×

Anak Muda Tak Mau Jadi Petani karena Lebih Pilih PNS Dianggap Cak Imin Gejala Mengerikan, Giliran Jadi Petani Tembakau malah Dianaktirikan

Dalam Artikel Ini

Cak imin sebut anak muda yang enggan jadi petani karena pilih jadi PNS sebagai gejala mengerikan Komunitas Kretek

Dalam Artikel Ini

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mengaku resah karena anak muda banyak yang tak mau jadi petani.

Menurut Cak Imin, anak muda lebih banyak memilih jadi Aparatur Sipil Negara (ASN) daripada petani. Alasannya sederhana, karena menjadi petani belum tentu sejahtera.

“Petani kita masih menderita, penghasilannya masih rendah, kesejahteraan masih rendah. Yang paling mengerikan, anak muda sudah nggak mau jadi petani. Maunya jadi PNS,” ujarnya dikutip dari Kompas.

Cak Imin tidak perlu resah. Bukankah secara keseluruhan dari dulu petani juga memang tidak sejahtera. Lagi pula, sejak kapan negara peduli kepada petani? Padahal petani artinya adalah Penyangga Tatanan Negara Indonesia.

Cak Imin, jadi petani tembakau malah disuruh berhenti menanam

Kemarin Purbaya menyebutkan bahwa WHO ada di balik penghancuran Industri Hasil Tembakau (IHT). Nah, Cak Imin perlu tahu, atau sebenarnya sudah tahu? Bahwa WHO selalu mengampanyekan agar petani beralih ke tanaman lain, tidak menanam tembakau lagi.

Bahkan sampai dibuat Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dan tidak hanya WHO, Cak Imin, NGO antirokok, dan Kemenkes juga menyerukan hal serupa.

Apakah Anda ikut melindungi petani tembakau dari narasi antirokok dan anti tembakau? Padahal, petani tembakau itu melestarikan produk budaya bernama Kretek–dengan menanam bahan bakunya.

Dan asal Cak Imin tahu, dan seharusnya anda juga tahu. Petani tembakau sudah pasti menanam sayur-mayur. Karena menanam tembakau itu di bulan kemarau. Itu artinya, dengan menjadi petani tembakau, kesejahteran bukanlah hal yang mustahil. Kecuali negara yang membunuh industrinya.

Dorongan ganti tanaman lain

Bagi orang yang benci dan anti terhadap rokok, barang ini harus lenyap dari muka bumi. Lalu, bagaimana nasib para petani tembakau dan cengkeh ketika rokok kretek benar-benar lenyap? Bagaimana nasib jutaan buruh yang telah menggantungkan hidupnya di Industri Hasil Tembakau? Juga masih banyak lagi nasib orang yang ikut kecipratan dari adanya Industri Hasil Tembakau.

Baca Juga:  Menghapus Kebencian Pada Perokok

Perlu diketahui Cak Imin, ada sekitar 6 juta orang yang menggantungkan hidupnya terhadap industri hasil tembakau (IHT). Selama ini, sektor padat karya IHT bertahan melalui solidaritas. Karena negara hanya mencintai cukainya tapi tidak dengan produknya.

Namun, sekarang IHT sedang sekarat akibat kenaikan cukai. Nah, Cak Imin, kenaikan cukai ini berdampak besar kepada petani tembakau dan cengkeh.

Begini, saya pernah melakukan ekspedisi ke Garut dan daerah lainnya di pulau Jawa. Cak Imin perlu tahu betapa pentingnya tembakau bagi petani.

Saya berbincang dengan Abah Ateng dan Yusuf yang mengatakan bahwa modal menjadi petani sayur, misalnya tomat. Modalnya cukup banyak. Hanya saja, menjadi petani tomat itu perlu mengandalkan keberuntungan. Menurut subjektivitas Abah Ateng dan Yusuf. Tidak ada satu pun orang yang bisa memastikan harga tomat akan anjlok atau tidak.

Masalahnya ketika anjlok, petani tidak akan balik modal. Bahkan minus. Sedangkan tembakau. Seburuk-buruknya harga penjualan. Minimal tetap bisa balik modal. Sedangkan para antirokok sering nyeplos supaya petani tidak lagi menanam tembakau. Jika demikian, terus bagaimana nasib para petani!

Tantangan dari negara sendiri

Begitu pula keresahan petani tembakau di Situbondo, Cak Imin. Di sana, saya berbincang dengan Kyai Aznawi, sosok yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan bertani.

Nah, menurut Aznawi, tantangan menjadi petani tembakau di Besuki itu sering kali mengalami kelangkaan pupuk. Masalahnya, langkanya itu bukan karena stok kurang. Melainkan dimonopoli.

Sekalipun pupuk ada, Aznawi mengaku harganya sangat mahal. Dan tidak ada subsidi. Kendati ada pupuk murah, tapi itu jelek. Akibatnya nanti kualitas rasanya tidak terjaga.

Baca Juga:  Memperingati Hari Petani Tembakau dengan Pameran Kartun

“Saya itu kesal sekali dengan pemerintah, kenapa masalah kelangkaan pupuk tidak pernah diatasi. Padahal kalau tidak ada petani bagaimana mungkin mereka bisa memenuhi permintaan pangan dari masyarakat,” kata Aznawi.

Wajar kalau anak muda malas jadi petani, Cak Imin

Jadi tidak heran mengapa banyak anak muda malas jadi petani, Cak Imin. Negara tidak peduli kepada petani. Padahal petani berperan menjaga ketahanan pangan. Itulah sebabnya, biasanya petani suka menitipkan pesan kepada anaknya, “Jangan seperti bapak dan ibu yang cuma jadi petani. Jadilah PNS atau buruh pabrik”.

Seharusnya Cak Imin tidak asing dengan kalimat tersebut. Karena itulah yang terjadi di lapangan.

Kalau itu terus dibiarkan, maka suatu hari nanti, mungkin petani akan semakin berkurang. Begini saja, Cak Imin bantu suarakan soal isu cukai. Supaya cukai turun dan tidak dinaikan.

Dengan begitu, petani tembakau terselamatkan. Karena sekali lagi, petani tembakau sudah pasti tanam sayur-mayur. Bukankah itu menjaga ketahanan pangan negeri ini?

Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang

BACA JUGA: Katanya 1 Batang Rokok Pangkas Hidup 20 Menit, Tapi Para Petani Tembakau di Temanggung Banyak yang Panjang Umur.