Ramadhan di Tengah Pandemi dan Pelajaran Saling Menghargai

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PP Muhammadiyah telah merilis maklumat hasil hisab yang menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah 1441 H atau 2020 masehi. Awal Ramadhan ditetapkan pada 24 April 2020, sedangkan Idul Fitri jatuh pada 24 Mei 2020. Sementara itu, Pemerintah baru berencana melakukan Sidang Isbat pada Kamis 23 April 2020 (hari ini).

Terlepas dari perbedaan tanggal awalan, suasana menjelang Ramadhan selalu bisa dirasakan bersama. Iklan di televisi, promo-promo belanja, serta diskusi di media sosial soal rencana bukber dan pamer harta reuni sekolah jadi penanda bahwa bulan puasa sudah dekat.

Hal lain yang sering turut menyemarakkan momen menjelang Ramadhan di Indonesia adalah perdebatan tentang boleh atau tidaknya warung makan berjualan selama bulan puasa. Perdebatan ini seolah jadi diskursus rutin tiap tahun. Media sosial akan segera dipenuhi oleh berbagai macam manusia dengan kepintaran dan keyakinannya masing-masing. Semua berteori. Semua berbicara. Entah siapa yang mau mendengar.

Tapi itu bukan hal yang penting untuk diperuncing. Komunitas Kretek tentu berbeda dengan media mainstream yang senang mengutip ‘keributan’ di dunia maya demi memancing pembaca. Bagi saya (dan teman-teman di Komunitas Kretek), bulan puasa adalah bulan pembelajaran; menghargai perbedaan keyakinan dan pilihan. Yang tidak berpuasa punya hak yang setara dengan yang berpuasa. Prinsip toleransi ini selalu dijadikan pedoman termasuk dalam agenda advokasi perokok.

Baca Juga:  Bisnis dan Kuasa Pengetahuan dalam PP Tembakau

Dalam konteks aktivitas merokok, perokok kerap menghadapi berbagai bentuk diskriminasi. Mulai dari stigma negatif, disamakan dengan penjahat, hingga label biang penyakit sering dialamatkan pada perokok. Persoalan rokok telah membawa perpecahan yang cukup panjang dalam kehidupan bermasyarakat.

Kendati begitu, Komunitas Kretek tetap setia untuk mengampanyekan nilai-nilai seorang perokok santun, yaitu perokok yang mampu menghargai hak orang lain yang memilih untuk tidak menjadi perokok. Pun demikian sebaliknya, perokok punya hak secara konstitusional, yakni hak untuk bebas dari perlakuan diskriminatif, yang terutama adalah hak atas ruang merokok. Itu yang diperjuangkan. Tidak ada agenda mengajak orang yang bukan perokok untuk berbondong-bondong mencoba rokok. Tidak ada.

Bulan puasa adalah bulan yang baik. Sebaiknya diisi dengan belajar untuk berprasangka baik dan membuang prasangka buruk. Di bulan puasa pula perokok memberi pembuktian bahwa selama ini tuduhan anti-rokok yang menyebut perokok adalah kelompok pesakitan yang dilanda candu, itu salah. Perokok (yang muslim) turut berpuasa, menahan lapar, haus, juga asem di mulut. Apa yang terjadi pada tubuh perokok ketika berpuasa? Tidak ada apa-apa. Tidak sakau. Tidak kejang-kejang. Biasa saja.

Baca Juga:  Merokok di Ruang Privat Bukanlah Urusan Bima Arya

Syahdan, Ramadhan tahun ini akan terasa berbeda. Bumi sedang tidak baik-baik saja. Semua manusia dilanda kekhawatiran yang sama. Umat muslim di seluruh dunia harus menjalankan ibadah puasa sambil berjuang menghadapi wabah virus corona. Kita tidak bisa merencanakan bukber dan reuni karena kebijakan social & physical distancing. Tidak ada ngabuburit, tidak ada perang sarung, dan tidak boleh mudik bolehnya pulang kampung. Ingat, virus corona tidak bergerak, kita yang memindahkannya. Pola hidup, perilaku, dan aktivitas kita akan mempengaruhi kehidupan orang lain di sekitar kita.

Selain harus membiasakan pola hidup yang ekstra bersih, kita juga harus merawat pikiran sehat. Sudahilah prasangka buruk, ribut-ribut, juga kampanye anti-antian (wabil khusus anti-rokok) yang menebar ketakutan. Itu merusak pikiran. Semoga dalam waktu dekat kita bisa melihat titik terang toleransi, baik soal perbedaan keyakinan maupun perbedaan pilihan.

Di atas itu semua, kita sama-sama berharap pandemi global segera berakhir. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd