Dari lima orang tim Rumah Kretek Indonesia, saya pergi sendirian ke Garut untuk menelusuri jejak tembakau Mole.
Berangkat dari Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, tujuan pertama yang saya sambangi adalah rumah kawan saya semasa sekolah, Rifaldi. Rumahnya berada di Desa Cisurupan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, pada Senin, 18 Agustus 2025, sekitar pukul 14.00 WIB.
Kawan saya tidak menggeluti dunia tembakau, karena ia seorang pengusaha peternakan domba. Kendati demikian, ia salah satu orang yang membantu saya menghubungkan dengan para petani tembakau di Garut.
Tidak hanya Rifaldi, kawan lama saya juga ikut menemani perjalanan ini, namanya Azmy. Ia juga tidak menggeluti dunia tembakau. Hanya mengikuti isu perang narasi soal rokok dalam lingkup politik.
Cinisti Garut adalah tempat perajang handal
RIfaldi mengenalkan saya dengan Mang Rizal. Ia seorang anak petani tembakau. Meskipun sekarang ia menggeluti dunia ternak. Tapi wawasan tentang tembakau masih tersisa dari ayahnya.
Rizal menjadi tour guide kami, dan Rifaldi menyediakan transportasi berupa mobil. Awalnya, saya pikir akan dikenalkan dengan ayah Mang Rizal. Tetapi ternyata ayahnya menyarankan untuk mengunjungi saudaranya. Pasalnya, ayah Rizal, tahun ini sedang tidak menanam tembakau.
Perjalanan ke Cinisti, Garut membutuhkan waktu sekitar 45 menit menggunakan mobil. Di sana, oleh Mang Rizal, kami diajak berkenalan dengan Abah Ateng. Seseorang yang menjadi petani tembakau turun temurun dari keluarganya. Abah Ateng sendiri serius menjadi petani tembakau sejak 1991.
Selain karena pekerjaan dari nenek moyang, Abah Ateng mengaku karena memang tidak ada akses pekerjaan lain. Dan hanya tembakau yang bisa memenuhi keperluan ekonomi.
Abah Ateng mengaku, ia perlu waktu dua tahun supaya menjadi perajang handal. Karena tantangan menjadi petani tembakau itu yang paling beratnya adalah skill merajang.
Ketika kami sampai, istri Abah Ateng sedang mengangkat tembakau yang sedang dijemur di atas sasag (wadah bambu), lalu dimasukkan ke rumah untuk disimpan di atas tungku, lalu dibungkus dengan plastik.
Penjemuran tembakau di Garut itu bisa memakan waktu berhari-hari, biasanya 15 hari. Bahkan bisa lebih lama lagi demi menghasilkan tembakau berkualitas, mereka bisa menjemur sampai 30 hari.
Apa itu Mole?
Abah Ateng mengartikan Mole sebagai metode pengolahan. Tembakau bisa disebut Mole ketika warnanya hitam kemerah-merahan atau hitam dengan corak-corak putih.
Bagi abah Ateng, bibitnya bisa dari apa saja. Yang penting soal pengolahan. Abah Ateng menyebutkan bahwa penjemurannya harus lama, sampai 30 hari. Supaya tembakau menghitam.
Tembakaunya juga harus di-kawakkan (melawaskan) minimal delapan bulan. Namun, Abah Ateng mengaku tidak tahu pasti soal Mole. Karena ada yang menyebutkan itu juga nama merek.
Dari tembakau untuk kehidupan
Kebetulan saudara Abah Ateng juga sedang bertamu, namanya Abah Yusuf. Ia juga seorang petani tembakau. Ia pun sama menjadi petani karena faktor keturunan.
Mereka mengaku selama ini hidup dari tembakau. Dari tembakau, kebutuhan rumah tangga terpenuhi, bisa mengenyam pendidikan, hingga modal untuk nikah.
Bahkan semua modal nikah anak-anak Abah Ateng itu dihasilkan dari tembakau. Kendati lahannya cuma 200 meter persegi, tapi hasilnya sangat mencukupi.
Abah Ateng bukan hanya petani tembakau, ia juga petani sayuran, sekaligus buruh rajang. Pasalnya, Cinisti, Garut, itu lebih dikenal sebagai tempat merajang daripada pusat ladang tembakau. Ada pun hanya ukuran kecil seperti punya abah Ateng sendiri yang hanya berukuran 200 M persegi.
Tembakau yang dirajang di Cinisti, dari tuturan abah Ateng, biasanya tembakaunya itu dikirim dari Gunung Dayeuh Kolot, Gunung Puntang, dan berbagai lahan lainnya. Kemudian dirajang di Cinisti yang terkenal dengan keahlian meret-nya yang handal.
Bedanya tembakau dengan sayuran
“Jadi petani tembakau itu kurang tidur, sedangkan jadi petani tomat itu, tidurnya maksimal,” kata Abah Ateng,
Kurang tidur yang dimaksud Abah Ateng itu karena petani tembakau harus bergadang semalam suntuk ketika musim panen tiba. Tembakau yang sudah dipetik harus segera dipisahkan dari tangkai dan pelepahnya.
Setelah itu harus segera dirajang. Kemudian dijemur di atas sasag. Harus diperhatikan pula supaya langsung diangkat karena akan bahaya bila turun hujan. Itulah yang dimaksud dari kurang tidur.
Abah Ateng dan Yusuf juga menambahkan bahwa modal menjadi petani sayur, misalnya tomat. Modalnya cukup banyak. Tapi tidurnya cukup.
Hanya saja, menjadi petani tomat itu perlu mengandalkan keberuntungan. Menurut subjektivitas Abah Ateng dan Yusuf. Tidak ada satu pun orang yang bisa memastikan harga tomat akan anjlok atau tidak.
Masalahnya ketika anjlok, petani tidak akan balik modal. Bahkan minus. Sedangkan tembakau. Seburuk-buruknya harga penjualan. Minimal tetap bisa balik modal.
Bibit favorit di Cinisti, Garut
Bibit favorit yang ditanam itu namanya Rancung Koneng. Rancung berarti tajam dan Koneng berarti kuning. Bibit ini dianggap mempunyai kualitas bagus, karena rasanya sedap. Dan bisa diatur menjadi berat-ringannya rasa. Tergantung seberapa lama proses penjemuran, dan pengkawakkan.
Bibitnya sendiri banyak tersebar di Cinisti, Gunung Dayeuh dan Gunung Puntang. Abah Ateng sendiri tidak perlu membeli bibit. Karena petani tembakau di sini mempunyai solidaritas tinggi untuk saling berbagi bibit.
Sebetulnya ada banyak bibit favorit di Garut. Misalnya bibit Darwati. Hanya saja penggunaan bibir Darwati dijual dalam bentuk daun basah. Bukan rajangan. Sedangkan keuntungan jauh lebih besar tembakau rajangan.
Dari bibit Rancung Koneng ini, nantinya disebut sebagai Tembakau Cinisti. Jadi, nama tembakau hasil rajangan belum tentu sama penyebutannya dengan nama bibitnya.
Pisau dari Ciwidey jauh lebih bagus daripada dari pemerintah
Abah Ateng menceritakan bahwa sistem meret (merajang) di sini sangat teliti. Pasalnya, mereka melepaskan pelepah daun tembakaunya satu persatu supaya menghasilkan tembakau yang tipis dan lembut.
Dari penjelasan Abah Ateng, petani di Cinisti, Garut itu tidak menggunakan mesin. Semuanya menggunakan alat manual. Alatnya sendiri dibeli dari desa Ciwidey, kecamatan Ciwidey, Bandung, Jawa Barat.
Sebetulnya pemerintah juga memberikan bantuan berupa sepaket alat rajang. Hanya saja, pisau yang diberi pemerintah itu tidak bisa bertahan lama. Mentok cuma sampai 6 bulan.
Itu pun harus terus diasah setiap kali dipakai. Alhasil, para petani lebih memilih membeli pisau dari Ciwidey. Meskipun harganya bisa mencapai Rp500 ribu. Pemakaiannya maksimal bisa sampai enam tahun.
Bantuan dari pemerintah hanya untuk pendukungnya saja
Tidak semua petani mendapatkan subsidi pupuk. Alasannya pun sederhana, pertama tidak punya kartu tanda anggota kelompok tani, kedua bukan pendukung penguasa ketika pemilu.
Abah Ateng mengaku tidak mempunyai kartu tanda anggota kelompok tani. Ia menyiasatinya dengan meminjam kartu anggota Abah Yusuf ketika mau membeli pupuk. Dari fenomena itu Abah Ateng dan Yusuf mengaku kesal, mengapa urusan politik dibawa ke pertanian. Seolah rezeki diatur oleh penguasa.
Pasalnya, organisasi dan kelompok tani setempat dijadikan sebagai lahan basah politisi untuk mendapatkan dukungan. Alhasil, pupuk yang seharusnya diberikan kepada semua petani – justru dimonopoli. Dan hanya diberi kepada para loyalisnya saja.
Untungnya, sentimen tersebut hanya terjadi di jajaran organisasi atau kelompok taninya saja. Sedangkan di akar rumput, para petani hidup guyub. Bahkan saling meminjamkan kartu anggota kelompok taninya supaya yang tidak punya bisa dapat pupuk subsidi.
Mendengar situasi politik yang buruk di Garut, kekhawatiran saya jadi muncul. Saya takut, nantinya perajin rajang dari Garut musnah bila pemerintah tak mengakomodasi.
Politik dalam konteks pemilu boleh beda. Akan tetapi, urusan tembakau itu menyangkut sosial, ekonomi dan budaya. Sungguh menyakitkan bila hancur karena ego praktis semata!
Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang
BACA JUGA: Tembakau Mole Merah dan Putih Khas Tanah Pasundan
- Ibu Minah, Penjual Sayur Keliling Ketiban Rezeki Noplok: Menang Undian Mobil dari Pihak Djarum Selepas Mengikuti Jalan Santai HUT Temanggung 191 - 26 November 2025
- Rokok yang Dihisap Hadi (Fedi Nuril) dalam Film “Pangku” dan Jangan Ditiru! - 15 November 2025
- Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional - 10 November 2025



