Melihat kondisi krisis politik dan ekonomi di Indonesia membuat kita cemas. Misalkan dalam kondisi politiknya demokrasi di Indonesia terus-menerus dikebiri. Kriminalisasi aktivis masih terus terjadi. Bahkan yang belakangan ramai beredar bahwa aktivis Kontras diserang menggunakan air keras. Sampai sekarang pun masih menuntut keadilan. Dalam aspek geopolitik internasional, Indonesia cenderung berpihak kepada Amerika dan Israel yang selama ini melakukan imperialisme dan neo-kolonialisme di berbagai belahan dunia.
Lalu ketika bergeser ke ekonomi, program dari pemerintah pusat ini banyak dikritik oleh kalangan bawah. Misalkan seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kedua program ini terkesan buang-buang uang dan justru menjadi lahan basah untuk kepentingan kelompok dan segelintir orang saja.
Krisis di Indonesia yang meresahkan
Tak ayal dari kedua program itu keuangan Indonesia justru menjadi boncos. Hutang terus menumpuk bahkan tahun ini pun mengalami defisit yang mengerikan. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa defisit APBN per 31 Maret 2026 telah mencapai Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% dari produk domestik bruto (PDB). Tentu di luar program MBG dan KDMP ada faktor lain yang membuat keuangan negara menjadi defisit.
Oleh karena itu, pemerintah sudah semestinya memikirkan ulang bagaimana membelanjakan uang yang mereka dapat dari rakyat. Apalagi di tengah konflik Iran-Amerika dan Israel terus memanas. Entah sampai kapan konflik ini akan berakhir yang jelas Indonesia akan terkena imbasnya. Sekalipun bukan perang langsung tapi krisis bisa saja terjadi. Toh berbagai negara sudah siaga satu terutama dalam urusan BBM.
Kretek adalah sektor unggulan untuk menyelamatkan krisis di Indonesia
Di tengah situasi yang mencemaskan sebenarnya ada satu sektor unggulan yang bisa dimanfaatkan pemerintah: kretek. Saya tidak sedang halusinasi. Sebab memang kretek ini kontribusinya tidak main-main. Misalkan dari penerimaan negara, ratusan triliun rupiah masuk setiap tahunnya, dan itu terjadi sejak masa kolonial. Lalu dari segi lapangan pekerjaan juga ada jutaan orang yang menggantungkan hidupnya dari sektor kretek. Data menunjukan ada 6 juta orang yang menggantungkan hidupnya dari Industri Hasil Tembakau.
Di tengah kontribusi yang terlalu banyak itu, pemerintah terus-menerus menghantam kretek melalui berbagai aturannya. Dari segi iklan dibatasi, dari segi harga dibuat mahal. Bahkan yang belakangan menjadi isu yang ramai diperbincangkan adalah akan ada penghancuran kretek melalui implementasi aturan PP 28 tahun 2024 tentang pembatasan tar dan nikotin. Dan masih banyak lagi upaya-upaya menghancuran kretek.
Nalar pemerintah yang tak masuk akal
Pemerintah ini memang kadang ngga bisa berpikir jernih. Coba bayangkan ketika kretek di anak emaskan di Indonesia. Saya yakin betul negara ini bisa menunjukan kedaulatannya. Karena inilah ekonomi kerakyatan. Tembakaunya ditanam di negeri sendiri, yang memproduksi orang negeri sendiri, dan yang mengkonsumsi juga kebanyakan orang sendiri. Inilah bentuk dari rakyat untuk rakyat. Beratus-ratus tahun hal itu terjadi.
Sehingga Indonesia harusnya bangga dan percaya diri memiliki kretek. Pemerintah harusnya sadar akan hal itu. Hal inilah yang justru akan menyelamatkan kita di tengah kondisi yang tidak menentu ini. Tidak usah terlalu menghamba dan tunduk kepada asing. Kalau seperti itu terus dibiarkan mari kita pertanyakan harga diri bangsa kita.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Bagaimana Nasib Industri Kretek Jika Terjadi Perang Dunia lll?
- Kretek Bisa Menyelamatkan Indonesia Ketika Krisis Melanda Tapi Pemerintah Malah Ingin Menghancurkannya - 9 April 2026
- Viral Rilisan MV The Jeblogs yang Merokok di Wahana Bermain Menuai Kontroversi - 31 March 2026
- Pemerintah Punya Niat Jahat Untuk Mematikan Kretek dengan Pembatasan Tar dan Nikotin - 29 March 2026



