Press ESC to close

Dugaan Ngawur dari Menkes yang Bilang Kalau Rokok Bikin Indonesia Rugi Triliunan Rupiah

Pernyataan rokok bikin rugi triliunan rupiah adalah sesuatu yang keliru. Pernyataan ini bisa fatal dan mengajak masyarakat sesat dalam berpikir.

Baru-baru ini Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengeluarkan statement untuk  mengajak anak muda hindari rokok. Saya tidak tahu anak muda yang dimaksud adalah siapa. Kalau konteksnya adalah anak muda yang usianya di bawah 18 tahun saya sepakat. Usia itu memang belum diperbolehkan untuk merokok. Tapi kalau anak muda yang usianya sudah 18 tahun ke atas ya tidak masalah. Toh suka atau tidak suka merokok itu aktivitas yang masih diperbolehkan. Bukan ilegal.

Tapi lupakan itu. Yang pasti Menkes ini justru berbicara ngawur dengan mengatakan kalau Indonesia rugi triliunan rupiah lantaran banyaknya perokok aktif. Bahkan menurutnya, antara pemasukan yang didapat Bea Cukai dengan kerugian akibat merokok lebih besar kerugiannya.

Tentu faktor kerugian yang dimaksud adalah dalam konteks kesehatan. Karena menurut Menkes, rokok baik konvensional maupun elektrik adalah penyebab penyakit paru di Indonesia. Dari situ kita perlu skeptis. Apakah benar demikian. Tentu tidak, ya!

Pertama, kalau konteks rokok memberi pemasukan itu jelas benar adanya, ratusan triliun masuk kas negara setiap tahunnya dari sumbangan perokok dari cukai rokok. Itu benar adanya dan jelas datanya. Belum lagi data-data keuntungan dari penjualan ketengan, iklan, dan lain sebagainya belum masuk catatan. Intinya dari rokok perputaran ekonomi terjadi. Udah untung dapat banyak pemasukan dari cukai rokok, eh masih aja disalahkan terus. Tapi, apakah benar rokok bikin rugi?

Baca Juga:  Mengapa Kabupaten Berau Layak Dijadikan Contoh Penanganan Perda KTR?

Rokok Bukan Faktor Tunggal Penyebab Penyakit

Nah kalau kerugian dalam konteks kesehatan, apakah lebih besar? Tentu tidak juga. Mengingat rokok itu bukan faktor tunggal adanya suatu penyakit. Pasti ada faktor lain yang mendasari seseorang terkena penyakit. Seperti begadang, stres, konsumsi alkohol, faktor gen, dan lain-lain, dan lain-lain. Kenapa dibilang rokok menjadi faktor terkena penyakit dan meminta anak muda untuk meninggalkannya.

Coba dari mana data yang mengatakan kalau orang terkena penyakit itu karena rokok lalu dikalkulasi rokok menyebabkan kerugian? Apakah itu hanya sebatas perkiraan saja? Atau jangan-jangan para dokter ini kerap melakukan diagnosa yang ngawur?. Walau bukan perokok tapi kalau sakit lalu dikaitkan dengan rokok dengan dalih ia adalah perokok pasif. Ya kayak gitu saja terus sampai kalian terkena karmanya. Karena saya pernah mendapatkan insight bahwa salah satu karma terbesar adalah orang-orang yang bekerja di kesehatan.

Pun saya kira Menkes ini daripada melulu menghimbau masyarakat untuk berhenti merokok, apa tidak lebih baik pola hidup sehat seperti rajin berolahraga, menghindari junk food, alkohol, stres, dll. Kenapa hanya rokok yang disalahkan! Itu yang menjadi pertanyaan.

Baca Juga:  Berhenti Merokok Bisa Kapan Saja, Tak Harus Saat Pandemi

Ngomong-ngomong, saya tidak pernah ada ajakan untuk merokok, ya. Tulisan ini hanya membantah statement menkes yang ngawur itu. Karena logika sederhananya kalau memang rokok dari tahun ke tahun menyebabkan kerugian negara, bahkan lebih besar kerugian daripada pemasukan sepertinya tidak ada alasan untuk pemerintah tidak menutup pabrik rokok. Menjadikan rokok menjadi barang ilegal. Tapi kan sejauh ini pemerintah tidak pernah ada inisiatif untuk itu. Mereka hanya memeras, memalak rokok dari cukainya. Tanpa pernah membelanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *