Mengenal Rokok Tanda Tambah, Rokok Skena dari Jogja dengan Sentuhan Farid Stevy 

Rokok Tanda Tambah belakangan sering ditemui di tongkrongan, di gigs, atau di mana pun. Sebab rokok ini telah dicap sebagai "Rokok Skena".

Dalam Artikel Ini

rokok tanda tambah, rokok skena ala farid stevy

Dalam Artikel Ini

Pernah dengar rokok Tanda Tambah? Ini adalah salah sattu rokok yang belakangan sering muncul. Entah di tongkrongan, gigs musik, hingga pergaulan anak-anak skena.

Bagi yang belum tahu, mungkin Tanda Tambah hanya sebagai rokok pada umumnya. Tetapi bagi mereka yang pertama kali melihatnya, ada satu hal yang kemungkinan besar langsung menarik perhatian sebelum batang rokoknya bahkan sempat keluar dari bungkus.

Di Balik Tanda Tambah, Ada Seniman Kondang Bernama Farid Stevy

Di tengah rak yang penuh dengan bungkus rokok dengan desain yang kadang terasa seragam, Tanda Tambah datang dengan tampilan yang berbeda. Bungkusnya tak sekadar berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan batang rokok. Ada karakter visual yang terasa kuat. Pula identitas yang melekat.

Dan salah satu nama yang berada di balik karakter visual tersebut adalah Farid Stevy, seniman kondang asal Jogja yang orang-orang kenal sebagai vokalis band FSTVLST. Di skena musik khususnya di Jogja sendiri, Farid Stevy layaknya abang-abangan.

Bagi orang yang mengikuti perjalanan karya-karyanya, gaya visual Farid Stevy tentu bukan sesuatu yang asing. Karakternya kerap terasa liar, spontan, penuh permainan tulisan dan gambar, tetapi tetap memiliki identitas yang mudah dikenali. Sentuhan semacam itulah yang kemudian terasa cukup kuat dalam desain kemasan Tanda Tambah.

Garis-garis, tulisan, komposisi visual, hingga keseluruhan atmosfer desainnya membuat Tanda Tambah memiliki kesan yang berbeda dari banyak bungkus rokok pada umumnya. Ada sesuatu yang membuat orang ingin memperhatikan bungkusnya lebih lama.

Bahkan, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa bungkus Tanda Tambah terasa seperti benda yang layak disimpan. Tak ayal sebagian orang membeli Tanda Tambah turut mengoleksi bungkusnya.

Menariknya, pengalaman visual dari Tanda Tambah tidak berhenti di bagian depan kemasan. Di bagian belakang, terdapat ruang yang secara sederhana mengajak konsumennya untuk ikut memberikan sentuhan personal. Konsumen bisa menggambar, menulis, membuat coretan, menambahkan pesan, atau sekadar membubuhkan tanda tangan.

Baca Juga:  Daftar 50+ Harga Rokok 2026 yang Beredar di Indonesia, Dari yang Paling Mahal sampai yang Paling Murah 

Berkarya Lewat Bungkus Rokok Tanda Tambah

Hal yang terlihat sederhana, tetapi justru membuat hubungan antara produk dan konsumennya terasa sedikit berbeda. Bungkus Tanda Tambah tidak hanya datang dengan cerita dari pembuatnya. Setelah berpindah tangan, ada kemungkinan cerita baru ditambahkan oleh pemiliknya.

Satu bungkus mungkin dipenuhi gambar-gambar absurd dari sebuah tongkrongan. Bungkus lainnya bisa berisi lirik lagu. Ada yang mungkin menuliskan nomor telepon seseorang. Ada yang membuat sketsa wajah temannya. Pula yang membiarkannya tetap kosong. Dan lain sebagainya. Dengan begitu, satu bungkus Tanda Tambah bisa memiliki cerita yang berbeda dengan bungkus lainnya.

Namun tentu saja, desain kemasan bukan satu-satunya alasan mengapa Tanda Tambah menarik untuk dibicarakan.

Sebab pada akhirnya, rokok tetaplah sesuatu yang dinikmati melalui karakter rasanya. Dan di bagian ini, Tanda Tambah juga menawarkan pengalaman yang cukup variatif.

Ada beberapa varian yang memberikan karakter berbeda bagi konsumennya. Hal tersebut membuat orang yang mencoba Tanda Tambah memiliki pilihan sesuai dengan selera mereka.

Bagi sebagian perokok, rasa mungkin menjadi pertimbangan utama. Ada yang mencari karakter yang lebih ringan, yang menyukai sensasi yang lebih kuat. Pula yang sekadar ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari rokok yang selama ini menjadi konsumsi sehari-hari dengan beragam varian rasa

Tanda Tambah kemudian terasa seperti mencoba menawarkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar produk dengan satu karakter. Konsumen dapat mencoba, membandingkan, lalu menentukan sendiri varian mana yang paling cocok dengan selera mereka.

Ketika Rokok Bertemu Seni dan Kultur Pergaulan

Fenomena seperti Tanda Tambah sebenarnya menunjukkan bahwa sebuah produk rokok tidak selalu soal harga atau rasa.

Ada banyak hal lain yang ikut membentuk hubungan antara sebuah produk dengan orang yang mengkonsumsinya. Ada desain. Musik. Seni. Identitas. Kultur pergaulan. Dan tentu saja, cerita.

Baca Juga:  Daftar 50+ Harga Rokok 2026 yang Beredar di Indonesia, Dari yang Paling Mahal sampai yang Paling Murah 

Di era ketika visual menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, sebuah bungkus rokok juga bisa menjadi medium untuk menunjukkan identitas. Benda yang dibawa ke tongkrongan. Diletakkan di atas meja. Masuk ke dalam foto. Bahkan kemudian menjadi bagian dari percakapan.

Tidak mengherankan jika desain menjadi salah satu hal yang semakin diperhatikan. Pun Tanda Tambah tampaknya memahami hal tersebut.

Keterlibatan nama seperti Farid Stevy membuat produk ini memiliki kedekatan tersendiri dengan dunia kreatif dan kultur alternatif. Bukan berarti setiap orang yang membeli Tanda Tambah harus menjadi bagian dari sebuah skena tertentu. Tetapi kehadiran identitas visual yang kuat membuat produk ini lebih mudah menemukan tempat di lingkungan yang memang dekat dengan seni, musik, dan ekspresi.

Ada kesan bahwa Tanda Tambah tidak berusaha menjadi rokok yang harus semua orang sukai. Justru mungkin di situlah daya tariknya. Ia memiliki karakter. Dan karakter sering kali jauh lebih mudah diingat daripada sesuatu yang berusaha menjadi netral untuk semua orang. 

Pada akhirnya, Tanda Tambah terasa seperti produk yang memahami bahwa pengalaman merokok bagi sebagian konsumennya tidak selalu berhenti pada batang dan rasa.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: Mengenal Perokok Kalcer