Saya kenal The Jeblogs kira-kira 3 tahun yang lalu. Lagu yang mengantarkan saya mengenal mereka adalah Sambutlah. Lagu itu yang kemudian membuat saya menyukai lagu-lagu lainnya seperti Atas Nama dan nyaris semua lagu dalam album Sambutlah turut saya sukai. Lagu-lagu mereka kerap saya putar di berbagai kesempatan. Waktu nongkrong, kerja, dan lain sebagainya.
The Jeblogs barangkali mampu menaikan pamor Klaten. Bagaimana tidak, Klaten yang selama ini kerap diabaikan karena kalah saing dengan Jogja dan Solo, melalui The Jeblogs banyak orang jadi tahu. Bahkan ada guyonan beredar bahwa Klaten kini tidak hanya terkenal akan “Soto Ayam Pak Min”-nya, melainkan juga terkenal karena The Jeblogs. Apalagi band ini berangkat dan tumbuh dari Karang Taruna yang ada di salah desa yang ada di Klaten. Desa Jeblog namanya.
Semakin hari The Jeblogs terus dikenal oleh banyak orang. Panggung lokal, nasional bahkan luar negeri turut mereka jajaki. Berbagai karya terus konsisten mereka terbitkan. Mereka seolah membawa spirit Klaten: Bersinar. Tak mau redup.
Rilisan MV The Jeblogs yang menuai kontroversi
Dari yang saya amati, belakangan mereka sedang rajin-rajinnya memproduksi music video ke dalam platform Youtube. Karya itu tentu saja disambut baik oleh para penikmatnya. Tapi kemudian ada fenomena bahwa The Jeblogs merilis MV Sebat Dulu. Bukannya disambut dengan baik, justru tidak sedikit orang mengkritik bahkan menghina Music Video yang mereka buat.
Lantarannya adalah karena Music Video yang The Jeblogs buat menampilkan Febrianto Prima (gitaris The Jeblogs) sebagai talent yang merokok sambil naik wahana kora-kora. Saat mereka memberi kabar akan merilis MV itu ke Youtube melalui platform Twitter atau X, netizen banyak yang mengkritik bahkan mencibirnya.
Saya cukup mewajarkan platform X ini karena memang sudah sejak lama kalau menyangkut perkara rokok, platform ini selalu riuh. Saya pun pernah sampai kena doxing gara-gara berbagi pendapat mengenai rokok di platform ini. Komentarnya pun kejam-kejam.
Bahkan kalau mau membandingkan dengan MV yang lain. Banyak juga kok yang jauh lebih tidak sesuai standar moral atau etiket sebagian masyarakat Indonesia. Tapi saya bilang begitu bukan berarti MV The Jeblogs ini turut saya benarkan.
Etiket perokok santun
Merokok itu harus tahu tempat. Tidak bisa asal-asalan karena bisa jadi ada orang lain yang turut sensitif dengan asap rokok. Apalagi kalau konteksnya di kora-kora sudah pasti bara dan abunya akan terbang ke mana-mana yang sangat mungkin membahayakan orang lain. Jadi, sebagai grup band yang namanya sudah melambung, The Jeblogs harusnya paham etiket perokok santun.
Sebagai perokok semestinya kita menjadi perokok santun dengan tidak merokok di dekat anak kecil dan ibu hamil, tidak merokok saat berkendara, serta tidak merokok di area yang dilarang merokok. Ini adalah etiket (bukan etika) para perokok.
Tapi yang turut saya sayangkan juga netizen ini tidak fokus pada etiket perokok yang dilakukan The Jeblogs. Tidak sedikit komentar yang sifatnya merendahkan bahkan menghina karya dan bandnya. Sungguh, saya kadang miris melihat masyarakat Twitter yang seperti itu.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Kenapa Kita Mesti Menjadi Perokok Santun?



