×

Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional

Dalam Artikel Ini

Soeharto jadi pahlawan nasional Komunitas Kretek

Dalam Artikel Ini

Wacana pengangkatan Soeharto jadi pahlawan nasional memang sudah lama digaungkan. Berbagai alasan dikumandangkan. Baik itu sebagai prajurit perang, maupun jasanya sebagai bapak pembangunan selama 32 tahun berkuasa dengan gaya otoritarianisme.

Mengutip perkataan Gus Dur, “Soeharto jasanya besar tapi dosanya juga lebih besar.” Bukan hanya dalam konteks sosial politik secara umum, tapi juga jahat kepada industri hasil tembakau. Khususnya kepada petani cengkeh.

Pasalnya, berbicara tentang cengkeh, itu artinya bicara kejayaan sekaligus derita. Sejak dulu, cengkeh menjadi rempah yang amat dibutuhkan dunia. Cengkeh mengundang pelaut Eropa untuk datang dan menguasai Nusantara. Kemampuannya untuk mengawetkan makanan saat itu membawa masa jaya sekaligus derita kepada masyarakat nusantara.

Pada masa itu, masyarakat Ternate mengobarkan perang karena sikap dan keinginan para pedagang Eropa. Jika sebelumnya transaksi dan jual beli cengkeh terbuka untuk semua pedagang, bangsa Eropa menginginkan semua komoditas itu dijual belikan melalui mereka. sistem monopoli yang bertahan sedari kekuasaan Portugis hingga pemerintah kolonial Belanda.

Setelah dunia modern menemukan lemari es, peran cengkeh untuk mengawetkan makanan mulai tergantikan. Komoditas yang sebelumnya menjadi primadona ini mulai terpinggirkan, kehilangan pelanggan, dan akhirnya terjadi kemiskinan

Hingga kemudian jelang abad 20 berakhir, ditemukannya kretek oleh Haji Djamhari, penemuannya kembali mengangkat marwah cengkeh dalam sektor perdagangan. Penemuan itu bisa terjadi karena ia sedang meramu obat untuk meredakan penyakit pernapasannya.

Kembalinya kejayaan cengkeh dalam dunia dagang (salah satunya) ditandai dengan ditanamnya komoditas ini di banyak daerah. Dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, hampir semua menanam cengkeh.

Baca Juga:  Pidana Kurungan dan Gagal Panen Cengkeh Warnai Kaleidoskop Kretek 2017

Keadaan ini juga didorong oleh berkembangnya industri kretek nasional yang menggunakan cengkeh sebagai bahan baku. Meningkatnya jumlah produksi kretek tentu meningkatkan juga produksi cengkeh yang dibutuhkan industri ini.

Jejak anak Soeharto di industri cengkeh

Pada 1960-an, Indonesia mengimpor cengkeh. Dalam rangka memuluskan impor cengkeh, Soeharto memberikan hak impor kepada PT Mega dan PT Mercu Buana pada 1968. Perlu diketahui, kedua perusahaan tersebut mempunyai hubungan erat dengan Keluarga Cendana.

Pemilik PT Mega adalah Liem yang merupakan kawan lama Soeharto. Sedangkan pemilik PT Mercu Buana adalah Probosutedjo, adik tiri Soeharto. Di masa Orba, petani cengkeh memang sempat berjaya. Namun, kejayaan tersebut berakhir lewat keputusan Presiden pada 1992 seiring terbentuknya Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dipimpin langsung oleh Tommy, putra Soeharto.

BPPC menjadi pengontrol tunggal industri cengkeh. Semua cengkeh dari petani wajib dijual ke Koperasi Unit Desa, untuk nantinya dibeli oleh BPPC. Mirip masa penjajahan Belanda pada saat memonopoli cengkeh di Maluku.

Keberadaan lembaga ini menjadi momok yang tak kalah menakutkan dari penjajah Eropa bagi para petani. Mirip dengan apa yang dilakukan penjajah, BPPC juga melakukan upaya pengendalian perdagangan dengan cara monopoli. Semua cengkeh dari petani harus dijual ke Koperasi Unit Desa sebelum nantinya diborong oleh BPPC.

Selaku pihak tunggal yang memiliki wewenang untuk membeli cengkeh, BPPC memiliki kendali penuh atas harga. Tommy menetapkan harga beli serendah mungkin dari petani, lalu menjualnya ke pabrik rokok dengan harga yang jauh lebih tinggi. Sebelum BPPC berdiri, harga cengkeh terendah mencapai Rp20 ribu per kilogram.

Baca Juga:  Penjualan Cengkeh Lesu Akibat Wabah

Namun, setelah BPPC beroperasi, harga cengkeh anjlok drastis hingga hanya Rp2 ribu per kilogram. Akibatnya, cengkeh yang dulunya dianggap sebagai komoditas berharga layaknya emas, berubah menjadi sekadar rempah yang kehilangan nilainya.

Jatuhnya harga cengkeh ini kemudian membuat banyak petani memilih untuk menebangi tanamannya diganti dengan tanaman lain. Kalaupun ada yang tidak ditebang, tapi kebanyakan petani memilih untuk tidak mengurus kebunnya. Toh diurus pun tidak ada artinya, harga cengkeh terlalu rendah untuk bisa menghidupi mereka.

Apa yang dilakukan oleh BPPC ini memang amat mirip dengan apa yang dilakukan oleh penjajah Eropa pada masa lalu. Penguasaan perdagangan dan penentuan harga yang rendah dilakukan agar keuntungan yang mereka dapatkan naik berkali-lipat. Sementara nasib masyarakat yang menanam cengkeh, kalau tidak mau menuruti keinginan mereka pilihannya cuma dibunuh atau dibuang.

Sialnya, ayah dari anak pelaku penjajahan cengkeh ini sekarang dilantik sebagai pahlawan. Pahlawan yang justru dalam realitanya melakukan penjajahan.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang

BACA JUGA: Cengkeh: Wajah Indonesia yang Menggoda bagi Eropa