
Rokok Indonesia dalam Politik Global
Rokok Indonesia secara umum merupakan produk kretek yang memiliki aspek sejarah-budaya yang panjang. Dimulai dari ditemukan oleh Haji Djamhari pada abad 18 akhir sebagai pereda

Rokok Indonesia secara umum merupakan produk kretek yang memiliki aspek sejarah-budaya yang panjang. Dimulai dari ditemukan oleh Haji Djamhari pada abad 18 akhir sebagai pereda

Asap rokok seringkali dicap sebagai momok yang mencemari kualitas udara perkotaan. Meski sebetulnya ada sejumlah variabel lain yang harus pula menjadi perhatian para pihak terkait

Jakarta bebas rokok menjadi jargon yang akhir-akhir ini mencuat di berbagai pergunjingan. Jargon ini ditunjang melalui Seruan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengan dalih pembinaan

Kebijakan cukai di Indonesia kerap kali menimbulkan protes di masyarakat. Baik dari stakeholder pertembakauan, bahkan pula dari antirokok yang menempatkan rokok sebagai global enemy. Protes

Pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk menyelesaikan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 menjadi semacam alarm untuk mereka yang hidup dari kretek. Mengingat,

World Health Organization (WHO) telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Pada tanggal yang sama setiap

Banyak kalangan menjadikan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai alat untuk memainkan persoalan rokok dan kesehatan. Sejatinya, jika kita menilik persoalan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,

Salah satu slogan terbaik yang pernah ada di Indonesia adalah milik Pegadaian; menyelesaikan masalah tanpa masalah. Sebuah slogan yang memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia. Sementara,