Ade Rai

Ade Rai dan Gagal Paham Soal Produk Konsumsi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tidak ada produk konsumsi yang tak memiliki faktor risiko penyakit. Tidak satupun. Udara yang kita hirup sehari-hari pun tak terelakkan dari risiko. Apalagi kita tinggal di perkotaan ataupula di kawasan industri. Lebay saja jika masih ada orang maupun media yang memframing rokok sebagai pembunuh utama, penyebab kanker, stunting, dan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Seperti halnya yang dinyatakan Ade Rai pada waktu lalu.

Ade Rai secara gamblang membeberkan variabel produk konsumsi, yakni kandungan yang ada produk minuman berenergi hingga mampu meningkatkan stamina boleh dikonsumsi selama dalam batas yang wajar. Sementara, di sisi lain, Ia juga menyebut bahwa rokok adalah penyebab utama kematian. tidak peduli bagaimana konsumsinya. Pokoknya rokok itu penyebab kematian.

Sehingga tersirat dari pernyataannya itu, bahwa kandungan yang terdapat pada minuman berenergi jauh lebih dibutuhkan tubuh ketimbang rokok. Tergelitik pikiran kritis saya membaca isi pernyataan itu.

Manusia selow seperti saya kerap kali tertantang untuk memeriksa kewarasan jalan pikir saya sendiri. Mungkin bagi Ade Rai memeriksa kewarasan pikir itu tak perlu-perlu amat, barangkali untuk bersikap adil sejak dalam pikiran pun sudah dianggap tak penting lagi.

Baca Juga:  Ruang Merokok Bukan Wadah Untuk Mengucilkan Perokok

Nikotin yang terkandung pada tembakau, kentang, terong, kembang kol, maupun jenis vegetasi lainnya memang tak usahlah disebut-sebut manfaatnya bagi tubuh dan kesehatan. Nanti akan banyak orang berhenti makan sayur olahan. Bahkan bisa jadi hanya akan memunculkan tuduhan publik yang bunyinya bakal begini, “situ haus legitimasi publik ya atas apa yang situ konsumsi atas apa yang juga situ yakini?”

Nikotin yang ada pada tembakau sebagai salah satu bahan utama rokok memang tidak perlu dibela mati-matian. Tak ada kok yang sia-sia Tuhan ciptakan. Cukuplah sejarah yang bicara, bahwa ada Albert Einstein, Soekarno, Sartre, Haji agus Salim, Albert Camus, dan … ah sudahlah. Terlalu banyak nama orang hebat yang rata-rata meninggal bukan karena dibunuh oleh rokok atau pula tembakau yang mereka konsumsi.

Mungkin kalau sejak dulu ada minuman berenergi seperti sekarang, nama-nama orang hebat itu bakal lebih dipilih untuk jadi bintang iklan ketimbang Mas Ade yang aduhai itu.

Tanpa bermaksud mengolok-olok Ade Rai yang gemar pamer otot, buat saya sih kalau tubuh sudah capek ya jangan terus digenjot biar tetap berenergi. Dibawa istirahat. Rileks sebentar, ngerokok-ngerokok dulu. Toh yang tidak merokok seperti mantan menteri kesehatan yang dulu saja bisa kena kanker. Energi tubuh ada batasnya begitupula umur manusia. Masa iya tubuh lelah aja perlu dibohongi pakai minuman berenergi.

Baca Juga:  Mengapa Rencana Kenaikan Tarif Cukai Rokok Harus Ditolak?

Bagi yang masih merasa perlu minum minuman berenergi untuk meningkatkan stamina ya silakan, bagi yang butuh rileks dengan merokok juga silakan. Asal itu proporsional, artinya tidak berlebihan, sah-sah saja. Toh itu semua dikonsumsi dengan segenap tanggung jawab. Merokok dengan tetap menjaga kesantunan, sehingga tak ada orang lain yang merasa dicederai haknya. Dengan pula tetap menjaga kearifan sosial, ada teman yang lagi manyun coba dihibur sambil merokok bareng. Siapa bilang etos-etos kebaikan semacam itu tak memberi energi lebih?

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah