×

Tokoh Muhammadiyah Prof. Malik Fadjar Pindah NU Gara-gara Rokok 

Salah satu tokoh muhammadiyah, Prof. Malik Fadjar, pindah NU karena rokok. Ini bukti bahwa meski beda pandangan soal rokok, tapi tetap akur.

Dalam Artikel Ini

Prof. Malik Fadjar

Dalam Artikel Ini

Di lingkungan Muhammadiyah, kebiasaan merokok sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan nilai organisasinya. Terutama sejak dikeluarkan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang menetapkan hukum merokok adalah haram berdasarkan Fatwa No. 6/SM/MTT/III/2010.

Tapi kalau kita mau buka-bukaan, meskipun sudah ada fatwa tentang haramnya rokok, tidak sedikit orang Muhammadiyah yang masih merokok. Bahkan ada salah satu tokoh dari Muhammadiyah yang masih tetap merokok, salah satunya adalah (Alm.) Prof. Malik Fadjar. 

Bagi yang belum tahu, Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. adalah tokoh cendekiawan Muhammadiyah terkemuka. Beliau juga menjadi “Guru Bangsa” dan pakar pendidikan Indonesia. Prof Malik Fadjar pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004), Menteri Agama (1998-1999), Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), serta pengurus PP Muhammadiyah (2000-2015).  Beliau wafat pada 7 September 2020. 

Prof. Malik Fadjar Pindah NU gara-gara rokok

Ada kisah jenaka yang kerap diceritakan tentang tokoh Muhammadiyah, (Alm.) Prof. Malik Fadjar, yang konon “berpindah” ke NU gara-gara rokok. Kisah ini sederhana, ringan, tapi menyimpan makna yang lebih dalam tentang relasi dua ormas Islam terbesar di Indonesia: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Suatu ketika, di sebuah bandara di Jakarta, Prof. Malik bertemu sahabatnya dari NU, KH Hasyim Muzadi. Keduanya sama-sama hendak kembali ke Malang. Pertemuan itu hangat, sebagaimana lazimnya dua tokoh yang sudah lama saling mengenal dan menghormati.

Baca Juga:  97% Pekerja IHT Jatim Perempuan, Tidak Cuma Soal Kesetaraan Gender

Saat itu, Kiai Hasyim mendapati Prof. Malik sedang mengisap rokok. Dengan nada setengah bercanda, setengah heran, ia menegur,  “Lho, sampean Muhammadiyah kok merokok?”

Alih-alih tersinggung, Prof. Malik menjawab dengan santai dan penuh seloroh, “Ini saya sedang pindah ke NU.”

Jawaban itu tentu membuat suasana makin cair. Kiai Hasyim, yang juga dikenal humoris, ikut menimpali, “Kalau rokoknya sudah habis, bagaimana?”

Dengan enteng Prof. Malik menjawab, “Ya pindah Muhammadiyah lagi.”

Tawa pun pecah. Percakapan singkat itu menjadi cerita humor yang kemudian terus dikenang sampai sekarang. 

Tidak sekedar rokok

Sekilas cerita di atas seolah hanyalah urusan rokok saja.  Tapi kalau kita mau lebih dalam lagi memaknai ada kelapangan hati dan kedewasaan para tokohnya. Di tengah perbedaan pandangan antara NU dan Muhammadiyah dalam urusan rokok ada kehangatan dari para tokohnya. 

Kisah ini juga menggambarkan bagaimana hubungan Muhammadiyah dan NU pada level elite sering kali jauh dari ketegangan yang dibayangkan orang luar. Di akar rumput mungkin ada perbedaan gaya, kultur, dan penekanan dakwah. Muhammadiyah dikenal dengan semangat purifikasi dan pembaruan, sementara NU kuat dengan tradisi pesantren dan kearifan lokal. Namun para tokohnya menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjaga jarak.

Baca Juga:  Menghitung Harga Rokok dan Pungutan Negara Pasca Kenaikan Cukai

Rokok dalam cerita ini hanyalah pemantik humor. Yang lebih penting adalah pesan implisitnya: identitas keagamaan tidak seharusnya membuat orang kaku dan kehilangan kehangatan. Prof. Malik dan Kiai Hasyim memberi teladan bahwa perbedaan bisa dibungkus dengan canda, tanpa perlu saling menyudutkan.

Hal itu bisa menjadi simbol kedewasaan berorganisasi. Bahwa menjadi Muhammadiyah atau NU bukanlah soal garis pemisah yang kaku, melainkan bagian dari spektrum besar Islam Indonesia yang kaya warna. Dan kadang, sebatang rokok pun justru bisa menjadi jembatan tawa di antara dua kawan lama.

 

Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: Kenapa Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Berbeda Pandangan soal Rokok?