×

Tetesan Embun di Tembaku Tambeng Membuat Harganya Fantastis

Dalam Artikel Ini

Mengulik Tembakau Tambeng MOJOK.CO

Dalam Artikel Ini

Catatan Ekspedisi Emas Hijau Jilid II: 

Selasa, 22 Juli 2025,  saya dan Angga kembali ke Situbondo, kami masih ingin mengulik Tembakau Tambeng. Siang pukul 13.00 WIB, kami bertemu dengan Pak Rawi di toko tembakaunya. Bentuknya sederhana, terbentuk dari kayu. Mirip bangunan pos ronda. Di tokonya tersedia banyak tembakau. Di pinggir tokonya ada warung kopi. Sungguh strategis.

***

Sialnya, hingga siang itu kami masih belum mendapatkan kabar pasti bisa bertemu dengan Pak Kades. Katanya ia sedang sibuk mengurus hajatan. Akhirnya, Pak Rawi berusaha menjanjikan bisa bertemu malam nanti lepas Magrib, sekitar pukul 19.00 WIB. Alhasil, kami diarahkan bertemu dengan Cak Salim, petani muda Dusun Tambeng, kenalan Pak Rawi.

Pukul 14.00 WIB, kami melaju ke Dusun Tambeng. Tidak ada sinyal di sana. Jadi segala kebutuhan yang menggunakan internet tidak akan bisa digunakan. Paling beli voucher WiFi ke warga setempat.

Sepanjang jalan menuju tempat pertemuan. Banyak masyarakat Tambeng sedang menjemur tembakau.

Sebagian lainnya ada yang sedang sibuk merajang. Baik menggunakan mesin atau  manual. Di sana, kami disambut Cak Salman di rumah ketua kelompok tani setempat, Cak Maat. Karena kebetulan di rumah Cak Maat, sanak keluarganya sedang melepaskan daun tembakau dari tangkainya. Dalam bahasa Madura disebut meret. 

Tak ada yang istimewa dari Tembakau Tambeng tapi harganya fantastis

Sambil berbincang, kami disuguhi  kopi hitam panas dan rokok linting. Di sini kami diberitahu bahwa di Desa Lubawang, terdapat lima jenis varietas yang sering dipakai oleh petani. Di antaranya; Krepik. Krepik ini mempunyai dua varian lagi, yaitu Krepik Mawar dan Nangka, lalu, Bukabuh, Moris (tembakau sawah), dan Opot (tembakau sawah).

Baca Juga:  Di Pasar Tradisional Papringan Temanggung: Perokok dan Non-Perokok Bisa Sama-sama Enak, Tak Seperti di Malioboro

Tembakau unggulan yang disebut tembakau Tambeng itu berasal dari dua varietas, yakni Krepek dan Bukabuh. Nomor satu yang dianggap paling super itu Krepek. Perbedaan mencoloknya terdapat ketika merawat tanamannya. Varietas Krepek, perlu perhatian khusus. Seminggu sekali, bunganya perlu dipetik–supaya hasil dari daunnya maksimal.

Proses merajang Tembakau Tambeng Komunitas Kretek

Cak Maat sendiri memilih menanam varietas Bukabuh karena perawatannya tidak seintens Krepek. Baginya, di Situbondo bukan hanya di Besuki tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan tembakau Tambeng.

Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari proses terciptanya tembakau ini. Dijemurnya juga di pinggir jalan, menyatu dengan debu.

Satu-satunya penjelasan dari obrolan sore hari itu. Tembakau Tambeng bisa dianggap super, karena di tanam di lereng, mendapatkan embun dan sinar matahari pertama.

Perbincangan sore itu hanya berlangsung sejam. Karena Cak Maat punya kesibukan, di sisi lain, tidak ada yang bisa kami amati selain aktivitas meret. Akhirnya kami diminta main lagi ke Tambeng malam harinya. Melanjutkan proses merajang setelah daun tembakau beres di meret.

Baca Juga:  Lika-liku Mengulik Tembakau Tambeng

Pukul 19.00 WIB, kami sampai di rumah Cak Maat lagi. Di sana kami diajak untuk melihat proses merajang. Cak Maat sendiri menggunakan alat manual. Bedanya menggunakan mesin atau manual itu tergantung tujuannya mau dipakai untuk apa.

Apabila tembakau mau dijual ke pabrik. Maka tembakau perlu dirajang dengan mesin. Karena pabrik biasanya membutuhkan rajangan kasar. Sedangkan, bila tembakaunya mau dijual eceran ke toko bako. Perlu menggunakan alat manual, jadinya rajangan halus. Karena biar mudah untuk dilinting.

Setelah proses merajang beres, tembakau disiapkan untuk dijemur. Ditaruh sejak malam, tidak perlu menunggu pagi. Dibiarkan supaya terkena embun. Konon, karena proses inilah tembakau Tambeng, harganya menjadi fantastis!

Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang

BACA JUGA: Lika-liku Mengulik Tembakau Tambeng