Catatan Ekspedisi Emas Hijau Jilid II: Mencicipi tembakau Kayumas yang lahir dari kemurnian
Masih di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo. Setelah puas berbincang dengan Cak Anam, Kami pun melanjutkan perjalanan ke Desa Kayumas pada Kamis, 24 Juli 2025. Desa yang terkenal dengan tembakau dan kopi.
***
Formasi yang awalnya bertiga (saya, Angga, Cak Sofyan) kini jadi berempat karena Cak Anam ikut menemani.
Jalan menuju Desa Kayumas penuh dengan kelokan. Namun, perjalanan kami dilengkapi dengan pemandangan kaki Gunung Ijen yang mempesona dan udara sejuk yang membelai kulit.
Di sana kami diajak berkenalan dengan Pak Sutrisno (32). Rupanya ia juga kawan satu pondok bersama Cak Sofyan dan Cak Anam. Reuni kembali karena Ekspedisi Emas Hijau Jilid II.
Tak berselang lama setelah saya dan Angga memperkenalkan diri, Cak Sutrisno langsung mengajak kami ke ladang. Berbincang dengan petani memang paling pas ketika di ladang. Jaraknya pun tak jauh.
Ladang Pak Sutrisno berdekatan pula dengan kandang kambing. Di sana ada kursi yang biasanya dipakai untuk istirahat ngopi, di sana lah kami berbincang. Awalnya, saya kira, Cak Sutrisno lah yang akan saya wawancarai, tapi dia menawarkan bapaknya saja. Dan Cak Sutrisno berperan sebagai penerjemah. Pasalnya, tidak banyak orang tua yang bisa berbahasa Indonesia.
“Desa Kayumas memang mayoritas petani tembakau. Meskipun juga ada petani yang menanam tembakau. Sudah terjadi turun temurun sejak puluhan tahun lalu. Bapak saya itu kelahiran tahun 1963. Sejak kecil beliau tinggal bersama si mbah diajari bertani. tidak hanya tembakau, masyarakat juga menanam jagung, padi, dan kopi,” kata Cak Sutrisno, sebagai isyarat untuk bapaknya saja yang diwawancara.
Menjadi petani turun temurun
Nama bapak Cak Sutrisno adalah Pak Syafii (62). Ia menjadi petani tembakau sejak lulus SD. Saat itu ia mulai menanam tembakau di tanah perhutani pada 2003. Bukan meminjam, melainkan sewa lahan.
Pak Sayfii juga tidak membeli bibit. Ia menyemainya sendiri. Menyemai bibit sudah menjadi tradisi turun temurun di Kayumas. Dari bunga tanaman tembakau dipelihara dan diolah sedemikian rupa hingga menjadi bibit yang berkualitas.
Di Kayumas itu ada beberapa macam jenis bibit yang cukup populer, yaitu Tipung Tular, Tipung Cangkek, Kasturi Mawar, Samporis dan Bukaboh. Namun untuk jenis bibit yang menjadi favorit untuk ditanam itu Tipung Tular dan Bukabuh.
Tipung Tular menjadi favorit karena ketika disimpan dalam kurun waktu tertentu, akan mengeluarkan minyak (ekstrak tembakau). Hal itu yang menjadikan varietas Tipung Tular ini harganya cukup mahal. Kalau lagi bagus, harganya bisa 800rb hingga 1.400.000/kg tergantung berapa lama penyimpanannya. Apabila semakin lama disimpan, akan semakin tinggi harganya.
Sedangkan Bukabuh memang tembakau unggulan Situbondo. Termasuk Tambeng juga menanam Bukabuh.
Dan yang paling menguntungkannya adalah harga tersebut langsung dari petani. Bukan harga yang dinaikkan oleh tengkulak. Desa kayumas memang terkenal dengan tembakau rajangan. Bukan untuk dikirim ke pabrik.
Namun, untuk daun yang baru panen tanpa melewati proses penyimpanan harganya berada di kisaran harga Rp200 ribu-Rp300 ribu. Harga jual juga diukur dari tingkat/urutan pemetikan panenan daun.
Kalau tingkat panen pertama itu harganya Rp150 ribu, panen kedua itu Rp250 ribu. Sedangkan tingkat tiga itu di kisaran Rp300 ribu-Rp500 ribu. Nah, panenan ketiga inilah yang konon memiliki kualitas paling bagus. Bagian daun dada hingga kepala.
Tak pakai pupuk demi jaga kualitas rasa tembakau Kayumas
Tidak hanya berbincang dengan Pak Syafii, Pak Sucipto (47) juga urun memberikan informasi. Ia salah satu petani tembakau senior di Kayumas. Ia juga pernah bertani di Tambeng selama dua tahun.
Tidak hanya soal pertanian, ia juga paham soal penjualan. Pasalnya, saudaranya di Besuki mempunyai gudang tembakau. Tempat menampung penjualan dari masyarakat Tambeng.
“Saya itu sudah dua tahun di Tambeng, tapi sekarang memilih bertani tembaku di Kayumas. Di Tambeng itu mereka pakai gula, sedangkan di sini murni tanpa campuran apa pun. Selain itu, saya juga bisa sekalian menanam kopi,” ucap Sucipto, sangat ekspresif.
Untuk menjaga kualitas rasa, petani tembakau Kayumas tidak menggunakan pupuk buatan/kimia. Sekalipun menggunakan pupuk, hanya pupuk kandang (organik) dari limbah sapi dan kambing. Itu pun dipakai hanya untuk menyuburkan tanah, bukan pas tembakau sudah ditanam. Selain karena menjaga kualitas rasa, ketersediaan pupuk Urea juga susah untuk. Masalahnya mirip seperti di desa Cak Anam, Ketowan.
Kebetulan tahun ini Pak Syafii maupun Pak Sucipto lebih banyak menanam kopi daripada tembakau. Hal itu diakibatkan curah hujan tak menentu, alias kemarau basah. Akibatnya, banyak tembakau yang rusak. Sehingga harga jual anjlok. Di lahan Pak Sucipto yang luasnya satu hektare itu, paling hanya ⅓ yang tanami tembakau.
Perihal musim
Sambil berbincang, saya juga ditawari untuk melinting tembakau milik Cak Sutrisno. Rasanya sungguh nikmat, hampir tidak ada rasa pahit. Menambah kesyahduan obrolan sore hari menjelang malam itu.
Nah, untuk timeline menanam tembakaunya, masyarakat Kayumas mulai menanam bulan Februari atau Maret. Dan persiapan menanamnya sudah dilakukan dari dua bulan sebelumnya.
Mulai dari menyiapkan tanah hingga penyemaian bibit. Pak Syafii dan Pak Sucipto sendiri sengaja memilih masa tanam di bulan-bulan penghujung musim hujan. Agar bisa memanfaatkan sisa-sisa musim hujan di awal musim kemarau.
Karena sebetulnya tembakau rajang/tembakau gunung memang tidak boleh terkena banyak air. Jika saja sering terkena air, pasti hancur dan gagal panen.
Penanaman tahun ini pun tembakau banyak yang rusak karena curah hujan ternyata masih tinggi. Akibatnya muncul bintik-bintik putih di daun tembakau. Kalau orang sini biasa menyebutnya “kutu daun”.
Dari penuturan mereka bertiga, kalau tembakau dan cuaca sedang sehat dan bagus, dari satu hektare lahan bisa memanen kurang lebih 4 kuintal tembakau rajangan yang kualitasnya bagus (daun atas). Namun, jika campuran dengan keseluruhan, kurang lebih bisa mencapai 6-7 kuintal.
Tradisi Otosan
Di desa Kayumas, tidak ada ritus besar ketika panen ataupun saat menanam tembakau.. Hanya ada selametan kecil-kecilan. Jadi kebanyakan petani di Kayumas, tidak hanya tembakau, mereka melakukan semacam doa dengan mengundang tokoh agama untuk mendoakan agar pertanian ini berhasil. Tradisi tersebut dinamakan“amola”.
Namun, ternyata dari tuturan Cak Sutrisno, masih ada dusun di Desa Kayumas yang masih melestarikan budaya yang kuat mengenai tembakau. Tidak tanggung-tanggung budaya yang dimaksud adalah setiap keluarganya itu wajib menjadi petani tembakau.
Dan sistem gotong royongnya juga masih kuat. Sistem tersebut dinamakan “otosan,” artinya setiap keluarga tidak akan mengeluarkan uang untuk membayar buruh tani ketika menanam atau saat panen tembakau. Karena setiap keluarga yang mempunyai ladang tembakau–akan gantian untuk saling membantu. Baik itu ketika membajak, menanam, dan saat panen. Saling bergantian.
Sebetulnya Cak Sutrisno, Pak Syafii, dan Pak Sucipto juga melakukan itu. Hubungan kerja sama yang terjalin pun tidak mengharuskan sedarah. Asal berteman, otosan bisa terjadi. Hanya saja, mereka tidak ada istilah mewajibkan anak-anaknya kelak jadi petani tembakau. Tapi minimal mengerti.
Review tembakau Kayumas
Kami diminta mampir dulu ke rumah Cak Sutrisno sebelum pulang. Di sana, kami disuguhi makan, kopi hitam, dan diminta mencicipi tembakau lawasnya.
Saya ditunjukkan tembakau hasil panen 2022, 2023, dan 2024. Saya cicipi semuanya. Tembakau Kayumas itu hampir tidak memberikan sensasi pahit. Baik ketika dihisap maupun aftertaste-nya. Sedangkan di Tambeng, besar kecilnya sensasi pahit itu menjadi patokan tembakaunya berkualitas atau tidak. Tapi, tembakau Kayumas, baik yang lawas maupun yang baru panen, sensasi pahitnya hampir tidak ada.
Setelah puas mencicipi, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Tak lupa, Cak Sutrisno juga memberikan oleh-oleh kepada kami, yakni tembakau Kayumas yang lawas. Kami beruntung sekali.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang
BACA JUGA: Pesan Bapak: Mau Jadi Apapun Nanti Jangan Tinggalkan Tani, Karena Bertani adalah Pelajaran Hidup
- Ibu Minah, Penjual Sayur Keliling Ketiban Rezeki Noplok: Menang Undian Mobil dari Pihak Djarum Selepas Mengikuti Jalan Santai HUT Temanggung 191 - 26 November 2025
- Rokok yang Dihisap Hadi (Fedi Nuril) dalam Film “Pangku” dan Jangan Ditiru! - 15 November 2025
- Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional - 10 November 2025



