Saya lahir dan besar di Temanggung. Daerah yang memiliki kedekatan dengan tembakau. Sejak awal bulan April ini, petani tembakau di Temanggung lekas memulai masa tanam tembakau, khususnya lahan-lahan yang berada di Lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau.
Lanskap Pertanian di Lereng Sindoro
Senin pertengahan April ini saya bersama dua orang kawan saya penasaran untuk melihat lanskap pertanian di Lereng Sindoro. Tentu tidak semua daerah bisa kami jamah, karena butuh waktu lama untuk melakukan itu. Sehingga kami memutuskan untuk melihat lanskap pertanian di Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung.
Perjalanan Menuju Ladang Menggunakan Motor Matic
Kami mengendarai sepeda motor matic: Vario 125 cc dan Beat 110 cc. Jalanan menuju ke Desa Canggal relatif mudah. Tapi menuju ladangnya itu bukan jalan biasa. Sebagian besar memang sudah dicor menggunakan semen, tapi karena berada di lereng gunung, sudah pasti jalanan menanjak dan menurun. Saya sendiri sedikit ketakutan melihat jurang-jurang yang berada di kiri-kanan saya. Apalagi motor yang saya gunakan adalah matic. Tentu ada kekhawatiran ketika rem blong.
Sepanjang perjalanan menuju ladang petani, pemandangannya begitu indah. Kami berpapasan dengan motor-motor petani, sebagian besar memang menggunakan motor bebek dan didesain khusus untuk pergi ke ladang yang jalannya terjal, menanjak dan menurun. Di situ saya berpikir, berat sekali ya jadi petani, mereka menggarap lahan di lereng-lereng gunung dan untuk menuju ke situ pun butuh keberanian dan kesabaran. Sudah begitu negara tidak peduli dan cenderung ingin menyingkirkan petani tembakau secara pelan-pelan melalui banyak aturan.
Perjuangan Petani Tembakau Pak Dawanto dan Ibu Sifah
Kami tidak berani sampai ke lereng paling atas. Di tengah perjalanan kami berhenti. Membakar rokok dan menenggak air putih yang dibawa oleh salah seorang teman. Dari kejauhan ada laki-laki dan perempuan yang sedang menggarap lahan tembakau.
Kami segera ke situ. Dua petani ini adalah sepasang suami istri. Namanya Bapak Dawanto dan Ibu Sifah. Usianya bukan lagi muda karena Pak Dawanto sudah berusia 68 tahun sedang Ibu Sifah sudah menginjak usia 65 tahun. Memiliki 3 anak, 4 cucu, dan 1 cicit.
Meskipun begitu mereka giat pergi ke ladang. Bagaimana tidak, untuk menuju ke ladang yang digarapnya, bukan motor yang mereka pakai. Tapi mereka memilih berjalan kaki. Waktu tempuhnya adalah kurang-lebih satu jam dari rumah yang berada di Canggal Jurang Desa Canggal. Berangkat jam 6 pagi, kira-kira pukul 7 baru sampai di ladang.
Mereka berdua full bertani selama hidup. Kadang bertani bawang merah, jagung, cabai dan ketika kemarau menanam tembakau. Kata Ibu Sifah bertani tembakau lebih menguntungkan ketimbang komoditas lain. Inilah yang mampu menyambung hidup mereka dari hari ke hari tahun ke tahun.
Nasib Tembakau Temanggung antara Gudang Garam dan Djarum
Di tahun kemarin, tembakau yang mereka tanam tidak terbeli oleh Gudang Garam. Karena sudah sepuh, mereka juga tidak kepikiran untuk membuat tembakau panenannya menjadi lembutan. Tapi bersyukur, tembakau mereka dibeli oleh Djarum. Pak Dawanto mengatakan kalau panenan kemarin mendapatkan 20 kentungan. Masing-masingnya berisi 30-35 kg. Untuk bibit yang dipakainya adalah Kemloko 2. Saat kami ke situ bibit yang ditanamnya ini sudah berumur kira-kira 18 hari.
Pak Dawanto menanyakan apakah kira-kira Gudang Garam mau membeli tembakau di Temanggung lagi. Saya bilang: tidak. Karena memang gosip yang beredar bahwa Gudang Garam sudah tidak akan lagi membeli tembakau Temanggung beberapa tahun ke depan. Entah sampai kapan. Tapi Pak Dawanto optimis kalau nanti Djarum akan membeli hasil panenannya. Dalam hati saya mengaminkan harapan Pak Dawanto itu.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
- Perjalanan Saya “Bertaruh Nyawa” di Lereng Sindoro demi Bertemu Petani Tembakau Temanggung yang Ditinggal Gudang Garam - 21 April 2026
- 7 Tradisi Petani Tembakau di Lamuk Legok Temanggung, Bukti Bahwa Tembakau Telah Melekat di Akar Budaya Masyarakat - 16 April 2026
- Kretek Bisa Menyelamatkan Indonesia Ketika Krisis Melanda Tapi Pemerintah Malah Ingin Menghancurkannya - 9 April 2026



