
Tenor Teh Manis: Rokok Teh Manis yang Menjadi “Bahan Bakar” di Tongkrongan dan Pekerjaan
Tenor Teh Manis selalu hadir di tongkrongan dan pekerjaan saya. Sebab, ini semacam bahan bakar untuk membakar semangat saya menjalani hari.

Tenor Teh Manis selalu hadir di tongkrongan dan pekerjaan saya. Sebab, ini semacam bahan bakar untuk membakar semangat saya menjalani hari.

Saya ingat betul, satu tahun yang lalu ketika magang di Jogja. Uang menipis. Rokok habis. Mau tidak mau, saya harus membeli rokok yang harganya di bawah Rp10 ribu agar bisa survive. Saya mencoba berbagai merk: Dio, Tenor, Artha, dan rokok murah lainnya.
Lalu, bertemulah saya dengan rokok Lodjie Ijo. Rasanya lumayan. Tapi agak serik menurut saya. After taste-nya juga meninggalkan bekas wangi di lidah. Masih kurang mantap, meski harganya juga murah.

Naiknya cukai rokok sangat berdampak besar bagi masyarakat, dari petani hingga perokok. Rokok sehari-hari yang harganya sebelumnya terjangkau menjadi sulit untuk dibeli, orang-orang banyak beralih

Di tengah gempuran rokok murah dan ilegal, saya bertemu dengan Artha. Merek rokok ini lantas menjadi lebih sering saya beli. Pasalnya, sudah murah, enak, isinya

Ketika cukai naik gila-gilaan yang dilakukan oleh Sri Mulyani sejak pandemi hingga dua tahun berturut-turut pada 2023-2024, konsumsi rokok yang saya hisap mereknya jadi aneh-aneh.

Saya akhirnya kerap menemani kakek menghisap rokok kretek. Sesekali juga membelikannya. Itu menjadi upaya menikmati kebahagiaan atas hal-hal sederhana bersamanya di usianya yang kian menua.

Setiap tahun cukai naik, harga rokok enak melambung tinggi. Tapi jika sobat kretekus ingin ngebul tetap terlaksana tanpa takut kantong menipis, rokok murah atau tingwe

Sepengalaman saya, jenis rokok yang saya hisap ternyata jadi gamabaran apakah saya dalam kondisi baik-baik saja di perantauan atau tidak. Hampir sepuluh tahun saya merantau.