Alih Fungsi Smoking Area Kampus AMIKOM yang Merampas Ruang Bertumbuh Mahasiswa

Dalam Artikel Ini

kawasan tanpa rokok amikom

Dalam Artikel Ini

Smoking Area kampus Amikom mulanya hadir untuk menjawab kebutuhan perokok. Namun, seiring berjalannya waktu, ruang ini justru teralihfungsikan sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

***

Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIKOM) menjadi salah satu kampus yang menyediakan ruang merokok. Lokasinya ada di ringroad utara. Kampus yang selalu menjadi celotehan bagi sebagian orang di mana ketika masuk selalu mengenakan dasi.

Keliru kalau beranggapan bahwa ruang merokok tidak penting. Sebab ia adalah win-win solution: jalan tengah antara perokok dan non-perokok. Tapi sayangnya tidak banyak pihak yang secara serius memikirkan ruang merokok. Malahan, yang kerap dan selalu terjadi adalah bagaimana memperlakukan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di mana-mana . Salah satunya adalah lingkungan akademik di kampus-kampus.

Kampus ini awalnya menyediakan 3 ruang merokok yang tersebar di beberapa titik. Jumlah itu terbilang ideal bagi banyak mahasiswa. Salah satu yang saya temui adalah Susanto (bukan nama sebenarnya).

Kesan baik untuk AMIKOM

Awalnya, Susanto (29) ketika masuk ke AMIKOM, turut memberikan apresiasi atas berbagai sarana dan prasarana yang terfasilitasi dengan baik oleh kampus. Laboratorium yang terbilang bagus dan mengikuti perkembangan zaman hingga ketersediaan ruang merokok.

“Aku seneng waktu awal masuk AMIKOM di 2024. Ada Smoking Area-nya . Dengan begitu, aku bisa nongkrong dan diskusi soal apapun di ruang itu. Mau pesen makan atau minum tinggal pesen karena tersedia juga,” kata Susanto yang saya temui di kontrakan bilangan Condongcatur, Selasa (11/08/2026).

Susanto menambahkan, di ruang itu mahasiswa melakukan berbagai hal secara organik. Ada yang mengerjakan tugas, berbagi kabar dengan para kawan-kawan, hingga sekedar duduk-duduk santai merayakan waktu luang.

Baca Juga:  Aturan KTR Tangsel Mestinya Tak Menggunakan Logika Menggusur

Sejak ia menjadi mahasiswa di AMIKOM, ia tidak pernah mendapatkan keluhan adanya orang yang bukan perokok, ataupun keberatan dengan adanya ruang itu. Toh, masih banyak ruang lain yang harus bebas asap rokok. Perpustakaan misalnya.

Alih fungsi menjadi Kawasan Tanpa Rokok

Tapi semua itu justru berubah. Salah satu ruang yang menjadi favorit para mahasiswa AMIKOM itu justru tegusur oleh ruang baru yang terkesan angkuh dan sombong. Pihak kampus menamainya sebagai Creativerse. Pembangunan ruang itu terjadi saat libur semester 3 di sekitar bulan Februari 2026. Sekilas bangunan itu terlihat rapi, bersih, dan tentu saja: bernuansa anak muda.

Tapi dibalik itu semua, Creativerse justru menyimpan berbagai persoalan. Sebab dirasa telah menggusur ruang merokok yang awalnya membuat mahasiswa kerasan. Para mahasiswa sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan transformasi ruang. Yang menjadi soal adalah ruang itu justru beralih menjadi Kawasan Tanpa Rokok. Banner, spanduk, hingga poster logo larangan merokok memenuhi segala penjuru.

“Terus terang aku dan banyak kawan yang kuliah di AMIKOM merasa keberatan dengan alih fungsi itu. Kami kira ruang merokoknya mau maintenance. Eh, tahunya malah digusur,” kata Susanto dengan nada yang cukup emosional.

Dirinya sangat menyayangkan—bahkan merasa turut dirugikan—karena ruang merokok adalah fasilitas yang seharusnya diberikan. Sebab ia mengatakan, kuliah di AMIKOM relatif mahal, sehingga ruang merokok seharusnya turut disediakan. Bukan malah dibatasi.

Sejak adanya alih fungsi itu, ruang itu sudah tidak lagi dipakai oleh mahasiswa untuk merokok. Sebab menurut Susanto, para mahasiswa justru memilih untuk pergi ke tempat ngopi, atau warmindo.

Baca Juga:  Sanksi Merokok dan Ketidakmampuan Pengelola Mengurus Asian Games

Ruang merokok AMIKOM resmi

AMIKOM memang tidak serta merta menghilangkan ruang merokok. Masih ada area kantin bagian atas yang secara resmi diperbolehkan untuk merokok. Tapi menurut Susanto, ruang merokok di sana tidak senyaman ruang merokok sebelumnya.Sebab, butuh effort lebih untuk mencapai ruang merokok, seperti harus naik tangga dan lain sebagainya.

“Aku udah ngga punya harapan lagi kalau ruang itu akan kembali lagi jadi ruang merokok. Karena sudah ada aturan rektor yang menetapkan area itu sebagai Kawasan Tanpa Rokok. Dan mahasiswa lah yang harus mengalah,” kata Susanto dengan nada pesimis.

Sangking kesalnya mahasiswa dengan alih fungsi itu, Susanto mengatakan banyak protes-protes yang tertahan. Marah. Kesal. Sedih. Semuanya melebur jadi satu. Bahkan sejak transformasi ruang itu, menurut Susanto ruang bertumbuh di AMIKOM menjadi terbatas.

“Karena di ruang yang sekarang ini dipakai untuk latihan dance. Bukannya aku benci dance. Engga sama sekali. Tapi kenapa sih harus mengusur ruang merokok yang selama ini sudah membuat nyaman para mahasiswa,” tutup Susanto.

Kini, Susanto hanya bisa berharap: semoga kampusnya memberikan fasilitas ruang merokok lagi. Sama seperti sebelumnya.