Rokok Sebagai Stress Release Adalah Upaya Saya Menjaga Kesehatan Mental

Rokok sebagai stress release mungkin akan menyinggung antirokok. Tapi ini pengalaman saya menjaga kewarasan dengan sebatang kretek tangan.

Dalam Artikel Ini

rokok sebagai stress release

Dalam Artikel Ini

Di dunia yang semakin kacau-balau ini, isu kesehatan mental manusia merupakan suatu hal yang penting untuk dicermati. Secara alamiah, manusia akan mencari hal-hal yang dapat membuat jiwa mereka bahagia guna menjaga dan merawat mental supaya tidak stres. Mulai dari himpitan permasalahan ekonomi, ketimpangan sosial, dinamika politik, hingga krisis iklim; semuanya turut berpengaruh terhadap stabilitas mental manusia.

Berbagai riset menunjukkan bahwa banyak orang, khususnya anak muda, mengalami penurunan tingkat kebahagiaan. Bahkan, generasi saat ini dinilai jauh lebih tidak bahagia dibandingkan generasi sebelumnya. Terjadinya penurunan tersebut tidak lepas dari dampak perkembangan teknologi digital yang melesat cepat, sementara sumber daya manusianya sendiri masih banyak yang tertinggal, entah dari segi pendidikan maupun kesiapan ekonomi.

Tuntutan Hidup dan Mahalnya Akses ke Psikolog

Sialnya, kita mengalami rentetan masalah itu semua secara bersamaan. Mulai dari sistem pendidikan yang belum optimal, bencana alam di mana-mana, ancaman PHK, hingga perasaan kesepian—baik karena menganggur atau kondisi jiwa yang sedang terguncang. Masyarakat pun kerap kebingungan mencari jalan keluar, mengingat biaya konsultasi ke psikolog atau psikiater tidaklah murah.

Di sisi lain, media sosial pun tidak banyak membantu. Riset menunjukkan bahwa mengonsumsi konten media sosial secara berlebihan justru dapat memicu risiko gangguan kesehatan mental dan menurunkan tingkat kebahagiaan. Di era digital ini, internet perlahan menggantikan koneksi sosial masyarakat di dunia nyata dan membuat individu menjadi lebih individualis. Berangkat dari realitas tersebut, menjaga kesehatan mental mutlak membutuhkan keseimbangan antara kehidupan di dunia maya dan dunia nyata.

Baca Juga:  Bagaimana Cara Memperingatkan Perokok Berengsek?

Rokok Sebagai Stress Release dan Perekat Sosial

Bagi para kretekus, salah satu cara alternatif untuk menjaga kewarasan mental adalah dengan merokok. Merokok kerap menjadi perekat hubungan sosial di masyarakat, sekaligus sebuah cara untuk membahagiakan diri sendiri dengan metode yang mudah, cepat, dan sederhana. Saya pribadi sepakat bahwa salah satu cara menjaga ritme kesehatan mental adalah dengan merokok. Melalui sebatang rokok, kita bisa mengambil jarak, atau meminjam istilah gaulnya “melipir” sejenak, dari laju dunia yang terlalu cepat ini.

Dari padatnya rutinitas sehari-hari, kita pasti pernah merasakan yang namanya bosan, lelah, suntuk, bahkan stres berat. Nah, menurut saya, merokok memberi ruang beristirahat dari berbagai persoalan tersebut. Kita mengambil jeda, menyeruput kopi hitam panas, menyalakan rokok favorit, lalu menghisapnya dalam-dalam.

Saya jadi teringat dengan perkataan seorang kawan yang menyatakan, “Merokok itu sebuah stress release. Di saat orang lain melihat kepulan asap, maka aku melihat masalah perlahan menguap,” anjay. Sebuah pernyataan keren yang saya pikir akan membuat banyak perokok merasa relate.

Pengalaman Personal: Ketenangan di Balik Kepulan Asap Rokok

Dengan merokok, kita bisa merasakan sensasi tenang, tidak tergesa-gesa, dan mampu berpikir lebih jernih dalam membedah realitas yang sedang dihadapi. Tidak sedikit pula kasus di mana seseorang yang sedang depresi, bahkan memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup, urung melakukannya karena tertolong oleh obrolan bersama teman yang menawarkan sebatang rokok kepadanya.

Sebagai contoh, saya pernah pada suatu masa merasakan depresi dan kecemasan yang berlebih terhadap diri sendiri; mungkin bisa disebut anxiety. Waktu itu, saya tidak mau melakukan self-diagnosis, tetapi memang begitulah perasaan yang berkecamuk. Untuk menangani kepanikan tersebut, saya merasa sangat tertolong oleh kretek yang saya hisap. Saya merasa jauh lebih rileks dan perlahan bisa berpikir dengan kepala dingin.

Baca Juga:  Betapa Pentingnya PT Djarum Bagi Pembangunan Kudus

Dari pengalaman pribadi itulah, saya percaya bahwa rokok bisa mengambil peran dalam menjaga ritme kesehatan mental, setidaknya sebagai stress release jangka pendek. Pun saya yakin bahwa banyak perokok di luar sana yang sepakat dengan hal ini.

Meskipun sebagian kalangan melabeli rokok sebagai suatu hal yang buruk dan diklaim dapat memperpendek umur, apa yang saya—dan orang-orang di sekitar saya—alami justru sebaliknya. Di tengah absennya akses kesehatan mental yang terjangkau, rokok secara tidak langsung memberikan “napas” tambahan bagi mereka yang sedang dilanda jalan buntu, bahkan telah menjadi hajat hidup bagi jutaan masyarakat. Pada akhirnya, kita harus realistis: tidak semua orang punya keistimewaan untuk pergi ke psikolog kapan saja mereka mau.

Penulis: Gandi Naufal Faroz

BACA JUGA: Laki-laki Tidak Bercerita, Untung Masih Bisa Merokok hingga Mental Aman dan Tak Bunuh Diri