smoking area_cipondoh

Kebohongan Kampanye Perokok Pasif

  • 161
  •  
  •  
  •  
  •  
    161
    Shares

Selama hidup, saya yakin Anda akrab dengan kalimat macam: perokok pasif itu lebih berbahaya dari perokok aktif. Entah Anda yang merokok ataupun tidak, perihal yang satu ini menjadi salah satu jargon utama dari kelompok pembenci rokok. Dengan memanfaatkan keberadaan orang yang tidak merokok, mereka menuduh para perokok sebagai pembawa petaka terhadap orang lain.

Isu-isu soal perokok pasif ini dikampanyekan dengan data penelitian dari Environmental Protection Agency atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat. Disebutkan perokok pasif memiliki dampak kesehatan yang tidak kalah dari perokok aktif. Bahkan dalam laporannya, mereka mengklaim perkara Perokok Pasif merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, yang membunuh sekitar 3.000 non perokok Amerika setiap tahun akibat kanker paru-paru.

Dalil ini kemudian dijadikan sebagai senjata utama kelompok antirokok untuk mendiskreditkan keberadaan rokok. Bagi mereka, kehadiran rokok juga perokok akan membahayakan masyarakat, dalam konteks ini kerap dipanggil perokok pasif. Karena dianggap membahayakan itulah, perokok kemudian dibuatkan regulasi yang mendiskriminasi mereka.

Baca Juga:  Memerangi Corona Lebih Penting dari Sekadar Mengevaluasi Perda KTR

Sebagai perokok, kita tentu sepakat jika tidak benar merokok di sembarang tepat. Apalagi jika kita mendaku diri perokok santun, sudah tentu kita harus menghargai hak masyarakat yang tidak merokok. Sampai di sana saja pemahamannya.

Bahwa perokok berpotensi menganggu hak orang lain betul. Karenanya para perokok santun tengah bekerja keras untuk mengajak semua perokok agar tidak lagi merokok di dekat anak kecil dan ibu hamil, tidak merokok di KTR, tidak merokok saat berkendara, dan sebagainya. Upaya ini dilakukan agar setiap warga negara dapat terjamin haknya.

Namun jika perokok dianggap membahayakan kesehatan orang lain, agaknya anggapan ini terlalu jauh. Bahwa rokok adalah salah satu barang konsumsi memiliki faktor risiko terhadap penyakit berbahaya memang betul. Tapi tidak bisa disebut bahwa rokok adalah penyebab pasti dari penyakit mematikan. Karena hampir semua barang konsumsi memiliki faktor risiko terhadap penyakit mematikan itu.

Lagipula, penelitian dari Badan Perlindungan AS tadi sendiri dikritisi oleh banyak pihak. Salah satunya oleh Congressional Research Service (CRS) USA. Pada November tahun 1995, CRS merilis laporan analisis kritis terhadap metode dan kesimpulan EPA setelah melalui studi selama 20 bulan. Kemudian pada tahun 1998, hakim federal menyatakan riset EPA batal dan tidak berlaku.

Baca Juga:  Harga Rokok Naik, Sudahkah Pemerintah Memenuhi Hak Perokok?

Selain itu, pada tahun 2003 British Medical Journal merilis sebuah makalah definitif tentang perokok pasif dan kematian akibat kanker paru. Dalam makalah ini, dilakukan penelitian yang melibatkan sekitar 35 ribu warga California yang tidak merokok. Hasilnya, tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara paparan asap rokok terhadap orang yang tidak merokok dan kematian akibat kanker paru-paru.

Kedua laporan penelitian di atas adalah contoh jika tidak semua riset tentang rokok memberikan hasil yang negatif. Masih ada lembaga-lembaga yang berani mengkritisi dan membantah riset terkait hal negatif rokok. Dan ini adalah salah satu langkah baik dalam dunia akademik juga kesehatan.

Sayangnya, dua penelitian yang mengungkap boroknya riset antirokok ini jarang dipublikasikan kepada masyarakat. Padahal, riset-riset semacam ini penting untuk dipublikasikan agar kebohongan kampanye antirokok tidak lagi banyak beredar. Apalagi kebohongan terkait perokok pasif yang jelas-jelas sudah dibantah dan dianggap keliru ini. Akhirnya kita sama-sama tahu jika isu perokok pasif hanyalah akal-akalan dan kebohongan saja.

Baca Juga:  4 Perilaku Perokok yang Mendidik
Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit