Suatu saat ketika sedang berselancar di sosial media, saya menemukan unggahan yang menjadikan piring sebagai tempat asbak. Di situ diperlihatkan ada banyak sekali abu dan puntung rokok. Besar kemungkinan ada orang-orang yang nongkrong lalu menjadikan piring yang dipakainya setelah makan untuk menjadi asbak.
Meskipun saya adalah perokok, tapi saya mengutuk perbuatan itu. Sebab tempat abu dan puntung rokok itu bukan di piring, melainkan di asbak. Jijik juga kan melihat tempat makan dijadikan alat untuk membuang abu dan puntung rokok. Kasihan juga nanti yang membersihkannya.
Jangan salahkan perokok kalau nyampah, padahal nggak ada asbak yang disediakan
Kalau boleh jujur, kasus itu hanyalah satu di antara banyak kasus yang masih banyak dilakukan oleh para perokok bebal, kalau tidak mau disebut goblok. Misal kasus lain juga lazim ditemukan orang ketika nongkrong membuang puntung sembarangan, biasanya di lantai tempat di mana ia nongkrong. Mentang-mentang di tempat nongkrong boleh memakai sepatu terus seenaknya membuang puntung/abu sembarangan.
Tapi banyaknya fenomena itu, lantas saya berpikir untuk tidak terlebih dahulu menyalahkan perokok. Disclaimer dulu. Bukannya saya mau membela perokok, tapi faktanya di luar sana masih cukup banyak pihak yang tidak menyediakan asbak. Kalau pun menyediakan asbak biasanya terbatas. Padahal areanya adalah dibebaskan: boleh merokok.
Asbak ini menjadi barang yang penting karena ketika tidak disediakan ya wajar jika para perokok ketika nongkrong membuang puntung sembarangan.
“Tapi ngapain sih ‘merokok di tempat nongkrong,” kurang-lebih begitu sanggahan dari mereka yang kadung membenci rokok.
Apa susahnya menyediakan asbak untuk perokok?
Padahal dipikir-pikir rokok itu masih jadi produk legal. Merokok di tempat umum pun sebenarnya sah-sah saja selama tempat itu tidak dilarang untuk merokok. Ya kalau tidak mau ada orang yang merokok di tempat nongkrong, tuliskan saja larangan merokok. Simpel bukan. Tapi kalau tidak ada tulisan larangan merokok berarti boleh merokok dong. Hal itu sudah menjadi common sense bagi masyarakat Indonesia. Realitanya seperti itu.
Sehingga sekali lagi peran ketersediaanya asbak menjadi faktor penting. Dan jangan tanggung-tanggung. Sediakan yang banyak. Misal satu meja dengan kapasitas orang 3-7 orang ya minimal disediakan 2 asbak. Para perokok yang masih waras itu juga senang kalau ada asbak. Sebab merokok tanpa asbak itu rasa-rasanya ada yang kurang.
Tapi kalau sudah disediakan asbak dan sangat mudah dijangkau, kemudian masih ada yang bebal dengan membuang puntung sembarangan, ini patut untuk ditegur. Oleh karena itu di mana pun seharusnya kita mengampanyekan perokok santun, yang salah satunya adalah tidak membuang puntung sembarangan.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Asbak Rokok di atas Meja Tanda Boleh Merokok
- Djarum 76 Apel Masih Jadi Rokok Paling Best Seller - 20 January 2026
- Rokok Smith, Bonte, Marbol dan Rokok Ilegal lainnya Bisa Merajalela Karena Ulah Anti Rokok - 19 January 2026
- Jangan Hanya Salahkan Perokok Ketika Sembarangan Membuang Puntung Rokok - 14 January 2026



