Disclaimer: Tulisan ini mengandung spoiler film Pangku yang sedang diputar di bioskop. Jika Anda tak masalah dengan spoiler, silakan lanjutkan membaca.
***
Menonton film Pangku garapan Reza Rahadian, kita akan memahami bagaimana potret kehidupan di Pantura dari barat hingga timur–meskipun dalam filmnya berlatar di Indramayu, Jawa Barat.
Sepanjang jalan cerita, saya merasa ikut masuk ke Pantura. Suasana kering, gerah, dan angin lengket Pantura seolah menempel di badan. Termasuk bau ikan asinnya yang menyengat.
Reza Rahadian mengaku memang tidak ingin menitipkan dialog seperti kritikan kepada negara. Biar lah penonton yang menafsirkan. Karena masyarakat hanya tahu hidup memang susah dan dipaksa untuk tabah menjalaninya–tanpa tahu kalau kesusahan itu disebabkan oleh negara.
Hadi: perokok Dji Sam Soe yang bajingan!
Dari pengamatan saya yang tinggal di kampung dan pernah ekspedisi tembakau di pulau Jawa, masyarakat yang merokok sigaret kretek tangan terbagi ke beberapa merek. Ada loyalis Djarum Coklat, Djarum 76 reguler, Dji Sam Soe, dan Gudang Garam Merah. Mayoritas yang saya temukan itu–kalau nggak Djarum Coklat, ya, Dji Sam Soe.
Dan kebetulan, dari pengamatan saya melihat sosok Hadi, rokoknya itu Dji Sam Soe. Kendati Reza Rahadian tidak menonjolkan merek apa yang dihisap. Tapi tampak betul rokoknya itu Dji Sam Soe.
Ia awalnya dikenalkan sebagai lelaki yang soft spoken kalau kata Gen Z Namun ternyata, di balik perangainya yang lembut itu, ia begitu kejam kepada Sartika, sosok ibu yang hidup tanpa suami dan harus membesarkan anaknya sendiri. Sartika terpaksa menjalani profesi sebagai pelayan kopi pangku–jatuh hati dengan rayuan gila, Hadi.
Cukup dengan kalimat romantis namun beracun dari Hadi, Sartika langsung jatuh hati. “Aku mau anak, kamu mau punya suami”.
Lelaki yang hidup dari duit kiriman istri, tapi “jajan” perempuan sana-sini
Di Jawa Barat ada stereotip yang sangat buruk terhadap lelaki. Hingga kemudian saya juga diberitahu bahwa ternyata lelaki di sepanjang Pantura memiliki stereotip yang sama, yakni; istri jadi TKI, sedangkan lelaki hidup nyantai dari uang kiriman istri.
Saya pikir, Hadi punya sedikit banyak uang karena murni dari kerjaannya sebagai sopir truk. Eh, ternyata ia lelaki kesepian karena istri jadi TKI, tapi gairah nafsu tak terpenuhi.
Saya paham kalau Hadi “hanya” jajan kopi pangku. Tapi saya tidak paham kalau ia sampai mengawini Sartika. Itu sudah keterlaluan.
“Para pengunjung, terutama sopir truk dan pekerja jalanan–datang bukan semata mencari sensasi. Di tengah lelah dan sepi perjalanan, mereka mencari percakapan, tawa ringan, atau sekadar kehangatan manusiawi. Dalam ruang yang dianggap “gelap” itulah, terkadang terselip sisi-sisi kemanusiaan yang jarang kita pahami,” dikutip dari artikel Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Nahdlatul Ulama Indramayu.
Saya yakin, penulis dari Sekolah Tinggi tersebut memaklumi hanya dalam konteks para sopir truk yang memakai jasa kopi pangku saja, tidak sampai mengawini.
Rokok Dji Sam Soe: rokok problematik bukan hanya di film Pangku
Sebetulnya bukan tanpa alasan saya kurang suka dengan Hadi, selain karena perilakunya yang bajingan. Tapi juga karena rokoknya Dji Sam Soe. Pasalnya, produk dari Sampoerna tersebut–sahamnya sudah dibeli oleh Philip Morris.
Perusahaan rokok asal Amerika Serikat sang imperialisme dalam segala tindak tanduk kejahatan di dunia, termasuk kepada industri kretek di Indonesia. Amerika bahkan melarang peredaran kretek di sana karena takut masyarakatnya doyan kretek.
Bahkan dari perjalanan saya ekspedisi ke Garut, Jawa Barat, saya ngobrol dengan budayawan Sunda, sekaligus pelopor musik metal Ujung Berung, Man Jasad. Ia mengaku menolak merokok Dji Sam Soe karena sahamnya sudah dibeli oleh Philip Morris! Sang antek asing sesungguhnya.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang
- Ibu Minah, Penjual Sayur Keliling Ketiban Rezeki Noplok: Menang Undian Mobil dari Pihak Djarum Selepas Mengikuti Jalan Santai HUT Temanggung 191 - 26 November 2025
- Rokok yang Dihisap Hadi (Fedi Nuril) dalam Film “Pangku” dan Jangan Ditiru! - 15 November 2025
- Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional - 10 November 2025



