Terombang-ambing di Tambeng, Lalu “Ditampung” Besuki Membaca

Dalam Artikel Ini

Proses melipat tembakau Tambeng Komunitas Kretek

Dalam Artikel Ini

Catatan Ekspedisi Emas Hijau Jilid II: Terombang-ambing di Tambeng, lalu “terdampar” di Besuki Membaca

22 Juli 2025, saya berkesempatan melihat Pak Rinda melakukan proses terciptanya tembakau Tambeng. Mulai dari melipat tembakau setelah beres dijemur, lalu dilipat menjadi persegi panjang. Hasil lipatan itu bisa untuk tiga hal, pertama dijual, kedua konsumsi, ketiga disimpan supaya jadi tembakau lawas.

Pak Rinda sendiri adalah saudara Cak Salman sekaligus tetangga Cak Maat. Di halaman rumah Pak Rinda, saya ditemani Cak Salman yang menjelaskan, sekaligus menerjemahkan omongan Pak Rinda. Pasalnya, masyarakat Dusun Tambeng, mayoritas tidak bisa berbahasa Indonesia.

Di balik harga mahal tembakau Tambeng

Kebetulan, tetangga sekitar Pak Rinda sedang melakukan proses melipat tembakau. Dalam bahasa Madura, tembakau yang diambil dari rigen bambu (wadah jemur tembakau), disebut nolong. Lalu proses melipatnya disebut pelekot. 

Dari penuturan Pak Rinda, tidak ada hal istimewa dari proses pasca panen tembakau Tambeng. Ia juga mengatakan hal serupa dengan Cak Salman dan Maat. Faktor kenikmatan tembakau Tambeng itu dua faktor: embun dan geografis..

Pak Rinda menjelaskan bahwa harga termahal tembakau Tambeng bisa mencapai Rp500 ribu-Rp800 ribu perkilo. Itu pun tembakau lawas. Bukan yang baru panen. Kalau yang baru panen, sekilonya berada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp300 ribuan. Tergantung daun mana yang dipanen. Yang paling mahal itu bagian daun atas. Masyarakat setempat menyebutnya daun dada sampai kepala.

Sementara, di pasaran tembakau Tambeng bisa mencapai Rp1,5 juta perkilonya. Ternyata, harga fantastisnya itu karena sudah berpindah tangan, bukan harga yang dipatok oleh petani. Berbeda dengan tembakau Srintil dari Temanggung, yang memang sudah mahal dari petaninya.

Masyarakat Dusun Tambeng menjual tembakaunya ke pedagang atau tengkulak. Mereka tidak mengirim ke gudang pabrik rokok. Hal ini pun menjelaskan, ketika petani tembakau di Temanggung mengalami kerugian karena tidak dibeli Gudang Garam, masyarakat Dusun Tambeng tidak khawatir soal itu, karena memang beda tempat penjualan.

Baca Juga:  Review Rokok Neslite Menthol, Rasa Boleh Diadu!

Berjejaring dengan Besuki Membaca

Malam mulai larut, dan kami berharap bisa tinggal di rumah petani. Karena dari kantor kami diminta menginap dan mencatat kehidupan petani dari mulai bangun tidur, ikut kegiatannya, sampai istirahat kembali. Itulah sebabnya, kami ingin bertemu dengan Pak Kades untuk menjelaskan hal tersebut. Dan memang oleh Cak Eeng, selaku pengawal di Besuki, menitipkannya ke sana.

Namun, sampai kami puas memotret dan berbincang dengan Cak Maat, Cak Salman, dan Pak Rinda. Kabar mengenai Pak Kades dari Pak Rawi masih belum ada. Seharusnya malam itu kami bertemu dengan Pak Kades, supaya bisa  tidur di rumah petani.

Dari situ, saya dan Angga langsung bertolak ke Besuki untuk mencari tempat istirahat. Cak Eeng menyambungkan kami dengan Mas Arif, insiator Besuki Membaca. Tanpa menunggu lama, Mas Arif langsung memberikan alamatnya. Kami pun berangkat. Hanya saja, Mas Arif sedang di luar, jadi kami baru bisa bertemu esok harinya.

Besuki Tempoe Doeloe

Rabu, 23 Juli 2025, pukul 00.30 WIB, kami menginap di Besuki Tempo Doeloe. Sebuah cafe dengan gaya khas bangunan Belanda. Kebetulan ada penginapannya. Dahulu, ketika masa kolonial, Kecamatan Besuki justru menjadi pusat perekonomiannya. Karena berbentuk Karesidenan. Jauh sebelum Kabupaten Situbondo lahir.

Awalnya, saya kira akan menginap di sekretariat Besuki Membaca. Namun, ternyata Besuki Membaca tidak mempunyai sekretariat. Besuki Tempo Doeloe adalah tempat Mas Arif bekerja. Pagi, pukul 08.00 WIB, kami baru bertemu dengan Mas Arif, rupanya kemarin ia sedang lembur.

Kami disuguhi nasi karak, makanan khas Situbondo. Kami juga disuguhi kopi hitam arabica, khas dari pegunungan Argopuro. Sungguh perpaduan yang mantap. Pagi hari itu kami tidak hanya ditemani Mas Arif, tapi juga dua kawannya. Namanya, Cak Sofyan, dan Cak Wira.

Baca Juga:  Menyimpan Mbako dalam Slepen

Ternyata, Cak Wira mengikuti konten-konten kami di media sosial. Ia juga kerap kali membeli rokok berkat konten rekomendasi yang saya buat di Instagram Komunitas Kretek dan Rokok Indonesia. Obrolan mudah cair karena saling tahu satu sama lain. Selain itu, mereka ini juga kawan-kawan kolektif Besuki Membaca.

Dan memang terdampar di bersama kawan-kawan Besuki Membaca adalah keputusan yang tepat. Pasalnya, tujuan dari Ekspedisi Emas Hijau Jilid II tidak “hanya” untuk menggali ilmu dari petani. Tapi juga berjejaring dengan kolektif anak muda setempat. Supaya kami bisa memberi apa yang mereka tidak punya, begitu pun sebaliknya.

Kawan-kawan Besuki Membaca juga berharap, dengan hadirnya Komunitas Kretek ke Situbondo dapat memberikan gairah anak muda di sini untuk belajar tembakau. Pasalnya, Cak WIra sendiri bercerita tidak sanggup membeli tembakau Tambeng, saking mahalnya.

Akibanya, Cak Wira sendiri merasa tidak terlalu mengerti mengapa tembakau Tambeng bisa enak, dan mahal. Karena sebagai orang Besuki, ia merasa justru tidak dekat.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang

BACA JUGA: Tetesan Embun di Tembaku Tambeng Membuat Harganya Fantastis