Merokok di Teras Rumah: Momen Istirahat Bapak

Merokok di teras rumah biasanya sering dilakukan oleh kepala keluarga: seorang bapak. Banyak keputusan lahir dari sebatang rokok dan teras.

Dalam Artikel Ini

seorang bapak yang merokok di teras rumahnya

Dalam Artikel Ini

Ada satu pemandangan yang cukup akrab di banyak rumah di Indonesia. Seorang bapak duduk sendirian di teras, diam dan merenung. Di hadapannya ada segelas kopi. Di tangannya menyala sebatang rokok.

Sesekali mengembuskan asap ke udara malam yang tenang. Pandangannya jauh, entah ke ujung jalan, entah ke cicilan yang jatuh tempo minggu depan. Dalam benaknya, dunia berhenti beberapa menit.

Fenomena ini sering disalahpahami. Atau setidaknya gagal dimaknai secara mendalam. Banyak orang mengira yang sedang dilakukan bapak hanya merokok. Padahal, lebih dari itu, yang bapak lakukan adalah beristirahat. Rokok adalah mediumnya.

Seorang bapak yang merokok di teras rumahnya

Pikiran laki-laki itu kayak jalan tol saat arus mudik. Banyak kendaraan, macet, bunyi klakson, pokoknya riuh. Di kepala laki-laki ada banyak tuntutan, ada tagihan, pekerjaan, tanggung jawab keluarga, ditambah setumpuk masalah lainnya.

Dalam kondisi kayak gitu, kita butuh rest area buat mampir sebentar. Buat sebagian orang, rest area itu bisa jadi memancing. Bagi yang lain mungkin main game, lari, menonton film, macam-macam lah. Bagi perokok, rest area itu bernama rokok.

Perlu digarisbawahi, saya gak bilang rokok bisa menyelesaikan masalah. Sama sekali tidak. Tagihan tetap ada. Bos tetap cerewet. Rupiah tetap melemah. MBG juga tetap jalan.

Baca Juga:  Perokok Menolak Takluk

Intinya, selama lima atau sepuluh menit merokok di teras itu, perokok punya alasan untuk jeda sejenak dari kebisingan. In this economy, jeda adalah kemewahan yang sulit dicari.

Lucunya, momen nyebat di teras justru sering jadi waktu paling produktif. Maksudnya, di balik aktifitas yang kelihatannya tenang dan sunyi itu ada kehebohan, benang kusut, atau bahkan pertempuran dalam kepala.

Banyak keputusan lahir dari rokok dan teras rumah

Sadar gak sadar, ada banyak keputusan hidup lahir di teras rumah dengan rokok dan kopi yang jadi saksi. Banyak laki-laki yang gak terbiasa curhat soal masalah hidup ke orang lain. Bukan karena gak percaya, bukan juga karena gak sensitif. Tapi karena dari kecil kita dicekoki stereotype bahwa tugas laki-laki itu mencari solusi, bukan mengeluh.

Tentu banyak yang gak sepakat soal rokok. Antirokok bilang gak ada sedikit pun manfaat dari rokok. Buat perokok, ya rokok teman yang paling setia, bahkan di periode hidup yang paling sulit. Rokok jadi sumber inspirasi bagi seniman. Rokok jadi penyambung silaturahmi di tongkrongan. Itu semua kan manfaat. Setidaknya begitu bagi perokok.

Baca Juga:  Setelah Rokok dan Kopi, Kini Giliran Teh Dilabel Berbahaya

Itu baru manfaat buat pribadi. Belum lagi bahas manfaat buat negara. Panjaaaaaaaang.

Balik lagi soal merokok di teras. Tentu saja, bukan berarti semua orang harus merokok untuk mendapatkan ketenangan. Banyak cara lain yang bisa kasih efek serupa. Setiap orang punya teman setia versinya masing-masing.

Tapi, setelah ini, kalau melihat seorang bapak duduk sendirian di teras sambil mengisap rokok, setidaknya ada cara pandang lain, gak ujug-ujug ngomel dan ceramah soal manfaat dan mudharat.

Ini bukan tentang siapa-siapa. Ini tentang bapak saya. Kalau kalian relate sama cerita ini, bukan berarti kalian bapak saya. Itu kebetulan saja!

Penulis: Aris Perdana

BACA JUGA: Rokok Sebagai Stress Release Adalah Upaya Saya Menjaga Kesehatan Mental