Istilah Mentalitet Korea mengacu pada filosofi perjuangan kaum akar rumput yang gigih. Dalam konteks masyarakat Korea Selatan, hal ini adalah sebuah etos kerja keras yang berbasis nilai leluhur.
Para Korea yang disebut oleh Bambang Pacul adalah mereka yang memulai semuanya dari nol. Korea sangat paham bahwa setiap orang dilahirkan dengan nasib yang berbeda-beda. Maka, beberapa orang tersebut harus berjuang lebih keras lagi guna mewujudkan keinginannya.
Pantang menyerah, sadar akan kekurangan, dan memiliki kemauan kuat untuk melenting adalah ciri khas mereka.
Bagi para Korea, untuk mewujudkan keinginannya tidaklah mudah. Selain dibutuhkan keberanian untuk nekat dan berjuang keras supaya melenting, mereka juga memiliki sifat kepatuhan dan kesetiaan.
Seperti jiwa kesatria; patuh pada arahan pemimpin atau seseorang yang disebut sebagai guru, lalu gigih mengabdi.
Selain ketahanbantingannya dalam mewujudkan keinginan, seorang Korea memiliki kehidupan yang tidak hanya fokus pada materi, tetapi juga fokus pada kebaikan dan kesejahteraan lingkungan sekitar, atau disebut sebagai kehidupan yang memayu hayuning bawana.
Dalam konteks perokok, hal ini bisa dilihat dari bagaimana ketika nongkrong terjadi barter antarrokok yang dibawa. Bahkan mungkin hanya ada satu batang rokok yang kemudian dinikmati bersama-sama.
Perokok yang memiliki Mentalitet Korea adalah mereka yang kehidupannya tidak mudah, bahkan bisa dibilang susah. Tetapi, ia memiliki kebaikan dan kepedulian terhadap lingkungannya, seperti berbagi rokok kepada kawan nongkrong.
Walaupun hidupnya susah dan sadar akan banyak kekurangan, tetapi masih mau berbagi kebahagiaan dan peduli kepada sekitar.
Berikut adalah level perokok yang punya Mentalitet Korea ala Bambang Pacul.
1. Meminta Rokok Teman (Kadar Korea di Bawah 50%)
Perokok yang punya Mentalitet Korea, walaupun keadaan sedang terpuruk, bagaimana caranya ia harus tetap survive. Dengan berani nekat dan kerja yang lebih keras lagi. Tidak menyalahkan keadaan, sehingga dari kekurangannya tersebut tidak menjadi sebuah legitimasi untuk meminta rokok teman.
2. Mengirit Merokok (Kadar Korea: Juga di Bawah 50%)
Mengirit memang bisa dikatakan sebagai cara untuk bertahan hidup. Tetapi, perokok yang punya Mentalitet Korea, meski dengan beban hidup yang berat, tetap berusaha keras untuk melenting.
Perokok yang punya jiwa Mentalitet Korea tidak mau bertahan di jurang kemiskinan dengan cara mengirit rokok. Mereka punya banyak cara untuk bertahan hidup. Dengan demikian, ia tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dicapai.
3. Membeli Rokok Seperti Biasa, Lalu Dipakai Berpikir (Kadar Korea: 70%)
Membeli rokok seperti biasa, lalu dipakai untuk berpikir: “Bagaimana menghadapi situasi ekonomi yang terjadi, termasuk supaya bisa tetap merokok dan ngopi?”
Perokok yang punya jiwa Mentalitet Korea punya banyak cara untuk bertahan hidup. Di level ini menunjukkan bahwa tidak ada kata menyerah.
Meski hidup sulit, membeli rokok seperti biasa lalu dipakai berpikir bagaimana menghadapi situasi ekonomi menunjukkan bahwa perokok yang punya jiwa Mentalitet Korea harus memiliki Tri Fokus untuk mewujudkan semua rencananya dengan baik.
Yakni:
- Menjaga ketenangan batin (Don’t Worry Be Happy)
- Menyusun siasat yang matang
- Mengeksekusi rencana dengan tepat
4. Berani Utang di Warung, Lalu Membanting Rokoknya saat Nongkrong (Kadar Korea di Atas 70%)
Berani utang di warung, lalu membanting rokoknya saat di warung kopi supaya teman-temannya bisa ikut merokok. Sambil berpikir: “Pasti akan ketemu jalannya untuk melunasi.” Ini merupakan level tertinggi.
Di level ini, perokok yang punya jiwa Mentalitet Korea tidak hanya berfokus pada materi dan ketahanbantingannya dalam menghadapi hidup. Mereka memandang hidup juga berpusat pada kebaikan dan kesejahteraan lingkungan sekitar.
Ketika berbuat baik dan lingkungan sekitarnya sejahtera, walaupun dalam kadar kecil, dari situlah akan ketemu jalan untuk menyusun strategi yang tepat dan mengeksekusi rencana dengan baik.
Jadi, perokok yang punya jiwa Mentalitet Korea dan levelnya bagus adalah bagaimana ia tidak hanya menghadapi krisis. Tetapi, ketika sedang susah tetap ada sikap untuk berbagi dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Penulis: Gandi Naufal Faroz
BACA JUGA: Sentimentil Tiap Membeli MLD Fresh Cola, Rokok yang Dulu Tak Terbeli karena Miskin



