Kata “rokok” punya trafik yang sangat tinggi di mesin pencarian. Entah itu negatif atau negatif, rokok jadi salah satu kata kunci andalan di banyak media.
Iya, kalian tidak salah baca. Entah itu negatif atau negatif. Mencari pemberitaan positif soal rokok di media itu kayak mencari jarum di tumpukan jerami yang sudah ditimbun tanah, ditimpa batu bata, lalu dicor. Bisa, tapi sulit.
Jangankan yang positif, pemberitaan yang netral pun jarang. Seperti ada kebencian besar pada rokok. Tidak cuma satu dua media yang demikian, tapi banyak, mulai dari media mainstream hingga yang abal-abal. Perlu digarisbawahi, banyak media begitu, tapi tidak semua.
Di media, kita bakal sering menemukan pemberitaan yang menggunakan kata kunci “rokok” pada bagian headline, tapi pokok pemberitaannya jauh dari perkara rokok. Mereka hanya menumpang pada kata “rokok” yang trafiknya tinggi itu.
Membongkar Kejanggalan Headline Kriminal
“Sempat-sempatnya Perampok di Riau Nyebat Rokok Usai Berkali-kali Tikam Kasir”
Begitu headline salah satu berita di media detik.com kemarin. Dari judulnya kita tahu bahwa ini berita kriminal, korbannya seorang kasir, lokasinya di Riau, dan tindak kejahatannya adalah menikam. Itu jelas. Pertanyaannya, kenapa ada rokok di sana?
Sebenarnya bukan masalah besar, hanya aneh saja. Setelah dibaca, di dalamnya ada pernyataan dari aparat setempat yang mengatakan kalau pelaku sempat merokok setelah menikam korban. Pernyataan itu yang dipilih oleh si media untuk dikutip jadi headline.
Padahal kalau dipikir-pikir, rokok itu hanya sebuah benda yang kebetulan digunakan oleh pelaku. Derajatnya sama kayak sendal yang dipakai, kursi yang diduduki, atau sepeda motor yang dikendarai. Semua tidak berkaitan langsung dengan tindak kejahatannya.
Di berita itu juga ada kronologi yang menceritakan detail kegiatan pelaku selain menikam korban. Pelaku menggunakan gunting, pelaku sempat bergulat dengan korban, tangan pelaku terkena sayatan gunting, pelaku sempat mencuci tangan, pelaku merusak CCTV dengan batu, hingga pelaku menutup pintu sebelum kabur. Banyak.
Tapi yang dipilih jadi headline adalah “Sempat-sempatnya Nyebat Rokok”. Kenapa? Kenapa nyebat rokok layak jadi headline?
Menggiring Asosiasi Negatif pada Barang Legal
Jika mengacu pada isi berita, menggunakan formula yang sama, ada beberapa alternatif judul. Misal, “Sempat-sempatnya Perampok di Riau Cuci Tangan Usai Berkali-kali Tikam Kasir”. Atau alternatif lain, “Sempat Bergulat dengan Pelaku Perampokan, Kasir di Riau Jadi Korban Penikaman”.
Ada banyak pilihan. Tapi, lagi-lagi, rokok yang dipilih. Membaca judul itu, seolah-olah ada dua kejahatan yang dilakukan berurutan. Pertama, penikaman. Kedua, merokok. Begitukah maksudnya?
Apakah yang ingin diberitakan adalah peristiwa kejahatannya, atau ada upaya menyisipkan citra negatif pada sesuatu yang legal seperti rokok? Jujur, ini janggal.
Rokok di Indonesia itu legal. Peredarannya diatur negara. Ada pungutan cukai dari setiap batang rokok dan negara mendapat pemasukan. Meski banyak perdebatan terkait risiko rokok, tapi merokok bukan sebuah kejahatan. Jadi, mengaitkan rokok dengan berita kriminal secara berulang-ulang akan menciptakan asosiasi yang tidak adil.
Rokok dengan Media adalah Agenda Titipan?
Berita model begini banyak. Di satu sisi terlihat seperti kebencian media pada rokok. Di sisi lain, media justru terlihat seperti jatuh cinta pada rokok. Hanya mereka yang jatuh cinta yang sulit melupa. Mau makan teringat padanya. Mau tidur teringat padanya. Begitu kira-kira.
Makin ke sini, kita makin sering dipertontonkan media yang membuat berita bukan untuk memberi informasi atau meliterasi publik. Kita tahu bahwa media adalah bisnis, tapi tetap ada prinsip dan kode etik yang seharusnya jadi pedoman.
Faktanya, banyak media yang mengesampingkan penting atau tidaknya sebuah berita. Yang penting judulnya bombastis, mengundang banyak klik, lalu mendatangkan profit. Sialnya, masih banyak juga masyarakat kita yang punya fetish pada judul-judul mencengangkan. Jadilah sebuah ekosistem yang mengkhawatirkan.
Kembali ke soal judul bombastis yang menggunakan frasa “rokok”. Kita tidak pernah benar-benar tahu, apakah judul itu dibuat semata-mata demi klik dari pembaca, atau memang ada agenda titipan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Intinya, sungguh janggal!
Penulis: Aris Perdana
BACA JUGA: Bahaya Merokok Dalam Bingkai Media
- Love-Hate Relationship Rokok dengan Media - 23 June 2026
- Polemik Kemasan Rokok Polos: Duel Kemenkes vs Pemda Jatim - 18 June 2026
- Merokok di Teras Rumah: Momen Istirahat Bapak - 14 June 2026



