Ketika Kopi Ikut Dimusuhi Anti Rokok

Ketika Kopi Ikut Dimusuhi Anti Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ada-ada saja memang kelakuan anti rokok. Tidak puas menyerang rokok, teman-teman rokok pun ikut dicitrakan buruk. Isu buruk tentang rokok sudah kepalang banyak dikampanyekan, kini kopi juga disebut berbahaya. Mereka lantas menyimpulkan bahwa kolaborasi antara rokok dengan kopi adalah komposisi paripurna menuju penyakit jantung paling berbahaya dan bahkan berujung kematian.

Kalau kita lihat polanya, kelakuan mereka mirip dengan karakter remaja menye-menye melankolis. Kalau sudah gak suka sasma seseorang, remaja menye-menye ini akan turut membenci orang-orang di lingkarannya. Jangan tanya apa alasannya, pokoknya teman dari musuhku adalah musuhku juga. Kira-kira begitu.

Kembali menyoal rokok dan kopi. Ada beberapa artikel yang memuat hasil penelitian ahli gizi yang entah siapa namanya. Dalam artikel disebut bahwa kopi, pada titik tertentu, dapat menurunkan kepadatan tulang. Sedangkan rokok mereka klaim dapat merusak sistem saraf pusat, kadar gula darah meningkat, pembuluh darah menyusut dan arteri semakin rusak.

Ahli gizi yang entah siapa namanya tersebut menjelaskan bahwa kopi melembapkan tubuh, dan jika dikombinasikan dengan rokok, itu akan meningkatkan keasaman dan merusak lambung. Kerusakan lambung kemudian akan memberikan beban berlebih pada jantung hingga jantung melemah akibat kejahatan rokok dan minuman kafein. Begitulah narasi yang mereka bangun.

Baca Juga:  Semangat Piala Dunia dan Bungkus Rokok Edisi Spesial

Saya bisa saja bikin narasi serupa, tapi buat apa? Misal saya bilang: kandungan kafein dalam kopi bisa menghidupkan hormon antimerem, lalu kandungan nikotin dari rokok mampu mengumpulkan senyawa-senyawa antilemes dalam tubuh yang apabila bertemu dengan hormon antimerem akan meningkatkan kapasitas otak kanan hingga kerja-kerja otak yang semakin meningkat secara otomatis akan memudahkan kerja organ tubuh lain seperti jantung dan ginjal, kamu mau percaya?

Saya bukan ahli gizi, tapi, saya agak risih buat percaya sama narasi yang tendensius ala anti rokok. Yang saya tahu, rokok itu bikin rileks, ngopi itu bikin fokus. Ngerokok sambil ngopi bikin rileks dan fokus. Sudah. Gak perlu panjang kali lebar.

Masalah selanjutnya, kalau kopi disebut berbahaya, waah, bisa lahir puisi dari para pecinta kopi yang terkenal filosofis. Bagi mereka kopi bukan sekadar minuman, tapi sebuah penghayatan. Menyeduh minuman hitam pekat tersebut merupakan sebuah proses yang tak sembarangan. Masing-masing orang punya porsi atau bahkan racikan masing-masing. Karena itu, keberadaan kopi begitu hidup. Sebab, penuh filosofi dan perjalanan.

Baca Juga:  Sandiaga Uno dan Janji-janji Mulianya Tentang Tembakau

Pun demikian halnya dengan rokok dan perokok. Perokok menolak anggapan bahwa rokok hanya berkaitan dengan kesehatan jasmani saja. Bagi perokok, kesehatan jiwa juga hal yang punya proporsi penting. Anti rokok hanya berkutat menuduh rokok menyebabkan penyakit jasmani, di sisi lain para perokok semakin sehat jiwanya. Jiwa sehat inilah yang menjadi rahasia kecerdasan kaum perokok.

Tanpa perlu ditakut-takuti penelitian yang absurd, seorang perokok yang gemar ngopi akan bijak memaknai hidup sebagai sebuah proses menuju kematian.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd