×

Man Jasad: Antara Musik Metal dan Kretek, Antara Kretek dan Hajat Hidup Manusia

Dalam Artikel Ini

Man Jasad bicara soal kretek Komunitas Kretek

Dalam Artikel Ini

Rabu, 20 Agustus 2025, sekitar pukul 14.30 WIB, saya berkesempatan bertemu dengan Mohamad Rohman. Oleh banyak orang ia dikenal dengan nama Man Jasad. Namun, panggilan akrab dari kawan-kawannya: Mang Man.

Man Jasad juga disebut-sebut sebagai Presiden Republik Gaban (Garut Bandung). Namun, secara profesional, Man Jasad adalah pelopor musik metal di Bandung, khususnya Ujungberung Rebels. Sekaligus seorang Budayawan Sunda. Memadukan seni lokal dengan metal di kancah global.

Sosok yang lahir di Cimahi pada 12 Januari 1978 ini tidak hanya mengangkat metal dan kebudayaan Sunda. Man Jasad, juga mengenalkan rokok kretek, khas Indonesia ke kancah global.

Pasalnya, ketika band Jasad tampil, Man Jasad tidak akan lepas menggunakan ikat kepala Sunda dan kretek sebagai senjata tempurnya saat konser. Di atas panggung ia akan menggila sambil mengibas rambut gondrongnya.

Kretek adalah obat

Man Jasad merokok sejak remaja, sampai sekarang. Ia terlahir dari keluarga petani sekaligus seniman. Orang tuanya menanam sayur-mayur dan tembakau. Mang Man, sendiri kadang menanam tembakau di sela-sela kesibukannya.

Namun, ketika saya mampir di rumahnya, Mang Man mengaku sedang tidak menanam. Sekarang ia sedang fokus membangun komunitas olahraga, yakni jalan kaki sehat sambil nyeker (tidak pakai alas kaki) ke di sawah dan hutan.

Tidak hanya menanam, Mang Man juga meracik rokok dengan mencampurkan tembakau dan rempah-rempah pilihan yang manjur untuk kesehatan. Mang Man mengaku aneh dengan tren global  yang bilang rokok adalah penyakit. Baginya, justru rokok kretek adalah obat. Ia tidak pernah mengalami kendala kesehatan karena rokok.

Baca Juga:  Dampak Merokok; Menyebabkan Kemiskinan Hingga Jadi Media Penularan COVID-19

Bahkan sebagai vokalis Jasad, Mang Man tetap mampu melakukan scream, yakni bernyanyi dengan suara keras dan teriakan. Di sepanjang penampilannya di panggung, tangannya tak lepas dari kretek.

Kretek adalah infrastruktur kebudayaan

Baginya, bermusik metal  adalah sarana untuk mengenalkan kebudayaan Sunda. Begitu pula dengan kretek. Rokok kretek adalah sarana kebudayaan. Itulah sebabnya ia juga merokok ketika manggung.

“Tidak ada kebudayaan mana pun yang mempunyai kretek selain Indonesia, kretek adalah obat. Kretek bukan hanya komoditas, tapi juga komunitas yang menjadi infrastruktur kebudayaan,” ucap Man Jasad dengan suara beratnya.

Tidak hanya saat manggung. Sebagai orang yang sering bolak-balik ke Eropa dan Amerika, Mang Man selalu menolak ketika ditawari rokok putihan. Ia setia selalu menyetok kretek saat bepergian ke luar negeri.

Kendati bau kretek dianggap menyengat, ia tetap menghisapnya di tengah relasinya yang di luar negeri yang menghisap rokok putihan. Baginya, justru dengan itu akan membuat banyak orang penasaran dengan aroma rempah dalam kretek.

Nikotin, ulin, dan perang nikotin

Man Man adalah orang dengan berbagai julukan, termasuk dikenal sebagai duta ulin (main) Jawa Barat.

Baca Juga:  Review Rokok Divo Filter, Kecil-kecil Cabe Rawit

“Nikotin, kafein dan ulin, adalah kombinasi mantap. Siapa yang seenaknya melarang kita untuk menikmati karunia alam. Asal kita jadi perokok yang beradab,” ucapnya sambil menghisap Djarum Coklat.

Mang Man sangat sadar dengan isu Industri Hasil Tembakau. Menurutnya, pihak asing seperti WHO, industri farmasi, dan pabrik rokok asing adalah penghancur kretek.

Itulah sebabnya ia memegang teguh untuk tidak merokok dari pabrik asing. Mang Man menitipkan pesan supaya kita tidak mudah terpengaruh dengan agenda asing yang justru merusak kebudayaan.

Menurutnya, kita ini tidak mandiri apabila urusan kretek saja dikebiri. Karena dari kretek bisa terlahir perekonomian mandiri, budaya juga lestari.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang

BACA JUGA: Diskusi “Kretek” di Garut, Kekhawatiran Nilai Budaya Musnah karena Literasi Rendah