Menuduh rokok sebagai penyebab utama kematian adalah bentuk upaya menutupi faktor besar yang justru jarang dibahas, yakni polusi udara. Kubu antirokok hanya sibuk membenci rokok.
Hasil studi WHO mengenai kanker dan polusi udara
Badan Riset Kanker Internasional (International Agency for Research on Cancer, IARC) di bawah WHO merilis data melalui Global Cancer Observatory (Globocan) 2022, yang dipublikasikan pada 2024.
Dari rilis data tersebut disebutkan faktor utama yang diidentifikasi adalah polusi udara luar ruangan (PM2.5), yang menyebabkan peradangan paru dan memicu mutasi penyebab kanker. Selain itu, mutasi genetik seperti EGFR lebih sering ditemukan pada perempuan non-perokok.
Lalu apa sih sebenernya polusi udara yang mengandung partikel PM2.5? Polusi PM2.5 itu dihasilkan dari kendaraan bermotor, pembakaran industri, pembangkit listrik batu bara, hingga pembakaran sampah.
IARC mencatat peningkatan kasus kanker paru pada non-perokok, terutama pada perempuan dan populasi muda. Kesimpulannya, 10-20% diagnosis kanker paru terbaru terjadi pada non-perokok.
Bahkan masih menurut WHO, Di masa depan, jumlah kematian akibat kanker paru-paru yang disebabkan oleh polusi udara dapat meningkat di negara-negara seperti India, yang saat ini memiliki tingkat polusi udara tertinggi di dunia,
Kendati demikian, WHO tetap menyalahkan rokok sebagai penyebab utama, tanpa ada penjelasan konkrit seperti polusi udara.
Ini perlu menjadi kritikan bersama, karena bias kebencian terhadap rokok akan menyebabkan perhatian utama soal polusi udara teralihkan demi agenda politis farmasi yang antitembakau.
Padahal, data terbaru (2025) menunjukkan kanker paru-paru merupakan jenis kanker terbanyak di dunia (2,5 juta kasus baru pada 2022), dan sekitar 200.000 kasus adenokarsinoma–sebuah kanker paru-paru yang menjangkit non-perokok di tahun 2022 dikaitkan dengan polusi udara.
Hasil studi TRACERx memperkuat hubungan polusi udara dengan kanker
TRACERx Lung Study yang diterbitkan di Jurnal Nature pada tahun 2022 (berbasis di London, Inggris) adalah penelitian penting yang menelusuri evolusi kanker paru-paru.
Temuan kunci dari studi ini adalah hubungan signifikan antara polusi udara, khususnya partikel halus PM2.5, dengan perkembangan kanker paru, terutama pada non-perokok.
Dalam jurnal tersebut mengemukakan bahwa paparan partikel polusi udara, terutama PM2.5 dapat memicu peradangan kronis di paru-paru yang menyebabkan mutasi genetik penyebab kanker. PM2.5.
Studi TRACERx menegaskan bahwa paparan PM2.5 adalah salah satu pendorong utama kanker paru-paru, terutama di wilayah dengan polusi udara tinggi seperti Asia Timur, misalnya negara China.
Ratusan kematian
Studi GBD melaporkan bahwa di tahun 2019 ada sekitar 307.680 kematian akibat kanker paru-paru yang diatribusikan langsung pada paparan PM2.5.
Begitu pula dalam artikel di The Journal of Thoracic Oncology menyebutkan sekitar 265.267 kematian kanker paru terkait PM2.5 pada tahun 2018, mendukung kisaran rata‑rata ~300 ribu per tahun.
Ironisnya, kenapa selalu rokok yang disalahkan. Padahal, baik WHO maupun jurnal Nature melalui studi TRACERx Lung Study (2022) dan sumber lainnya mengakui, banyak penderita kanker paru-paru ternyata adalah orang yang tidak pernah merokok sama sekali.
Studi bantahan terhadap rokok sebagai penyebab kanker
Aisling Irwin, dalam artikelnya “Study cast doubt on heart ‘risk factors”, mengungkapkan bahwa studi kardiologi yang paling besar dilakukan telah menemukan hasil bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara serangan kanker, jantung dengan faktor-faktor risiko seperti merokok.
Seorang peneliti senior lainnya, Levy Marimont Colby turut mengkritik atas penelitian-penelitian badan kesehatan yang menyudutkan rokok sebagai permasalahan tunggal dalam kesehatan. Menurutnya, hasil penelitian yang menyudutkan rokok tersebut semata-mata berdasarkan pada junk science yang tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Meskipun sudah ada penelitian bantahan yang tentu saja menggugurkan penelitian sebelumnya, tapi tetap saja isu rokok versus kesehatan terus digencarkan secara membabi-buta.
Hubungan antara polusi udara dan kanker paru-paru bukanlah hal baru. Dalam sebuah studi pionir yang menghubungkan merokok dengan kanker paru-paru pada 1950.
Para penulisnya justru menyarankan polutan luar ruangan dari pembakaran bahan bakar fosil sebagai penyebab potensial. Namun, kebijakan hingga saat ini hampir sepenuhnya berfokus pada pengendalian tembakau. 75 tahun kemudian, polusi udara akhirnya menjadi sorotan.
Dengan demikian, meskipun Anda tidak merokok, dan sekitar Anda tidak ada yang merokok tetapi tinggal di daerah yang penuh dengan asap kendaraan bermotor, pembakaran industri, pembangkit listrik batu bara, hingga pembakaran sampah, maka kanker paru-paru bisa saja menghinggapi.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang
BACA JUGA: “Merokok Mempercepat Kematian,” Ucap Orang yang Tak Mampu Berpikir Jauh dan Adil
- Ibu Minah, Penjual Sayur Keliling Ketiban Rezeki Noplok: Menang Undian Mobil dari Pihak Djarum Selepas Mengikuti Jalan Santai HUT Temanggung 191 - 26 November 2025
- Rokok yang Dihisap Hadi (Fedi Nuril) dalam Film “Pangku” dan Jangan Ditiru! - 15 November 2025
- Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional - 10 November 2025



