Ciu bekonang asal Sukoharjo masuk menjadi salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Belum lama ini, sebanyak 38 budaya asal Jawa Tengah resmi ditetapkan sebagai WBTb Indonesia tahun 2026 tahap 1.
Menurut pengakuan dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, Hanung Triyono, penetapan 38 WBTb adalah wujud pengakuan kepada budaya yang berkembang di tengah masyarakat sekaligus hasil kolaborasi berbagai pihak dalam bentuk pelestarian.
“Penetapan 38 WBTb tahun 2026 tahap I merupakan wujud nyata spirit inklusivitas ekosistem perlindungan budaya di kabupaten/kota. Selama ini, budaya tak benda telah menjadi bagian dari ruang hidup kemajuan budaya dan masyarakat,” kata Hanung kepada Espos, Kamis (9/7/2026) dilansir dari Harian Jogja.
Tentu penerapan Ciu Bekonang ini menjadi hal yang unik, sebagaimana penetapan Arak Bali sebagai WBTb. Ini menarik ketika Ciu Bekonang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Tradisi penyulingan molase (tetes tebu) berubah alkohol ini turut diwariskan secara turun-temurun sejak era sebelum kemerdekaan. Sehingga itu telah menjadi bagian dari identitas sosial serta ekonomi masyarakat Bekonang, Sukoharjo.
Jika Ciu Bekonang saja bisa masuk WBTb, Kretek kapan?
Saya tidak akan mempersoalkan kenapa Ciu Bekonang bisa didapuk menjadi WBTb. Tapi saya mau menanyakan kalau Ciu Bekonang saja bisa, kenapa kretek tidak? Sebab kretek juga sudah ada sejak zaman kemerdekaan dan turut menjadi identitas sosial hingga ekonomi masyarakat, bukan hanya di beberapa titik saja, melainkan di banyak daerah Indonesia kretek menjadi denyut nadi. Ia telah hidup dalam kehidupan masyarakat setidaknya lebih dari lebih dari 1 abad lamanya.
Ada banyak sekali hal yang bisa menjadi bukti atau alasan kenapa kretek layak didapuk sebagai WBTb. Kretek merepresentasikan sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang tumbuh dari praktik dan kebiasaan mengunyah pinang serta daun sirih yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Sebagai produk khas Indonesia, kretek bukan sekadar komoditas, melainkan pertemuan berbagai lapis sejarah, budaya, etnis, dan agama di seluruh Nusantara. Ia lahir dari kekayaan alam Indonesia sekaligus menjadi sumber inspirasi dan bagian dari warisan budaya bangsa.
Pengetahuan tentang kretek terus diwariskan melalui berbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan yang melahirkan berbagai instrumen, objek, serta artefak budaya. Tradisi ini tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. Dalam pengertian tersebut, kretek memenuhi karakteristik Warisan Budaya Takbenda sebagaimana dirumuskan UNESCO dalam Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (Paris, 17 Oktober 2003), yang telah diratifikasi Indonesia pada 2007.
Alasan mengapa kretek harus bisa masuk Warisan Budaya Takbenda
Lebih dari itu, sistem pengetahuan kretek melahirkan individu-individu yang memiliki keahlian dan kreativitas khas di sepanjang mata rantai produksinya, mulai dari hulu hingga hilir, baik dalam lingkup kerajinan maupun industri. Pengetahuan tersebut terus berkembang melalui pengalaman, keterampilan, dan pewarisan antargenerasi.
Kretek merupakan wujud kemampuan masyarakat bumiputera dalam mengolah pengetahuan lokal, merespons lingkungan, serta membangun hubungan yang selaras dengan alam. Kemampuan itu telah bertahan melintasi perjalanan sejarah yang panjang hingga membentuk identitas yang kuat dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Karena itu, kretek menjadi salah satu manifestasi penting dari keberagaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
Dengan kata lain, kretek adalah ekspresi pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas kebangsaan, kelas sosial, budaya, dan keragaman etnis Indonesia.
Sebagai warisan budaya takbenda, kretek berakar pada pengetahuan masyarakat yang menyatu dengan tradisi lisan, kesenian, dan berbagai ritual. Di saat yang sama, kretek menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mengolah kekayaan alam, terutama tembakau dan cengkeh—menjadi sebuah artefak budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Proses pewarisannya pun terus hidup melalui berbagai ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
Alasan-alasan itu sudah semestinya membuat kretek bisa dijadikan Warisan Budaya Takbenda. Sebab hal ini adalah wujud apresiasi kepada kretek yang telah memberikan banyak kontribusi dari ranah sosial, budaya, hingga ekonomi.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Sudah Seharusnya Kretek Menjadi Warisan Budaya Tak Benda
- Ciu Bekonang Resmi Menjadi Warisan Budaya Takbenda yang Dilindungi, Lantas Kretek Kapan? - 20 July 2026
- Nyari Kerja Lagi Susah, Kemenkes Malah Mau Buat 52.800 Orang Kehilangan Pekerjaan - 8 July 2026
- Negara Bisa Kehilangan Rp 700 Triliun Ketika Aturan Pembatasan Tar dan Nikotin Disahkan - 30 June 2026



