×

Dana Asing Porakporandakan Industri Tembakau di Indonesia

Dalam Artikel Ini

Dana asing porakporandakan industri tembakau Komunitas Kretek

Dalam Artikel Ini

Michael Rubens Bloomberg adalah sosok pebisnis sekaligus politisi yang menjadi pendonor kampanye antirokok di Dunia. Bloomberg ingin menjelma sebagai pejuang kesehatan publik lewat Institute for Global Tobacco Control yang berdiri pada 1998. Lembaga itu membuat terjemahan bukti-bukti ilmiah untuk mempengaruhi kebijakan WHO mengenai masalah tembakau.

Kemudian, pada 2005, Bloomberg Philanthropies telah mendonor lebih dari US$1,58 miliar atau sekitar Rp15,326 triliun untuk mendukung pengendalian tembakau secara global, termasuk di Indonesia, yang dianggap sebagai salah satu pasar rokok terbesar di dunia.

Mengutip dari tobaccocontrolgrants.org. Bloomberg telah mengucurkan dana ke pelbagai LSM, universitas, dan kementerian, termasuk Muhammadiyah. Jumlah uang yang diberikan bervariasi, tergantung bentuk kampanye yang masing-masing lembaga lakukan. Bloomberg Initiative sendiri merupakan program anti tembakau yang didanai oleh Michael R Bloomberg.

Dana asing ke berbagai lembaga untuk kendalikan tembakau

Di Indonesia, dana ini disalurkan ke berbagai lembaga, termasuk organisasi non-pemerintah (NGO/LSM), universitas, dan instansi pemerintah untuk mendukung penelitian, advokasi, dan kampanye anti-tembakau. Salah satu contoh kebijakan yang keluar dari gelontoran dana ini adalah PP No. 109 Tahun 2012, yang mengatur pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif, termasuk tembakau, dengan ketentuan seperti pelabelan peringatan kesehatan, pembatasan iklan, dan kawasan tanpa rokok (KTR).

Bahkan, mengutip dari Kompas, Hasbullah Thabrany, selama menjadi Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia mengakui bahwa upaya memerangi rokok. Memang sebagiannya didonor dana hibah dari Bloomberg. Untuk Pusat Kajian Jaminan Sosial UI sendiri, Thabrany menyebut dana yang diterima adalah Rp 4 miliar untuk dua tahun.

Dana ke perguruan tinggi

Menurut budayawan, Mohamad Sobary, banyak pihak dipengaruhi oleh uang. Para pejabat di, tingkat menteri, gubernur, dan bupati/wali kota. Semua menjadi korban yang berbahagia, karena limpahan uang yang tak sedikit jumlahya untuk masing-masing pihak. Mereka menjadi korban kecil, karena harus membuat aturan dan sejumlah larangan merokok, yang mungkin tak sepenuhnya cocok dengan hati nurani.

Tapi apa artinya hati nurani di zaman edan ini dibanding uang yang melimpah? Para pejabat itu rela membunuh hati nurani mereka sendiri demi uang. Berikut beberapa kubu antirokok di Indonesia yang mendapatkan kucuran dana untuk mengkampanyekan gerakan antirokok dan pembunuhan terhadap kretek sebagai produk yang khas dan hanya ada di Indonesia.

Baca Juga:  Cukai Rokok 2021 Naik Karena Alasan Kesehatan?

Di deretan perguruan tinggi ada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). Dana yang digelontorkan sebesar USD 280.755. Dana itu untuk mempengaruhi pengambil kebijakan tentang pajak dan harga rokok. Programnya dimulai pada Oktober 2008 dan berakhir pada Juli 2011.

Masih di Universitas Indonesia (UI), ada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang juga  menerima dana dari Bloomberg. Jumlahnya mencapai USD 335.866. Dana itu untuk mendorong reformasi pertembakauan sekaligus menaikkan pajak rokok. Program dari Bloomberg untuk FKM UI itu dimulai pada Februari 2015 dan akan berakhir pada Januari 2017.

Ada juga aliran ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Besarnya adalah USD 68.794 untuk menyusun rancangan peraturan tentang pengendalian tembakau dan larangan iklan rokok.

Program itu berlangsung mulai Desember 2015 hingga November 2016. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan. Jumlahnya mencapai USD 300.000 pada September 2008 hingga Agustus 2011. Tujuannya adalah untuk mengembangkan strategi pengendalian tembakau. Termasuk mengontrol penggunaan tembakau di tujuh provinsi.

Kampanye-kampanye menghancurkan tembakau

Pada November 2011 hingga Oktober 2013, Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular kembali menerima kucuran hingga USD 300.000 dari Bloomberg. Tujuannya untuk mendorong implementasi UU Kesehatan dengan menerapkan peringatan dan label pada kemasan rokok.

Pada Maret 2014-Februari 2016, Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak menular menerima kucuran USD 250.039. Tujuannya untuk peningkatan kapasitas kesehatan masyarakat dalam menerapkan aturan pengendalian tembakau yang efektif.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali pun menerima dana dari Bloomberg. Tujuannya untuk mendorong peraturan daerah (perda) kawasan bebas asap rokok di DPRD Bali. Dana yang digelontorkan sebesar USD 159.621.

Programnya berlangsung mulai Maret 2012 dan berakhir pada Februari 2014. Tapi ada juga LSM yang menerima dana Bloomberg. Salah satunya adalah ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang menerima dana USD 455.911.

Baca Juga:  Memahami Grade Tembakau dan Kerja Para Grader di Temanggung

Dana itu untuk program advokasi hak-hak anak sekaligus mendorong aturan yang melarang iklan rokok secara menyeluruh. Program yang dimulai Mei 2008 itu berakhir pada Januari 2011.

Komnas PA tak hanya sekali menerima dana dari Bloomberg Initiative. Untuk program yang sama, organisasi itu menerima dana USD 200.000 mulai Maret 2011 hingga Februari 2013.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga menerima kucuran dana dari Bloomberg. Demi advokasi untuk implementasi regulasi tentang zona larangan merokok di Jakarta, YLKI mendapat kucuran USD 105.493 mulai Desember 2012 hingga Januari 2014.

Pada Februari 2014 hingga Oktober 2015, YLKI juga menerima kucuran sebesar USD 150.825. Tujuannya untuk kampanye tentang penguatan zona larangan merokok di Jakarta.

Sedangkan pada Mei 2008 hingga Juli 2010, YLKI mendapat kucuran USD 454.480. Tujuannya untuk mengkampanyekan larangan iklan rokok dan zona bebas asap rokok di Jawa.

LSM Indonesia Corruption Watch (ICW) pun masuk daftar penerima dana dari Bloomberg. Besarnya USD 47.470 untuk kampanye antirokok dengan mendorong pemerintah agar lebih berani dalam mengeluarkan regulasi terkait tembakau.

Sebuah LSM di Medan, Sumatera Utara bernama Yayasan Pusaka Indonesia juga berkali-kali menerima dana dari Bloomberg. Antara lain USD 32.010 pada November 2011 hingga Desember 2012, USD 74.00 pada Desember 20912 hingga Juli 2014,USD 86.587 pada periode Juli 2014 hingga September 2015, serta USD 94.832 pada September 2015.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang

BACA JUGA: Katanya 1 Batang Rokok Pangkas Hidup 20 Menit, Tapi Para Petani Tembakau di Temanggung Banyak yang Panjang Umur.