Kini Turun Kasta Bukan Karena Rokok Mahal Tapi Karena Ekonominya Melemah

Dalam Artikel Ini

Harga Rokok Naik Sebab dari Ekonomi yang Lemah

Dalam Artikel Ini

Daya beli masyarakat Indonesia melemah. Dengan tekanan inflasi, alokasi pengeluaran prioritas masyarakat makin ketat. Rokok, yang dulu memiliki jatah cukup tinggi, kini mesti terpinggirkan.

Situasi ini mendorong terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat. Jika sebelumnya mengonsumsi produk premium, kini mereka melakukan downtrading terhadap produk yang dikonsumsi. Di lingkungan kretekus, kami menyebutnya dengan istilah turun kasta.

Ya, turun kasta, dari rokok yang sebelumnya mahal menjadi rokok yang lebih murah. Bedanya, jika dulu turun kasta karena harga rokok makin mahal, kini kita melakukan turun kasta karena kondisi ekonomi yang buruk. Harga naik, penghasilan segitu-segitu saja cenderung turun.

Harga Rokok Mahal Merupakan Imbas dari Melemahnya Mata Uang

Kenaikan harga hari ini terjadi bukan karena cukai naik, tetapi harga bahan pokok yang melambung karena lemahnya mata uang kita. Ditambah lagi perang di luar negeri makin membuat kondisi tak terprediksi. Di dalam negeri, elit berantem membuat situasi makin tak terprediksi.

Karena itulah, kita melakukan turun kasta di berbagai aspek kehidupan. Jika sebelumnya naik Inova, kini cukup naik Avanza. Jika sebelumnya gebar-geber pakai N-Max, kini cukup melaju dengan Honda Beat. Semua kita lakukan demi agar kita masih sanggup bertahan hidup sehari lagi.

Baca Juga:  Kesantunan Sosial Perokok

Pun dengan urusan rokok. Kita sudah lebih dulu turun kasta jauh sebelum Prabowo menjadi Presiden. Kita sudah terbiasa mencoba beragam merek baru di kelas 15 ribu sampai 25 ribu. Memilih mana yang paling enak, lalu dinikmati setiap hari.

Menariknya, segmen rokok terjangkau saat ini tidak lagi sekadar menawarkan harga murah, melainkan berlomba menghadirkan inovasi rasa, racikan saus yang khas, serta kualitas isapan yang tetap memuaskan.

Tanda Tambah, Aroma Mild, Gajah Baru memberi kita pilihan untuk tetap merokok Sigaret Kretek Mesin. Sementara Djarum 76 dan Juara memberi kita pemahaman jika variasi rasa kretek tangan beragam, jadi bisa dinikmati dengan baik.

Merokok Merupakan Hiburan Paling Murah

Di zaman yang semakin berat ini, cukup banyak orang yang menganggap bahwa merokok sebuah pemborosan. Namun, kita tetap memilih merokok karena kita tahu hanya ini hiburan paling murah yang bisa ditawarkan kehidupan. Karena kita tahu, apa-apa mahal jadi kita merokok sebatang dua batang saja ketika pusing.

Maka jangan heran ketika makin banyak Indomaret menyediakan kursi besi untuk para perokok yang membutuhkan sedikit waktu merelaksasi diri sebelum pulang ke rumah dengan tersenyum. Sebelum kembali bercengkrama dengan keluarga tanpa membawa beban di kantor.

Baca Juga:  Benarkah Perokok Setuju Cukai dan Harga Rokok Naik?

Rokok memang semakin mahal, tetapi anggaran belanja untuk rokok tidak perlu lebih tinggi dari kebutuhan lain yang lebih penting. Makan anak dan keluarga tentu lebih penting daripada merek rokok mahal kita. Karenanya, turun kasta bukanlah aib bagi gengsimu yang tinggi.

Menyesuaikan pilihan dengan kapasitas dompet adalah tindakan paling bijaksana di tengah situasi ekonomi seperti ini. Lagipula, bergeser ke merek yang lebih ekonomis bukan sekadar kompromi belaka, karena pada akhirnya kita bisa menikmati eksplorasi cita rasa yang juga makin beragam.

Aditia Purnomo