Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan jujur. Saya adalah seorang perokok aktif. Sebelum ada yang menuduh tulisan ini sebagai propaganda antirokok, saya perlu segera meluruskan satu hal penting. Bahwa, saya sama sekali tidak sedang memusuhi rokok. Saya cuma sedang kesal pada sebagian perokok tak bertanggung jawab. Khususnya, mereka yang merokok di dalam mobil yang melaju.
Pengalaman Berkendara dan Ancaman Abu Rokok
Beberapa hari lalu saya mengendarai motor di siang bolong. Saya berkendara hampir dua jam dari Tangerang menuju Jakarta. Terik matahari membuat kepala panas dan badan terasa gerah. Emosi juga mulai sulit untuk diajak berkompromi. Orang Portugal biasa menyebutnya dengan istilah “senggol bacok”.
Awalnya perjalanan motor saya terasa sangat normal. Sampai akhirnya saya memasuki sebuah jalan yang tidak terlalu lebar. Arus kendaraan mulai padat merayap. Kecepatan motor terpaksa harus menyesuaikan keadaan sekitar. Sampai kemudian saya berada tepat di belakang sebuah mobil. Mobil itu berjalan cukup pelan dan menjadi penyebab pelambatan.
Sopir di mobil depan rupanya sedang asyik merokok. Satu tangan memegang setir dan tangan lainnya memegang rokok. Ia membuang abu, melihat kaca, dan sesekali bikin huruf O. Akibatnya, kecepatan mobil mendadak turun secara drastis. Ukuran mobil yang besar cukup memakan badan jalan. Tapi saya berusaha sabar dan menunggu kesempatan menyalip.
Terkepung Asap dan Etika Perokok di Jalan Raya
Masalah utamanya bukan sekadar soal kecepatan yang melambat. Masalah yang lebih menjengkelkan adalah soal abu rokok. Sebenarnya, proses salip-menyalip di jalan raya itu sangat lumrah. Persoalannya, kali ini saya harus menyalip sambil menghindari abu rokok.
Saya sudah pasang lampu sein dan mengintip ke sisi kanan. Saya maju sedikit, tapi terpaksa mundur lagi. Dan, saya belum berhasil menyalipnya.
Saya masih berusaha menahan sabar. Saya berpindah sisi dan berencana menyalip dari arah kiri mobil. Sebenarnya masih ada cukup ruang untuk lewat. Tapi sial, penumpang di sisi kiri mobil rupanya juga merokok.
Dari sebelah kanan keluar abu rokok. Dari kaca sebelah kiri pun ternyata sama saja, dari pandangan saya, mobil itu mirip sebuah kendaraan fogging. Dan saya adalah nyamuk malang yang sedang mereka incar.
Bahaya Merokok Sambil Mengemudi Bagi Pengendara Lain
Masalahnya, yang berada di belakang mobil bukan hanya jalan kosong. Ada saya dan ada banyak pengendara motor lainnya. Bahkan, ada juga yang memakai helm tanpa kaca penutup. Sebagian besar helm memang tidak didesain untuk hal ini. Helm tidak dirancang untuk menerima kiriman abu rokok kendaraan depan.
Saya merasa diserang dari berbagai sisi. Seperti tim Argentina di hadapan Spanyol, saya sangat keteteran. Bedanya, Argentina bisa berharap pada fitur VAR dan FIFA. Lantas, saya mau minta tolong ke siapa?
Suhu udara siang itu masih terasa sama panasnya. Emosi saya semakin tidak stabil. Membunyikan klakson panjang pun akhirnya jadi pilihan. Saya menekannya sampai pengendara mobil itu tersadar. Akhirnya, mereka memberikan jalan dan mempersilakan saya lewat.
Etika Perokok Santun dan Bertanggung Jawab
Sekali lagi, saya juga seorang perokok. Saya sangat paham akan kenikmatan sebatang rokok. Silakan merokok, karena hal itu adalah pilihan masing-masing. Tapi, tolong pilih juga tempat dan momennya dengan bijak. Merokok sambil mengemudi di jalan bukanlah pilihan yang bijak.
Secara personal saya menganggap aktivitas merokok dalam mobil adalah hak. Silakan saja, tapi pastikan tidak mengganggu orang lain. Pastikan aman bagi penumpang di dalam mobil itu sendiri. Pastikan juga aman bagi pengguna jalan yang lain. Etika perokok di jalan raya ini sebenarnya sangat sederhana. Menjadi santun berarti merokoklah pada tempat yang semestinya.
Saya sendiri tidak suka merokok ketika sedang mengendarai motor. Bukan karena saya ingin jadi “si paling tertib” sedunia. Hal itu karena aktivitas berkendara sangat membutuhkan tingkat fokus tinggi. Saya bahkan lebih memilih mendengarkan audio lewat TWS open-fit. Desain penyuara kuping half-ear menjaga kenyamanan dan fokus keselamatan saya. Tidak perlu ditambah aktivitas lain yang membuat tangan terbagi. Setidaknya begitu pandangan saya saat bermotor.
Lagi pula, jalan raya itu jelas bukan ruang pribadi. Ada banyak hak orang lain di sana. Jalan raya juga bukan sebuah asbak raksasa.
Kalau sedang ingin merokok, perokok santun pasti akan berhenti sebentar. Berhentilah di tempat yang memang benar-benar aman. Cari warung, pesan kopi, lalu nikmati rokok dengan tenang. Setelah semuanya selesai, barulah kembali melanjutkan perjalanan.
Sebenarnya ada banyak perokok yang sudah berlaku santun. Mereka tahu di mana tempat yang pas untuk merokok. Mereka tahu kapan harus mematikan rokok demi kenyamanan sekitar. Sayangnya, yang kerap menjadi sorotan justru mereka yang bandel.
Segelintir orang egois ini perlahan membentuk persepsi publik. Persepsi buruk ini menyasar pada kelompok perokok yang lebih besar. Akibatnya, perokok secara keseluruhan ikut menerima hantaman stigma negatif.
Sambil terus memperjuangkan hak, kita juga perlu saling mengingatkan. Tulisan ini adalah bentuk pengingat soal etika perokok. Sebuah teguran keras dari perokok, dan khusus ditujukan untuk perokok.



