×

Industri Rokok Dalam Konser Musik di Indonesia

Dalam Artikel Ini

Industri rokok dalam skena musik

Dalam Artikel Ini

Sebelum musik Indonesia direduksi menjadi grafik streaming dan algoritma media sosial, ia hidup dan bernafas lewat konser. Pada masa itu, pertunjukan langsung adalah jantung industri musik. Ruang tempat musisi bertemu massa. Tempat bunyi berubah menjadi peristiwa. Menggelegar. Penonton penuh suasana histeria. Di negeri ini, konser bukan sekadar hiburan, melainkan medium ekspresi sosial, perayaan kolektif, bahkan perlawanan kultural. Dari lapangan desa hingga stadion raksasa, sejarah musik Indonesia ditulis oleh kerumunan yang datang untuk menyaksikan musik dimainkan secara langsung.

Pada dekade 1970–1980-an, jauh sebelum industri musik mengenal sistem promotor modern, konser telah menjadi praktik lazim. Sebut saja grup band seperti God Bless, Giant Step, AKA, The Rollies, hingga band-band rock daerah berkeliling dari kota ke kota dengan perangkat seadanya. Di jalur musik rakyat, ada Rhoma Irama dan Soneta Group yang menjadikan konser dangdut sebagai panggung ideologis. Ia menghimpun massa dalam jumlah yang hari ini justru sulit dibayangkan tanpa sponsor besar. Kala itu, konser hidup dari gotong royong, dukungan lokal, dan sponsor komersial yang mulai melihat musik sebagai pintu masuk menuju khalayak luas.

Perubahan besar terjadi ketika konser musik memasuki era stadion pada akhir 1980-an dan 1990-an. Log Zhelebour muncul sebagai promotor yang berani berpikir besar. Lewat Java Musikindo, ia membawa band-band seperti God Bless, Slank, Jamrud, Boomerang, Roxx, hingga Edane berkeliling Indonesia. Stadion-stadion di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, hingga Makassar penuh sesak. Konser bukan lagi sekadar tontonan, tetapi peristiwa nasional.

Industri Rokok sebagai Penyangga Utama

Namun satu fakta sering sengaja dipinggirkan dalam narasi resmi industri musik: kejayaan konser stadion itu berdiri di atas dukungan industri rokok. Sponsor utama seperti Djarum memungkinkan konser berskala raksasa itu terjadi. Tanpa dana rokok, rasanya sulit membayangkan promotor membangun produksi panggung megah, sistem suara menggelegar, promosi luas, dan harga tiket yang masih bisa dijangkau publik kelas pekerja. Industri rokok tidak hanya menyuntikkan dana, tetapi juga penuh keberanian untuk mengambil risiko finansial di tengah ketidakpastian pasar.

 

Industri rokok dalam skena musik Yogyakarta
Grup Band FSTVLST saat beraksi di atas panggung Super Music Rock’in Noizzee di Stadion Kridosono Yogyakarta, Jumat, (23/3/2018). Super Music hingga kini masih mendanai konser konser music di berbagai daerah di Indonesia.(Foto: BM/Eko Susanto)

Memasuki era 2000-an, ketika regulasi iklan rokok mulai mempersempit ruang gerak promosi, industri rokok tidak serta-merta angkat kaki dari musik. Mereka beradaptasi. Djarum melalui Supermusic ID menjadi contoh paling konsisten bagaimana rokok tetap hadir sebagai penyokong ekosistem konser. Supermusic tidak hanya menghidupi band besar, tetapi juga membuka ruang bagi musisi lintas genre dan skena, dari pop, rock, punk, metal, hingga band-band indie.

Baca Juga:  Pengakuan Ketua YLKI: Ayah Saya Perokok Berat dan Tetap Sehat

Nama-nama seperti Slank, Superman Is Dead, Sheila On 7, Burgerkill, Navicula, Efek Rumah Kaca, hingga band-band lokal daerah tampil dalam konser-konser yang digelar dari kota besar hingga wilayah pinggiran. Di tengah minimnya sponsor non rokok yang berani turun ke lapangan, Supermusic justru membawa musik ke tempat-tempat yang jarang disentuh industri hiburan arus utama.

Rockin’ Noizee Yogyakarta

Salah satu penanda penting keterlibatan Djarum adalah konser Rockin’ Noize di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Disponsori Djarum, konser ini menampilkan Sheila On 7, Endank Soekamti, Shaggy Dog, dan Superman Is Dead, empat entitas dengan karakter musik dan basis massa yang berbeda. Ribuan penonton memadati stadion. Rockin’ Noize bukan sekadar konser, melainkan peristiwa kultural yang menjadikan Yogyakarta menjadi titik temu pop arus utama seperti punk rock, ska, dan rock alternatif dalam satu malam yang riuh. Tanpa sokongan industri rokok, konser dengan skala, keragaman, dan harga tiket terjangkau seperti ini nyaris mustahil terjadi.

Di sisi lain, Soundrenaline, yang digagas A Mild sejak 2002, menjadi bukti lain bagaimana industri rokok mampu membangun festival berkelanjutan. Band-band seperti Padi, Dewa 19, Slank, Jamrud, Burgerkill, hingga musisi internasional tampil di hadapan puluhan ribu penonton. Soundrenaline bukan hanya festival, melainkan ruang temu generasi, tempat musik rock Indonesia menemukan bentuk massalnya.

 

Super Music Rock’in Noizzee di Stadion Kridosono Yogyakarta.
Aksi panggung Jerink dari grup band asal Bali, Superman IS Dead di gelaran Super Music Rock’in Noizzee di Stadion Kridosono Yogyakarta.(Foto: BM/Eko Susanto)

Lalu muncul pertanyaan yang agak nakal, bisakah konser musik Indonesia tetap hidup tanpa sponsor industri rokok? Fakta lapangan menunjukkan gejala sebaliknya. Ketika ruang sponsor rokok dipersempit dan perusahaan non rokok enggan mengambil risiko pendanaan besar, konser berskala massif perlahan menghilang. Stadion-stadion sepi dari musik. Konser berpindah ke venue kecil, tiket mahal, dan hanya dapat diakses kelas menengah kota besar. Sehingga model konser keliling ala Log Zhelebour kini hanya tinggal nostalgia.

Selamat Tinggal JogjaRockarta

Di tengah dominasi konser-konser bersponsor rokok dengan skema industri yang mapan, Yogyakarta justru pernah menghadirkan sebuah anomali bernama JogjaRockarta. Festival ini tumbuh dari semangat komunitas dan jejaring skena lokal yang relatif berdiri di luar sokongan brand rokok besar. Jogjarockarta mampu menghimpun massa dan gaung nasional, membuktikan bahwa konser besar tanpa sponsor rokok memang mungkin terjadi. Namun justru di situlah letak anomalinya: ia bersifat sporadis, bertumpu pada militansi komunitas, dan sulit direplikasi secara berkelanjutan di kota-kota lain. Jogjarockarta menjadi pengecualian yang menegaskan aturan, bahwa tanpa modal besar dan dukungan jangka panjang, konser berskala massif cenderung hadir sebagai peristiwa sesaat, bukan ekosistem. Keberadaannya malah memperjelas betapa dominannya peran industri rokok dalam menjaga kontinuitas dan pemerataan konser musik di Indonesia. Dikutip dari Mojok.co, bahwa pada hari Jumat, 5 Desember 2025, di sebuah nongkrong klasik anak-anak Jogja, Legend Coffee, penyelenggara festival, Rajawali Indonesia, resmi mengumumkan bahwa Jogjarockarta 2025 akan menjadi edisi terakhir yang digelar.

Baca Juga:  Kecewa, Komunitas Kretek Undur Diri

Di sinilah regulasi perlu dibaca secara jujur. Pembatasan sponsor rokok sering diklaim sebagai upaya melindungi publik, tetapi jarang disertai skema pengganti yang nyata bagi ekosistem seni pertunjukan. Negara membatasi, sponsor lain tak kunjung datang, sementara musisi dan penonton menanggung dampaknya. Jika masa depan konser musik Indonesia ingin tetap hidup dan merata, maka pertanyaannya bukan sekadar soal boleh atau tidaknya rokok menjadi sponsor, melainkan siapa yang benar-benar berani membiayai kebudayaan secara konkret.

Sejarah telah mencatat, dalam perjalanan panjang konser musik Indonesia, industri rokok adalah penopang utama kemeriahan panggung-panggung besar. Ketika sponsor lain memilih aman dan menjauh, rokok justru hadir di tengah kerumunan. Tanpa industri rokok, konser musik Indonesia mungkin masih ada, tetapi kehilangan gemuruhnya, kehilangan daya jangkaunya, dan kehilangan watak populernya sebagai peristiwa budaya massal.

Penulis: Eko Susanto

BACA JUGA: Man Jasad: Antara Musik Metal dan Kretek, Antara Kretek dan Hajat Hidup Manusia