu sangat berpotensi untuk menarik bisnis pariwisata. Tapi warga sekitar dari dulu sampai sekarang masih terus mempertahankan dengan tanaman tembakau yang masih bisa untuk menyambung hidup mereka.
Tembakau di Boyolali Juga Menjadi “Penyelamat”
Hal serupa juga bisa kita temukan di Kecamatan Selo, Boyolali. Di sana ada dua Gunung yang menaungi: Merbabu dan Merapi. Saya bersama kawan-kawan melihat secara langsung bagaimana komoditas tembakau dipertahankan ketika musim kemarau.
Obrolan dengan para petani di ladang memperlihatkan satu hal yang jarang ditemui di profesi lain: keteguhan. Mereka bahkan berseloroh bahwa tidak ada istilah “resign” dalam hidup petani. Sejak usia belasan tahun sudah turun ke ladang, dan tetap bertahan hingga usia puluhan, bahkan delapan puluh tahun. Meski dihantam berbagai regulasi dan tekanan dari kelompok anti-rokok, mereka tetap setia menanam tembakau.
Dengan panorama alam yang indah, Selo sebenarnya punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata. Vila, penginapan, atau restoran bisa dengan mudah tumbuh di sana. Namun, masyarakat memilih jalan berbeda. Mereka tidak tergoda pembangunan wisata secara masif dan tetap menjadikan bertani sebagai prioritas utama.
Pak Parman, salah satu warga, menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat memang lebih memilih hidup sebagai petani. Tembakau, khususnya, punya tempat istimewa. Pada 2011, misalnya, hasil panen di Desa Surodadi begitu baik hingga banyak keluarga mampu membeli mobil—bahkan hampir setiap rumah memiliki satu. Bagi mereka, tembakau bukan hanya sumber penghasilan, tapi juga “penolong” kehidupan.
Kesadaran untuk mempertahankan lahan juga diperkuat oleh kesepakatan sosial. Warga enggan menjual tanah kepada orang luar. Bahkan ada aturan tidak tertulis: jika ada yang menjual, sebagian hasilnya harus dibagikan ke desa. Aturan ini secara efektif menahan laju alih kepemilikan lahan kepada orang luar kampung.
Dari sini terlihat jelas bahwa tembakau bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga benteng yang menjaga tanah tetap berada di tangan warga. Tanpa tembakau, sangat mungkin lahan-lahan di Selo telah berubah menjadi deretan villa dan bangunan wisata yang keuntungannya tidak lagi dinikmati masyarakat lokal.
Cengkeh di Maluku Utara Turut Menghalau Eksploitasi
Lalu kalau kita melihat lanskap pertanian cengkeh, situasinya tidak jauh berbeda. Di Maluku Utara, komoditas ini sudah sangat lama dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Sejak masa perdagangan rempah berabad-abad lalu, cengkeh dan pala bukan sekadar tanaman, melainkan fondasi ekonomi sekaligus identitas wilayah. Hingga hari ini, dua komoditas itu masih menjadi primadona di banyak daerah, terutama di Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya.
Padahal, jika dilihat dari potensi sumber daya alamnya, Maluku Utara adalah salah satu wilayah dengan cadangan tambang yang sangat besar, terutama nikel dan emas. Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 72 juta ton cadangan nikel, sekitar 52% cadangan dunia—dan Maluku Utara menjadi salah satu pusat terbesarnya dengan sekitar 19 juta ton cadangan nikel . Luas wilayah tambang nikel di provinsi ini saja mencapai lebih dari 156 ribu hektare. Angka-angka ini menjelaskan betapa kuatnya dorongan eksploitasi terhadap wilayah tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi tambang di Maluku Utara berlangsung sangat masif, terutama sejak kebijakan hilirisasi nikel digencarkan. Aktivitas ini memang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bahkan sempat menjadi yang tertinggi di Indonesia. Namun di saat yang sama menimbulkan paradoks sosial dan ekologis . Di banyak tempat, pertumbuhan itu tidak sebanding dengan kesejahteraan masyarakat lokal, dan justru diiringi oleh berbagai masalah lingkungan serta konflik agraria.
Dampaknya bukan hal yang abstrak. Di kawasan seperti Halmahera Tengah, ekspansi tambang menyebabkan alih fungsi lahan pertanian, hilangnya ruang hidup petani, hingga pencemaran lingkungan. Air laut tercemar limbah tambang, kualitas biota laut menurun, dan hasil tangkapan nelayan ikut berkurang . Bahkan, aktivitas industri nikel juga memanfaatkan wilayah pesisir sebagai jalur transportasi dan pembuangan limbah, yang berisiko merusak ekosistem laut dan mengganggu mata pencaharian masyarakat . Di daratan, pembukaan hutan untuk tambang memicu degradasi lingkungan: sungai menjadi keruh, udara tercemar, dan tutupan hutan menyusut.
Komoditas Cengkeh dan Pala di Maluku Utara
Di tengah tekanan sebesar itu, fakta bahwa masih ada wilayah-wilayah yang mempertahankan pertanian cengkeh dan pala menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga bentuk resistensi ekologis. Lahan-lahan yang ditanami cengkeh yang bersifat tanaman tahunan secara tidak langsung menjaga tutupan vegetasi, mempertahankan kesuburan tanah, dan mencegah perubahan lanskap secara drastis. Sementara pala dan cengkeh, yang ditanam dalam pola kebun campuran, menciptakan sistem agroforestri yang lebih stabil dibandingkan eksploitasi tambang yang bersifat ekstraktif dan sekali pakai.
Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dan pala di Maluku Utara bukan hanya soal komoditas, tetapi juga soal penyangga ekologi. Mereka menjaga agar sebagian wilayah tetap hidup sebagai ruang agraris, bukan sepenuhnya berubah menjadi ruang industri ekstraktif. Dalam konteks ini, pertanian rakyat berfungsi sebagai “rem” alami terhadap ekspansi tambang.
Seandainya tidak ada cengkeh dan pala atau jika kedua komoditas itu sejak awal ditinggalkan sangat mungkin lanskap Maluku Utara hari ini akan jauh lebih didominasi oleh pertambangan. Dengan tekanan pasar global terhadap nikel yang terus meningkat, ruang-ruang kosong hampir pasti akan diisi oleh konsesi industri. Artinya, bukan tidak mungkin sebagian besar wilayah yang kini masih hijau akan berubah menjadi kawasan tambang, dengan konsekuensi kerusakan ekologis yang jauh lebih luas.
Sehingga komoditas tembakau dan cengkeh, baik di Temanggung, Boyolali, hingga Maluku Utara ini turut menjadi penyelamat. Sebab, maruknya konglomerat tak sampai memikirkan bagaimana keberlanjutan tanaman-tanaman yang sebenarnya turut jadi penyumbang pajak terbesar ke negara—dalam bentuk kretek.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Lestarilah Tanaman Tembakau dan Cengkeh di Indonesia
- Antirokok Tutup Mata Bahwa Tembakau dan Cengkeh Telah Menyelamatkan Bumi Indonesia dari Eksploitasi - 23 April 2026
- Perjalanan Saya “Bertaruh Nyawa” di Lereng Sindoro demi Bertemu Petani Tembakau Temanggung yang Ditinggal Gudang Garam - 21 April 2026
- 7 Tradisi Petani Tembakau di Lamuk Legok Temanggung, Bukti Bahwa Tembakau Telah Melekat di Akar Budaya Masyarakat - 16 April 2026



