Lagi-lagi Gudang Garam Tidak Membeli Tembakau Temanggung  Tahun Ini

Gudang Garam sudah bertahun-tahun tak lagi membeli tembakau dari Temanggung lagi. Alasannya sederhana, namun memengaruhi rantai ekonomi IHT.

Dalam Artikel Ini

gudang garam tak lagi membeli tembakau temanggung

Dalam Artikel Ini

Sebagai orang Temanggung saya paham betul bagaimana tembakau menjadi sumber penghidupan dan kehidupan. Tapi selama beberapa tahun ke belakang ada kabar buruk yang selalu menghantui para petani juga masyarakat Temanggung. Yakni, Gudang Garam tidak lagi membeli tembakau Temanggung pada tahun ini. 

Sudah kali ketiga perusahaan asal Kediri tersebut tidak lagi menyerap tembakau dari para petani yang ada di Temanggung. Padahal, sejak dulu, petani tembakau di Temanggung sudah menggantungkan penjualan hasil panennya kepada Gudang Garam. Hubungan antara petani dan perusahaan rokok tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Selama bertahun-tahun, tembakau Temanggung menjadi salah satu komoditas penting yang menopang kehidupan ekonomi masyarakat di berbagai wilayah Temanggung.

Alasan Gudang Garam berhenti membeli tembakau Temanggung

Bagi petani, berhentinya pembelian dari perusahaan sebesar Gudang Garam tentu bukan perkara sederhana. Tembakau bukan tanaman yang bisa dipanen lalu langsung menghasilkan uang tanpa proses panjang. Petani harus menyiapkan lahan, membeli bibit dan pupuk, merawat tanaman selama berbulan-bulan, hingga akhirnya memanen dan melakukan proses pengolahan sebelum tembakau bisa dijual. Seluruh proses tersebut membutuhkan modal, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit.

Masalahnya, ketika tembakau sudah siap dijual, petani tidak selalu memiliki kendali atas harga maupun pasar. Mereka sangat bergantung pada pembeli yang mampu menyerap hasil panen dalam jumlah besar. Ketika salah satu pembeli utama berhenti melakukan pembelian, persoalan yang muncul bukan sekadar soal tembakau yang tidak laku. Ada biaya produksi yang harus balik modal. Kebutuhan rumah tangga yang harus terpenuhi. Hingga modal untuk musim tanam berikutnya yang ikut dipertaruhkan.

Kalau ditanya alasannya, berhentinya pembelian tersebut bukan karena kualitas tembakau Temanggung yang jelek. Persoalannya justru berada pada kondisi pasar. Masih terdapat stok tembakau yang belum terserap sehingga perusahaan tidak membutuhkan pasokan dalam jumlah besar dari petani. Kondisi tersebut kemudian berkelindan dengan persoalan lain dalam industri rokok, terutama kenaikan cukai rokok yang terus terjadi dan pada akhirnya menekan daya beli konsumen.

Baca Juga:  Penjualan Gudang Garam Anjlok Bukan karena Perokok Turun, Tapi Negara Membiarkan Rakyatnya Miskin

Ketika harga rokok semakin mahal, konsumsi dapat ikut tertekan. Industri pun harus menghadapi situasi yang tidak sederhana: di satu sisi terdapat beban cukai dan berbagai biaya produksi, sementara di sisi lain kemampuan konsumen untuk membeli rokok memiliki batas. Persoalan tersebut kemudian berdampak hingga ke bagian paling bawah dari rantai produksi, yakni petani tembakau.

Persaingan dengan rokok ilegal

Di tengah kondisi tersebut, persaingan dengan rokok ilegal juga disebut semakin memperburuk keadaan. Rokok ilegal yang beredar tanpa membayar cukai tentu memiliki struktur biaya yang berbeda dengan rokok legal. Harganya bisa jauh lebih murah dan pada akhirnya menciptakan tekanan tersendiri bagi industri hasil tembakau yang selama ini berada dalam sistem resmi.

Di sinilah persoalannya menjadi semakin rumit. Ketika berbicara mengenai industri rokok, pembicaraan sering kali hanya berhenti pada perusahaan dan konsumen. Padahal, ada rantai ekonomi yang jauh lebih panjang di belakangnya. Ada petani tembakau, buruh tani, pekerja pabrik, pedagang, pengepul, hingga masyarakat desa yang ikut menggantungkan kehidupannya pada perputaran ekonomi tembakau.

Kini para petani paling mengandalkan pembelian dari PT. Djarum, dan perusahaan rokok lainnya. Selain itu mereka “berjudi” menjual hasil panen nya sendiri. Sebab meskipun petani berdaulat untuk menentukan harga, menjual lembutan tak bisa terjual dengan jumlah yang besar. 

Gudang Garam yang tidak menyerap tembakau Temanggung hanya salah satu contoh

Apa yang terjadi di Temanggung menjadi salah satu contoh kecil bagaimana perubahan di dalam industri hasil tembakau dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat di tingkat lokal. Ketika perusahaan mengurangi pembelian, dampaknya tidak berhenti di gudang atau pabrik. Ia bisa merembet ke petani yang kesulitan menjual hasil panen, ke pengepul yang kehilangan pasar, hingga ke ekonomi desa yang selama ini ikut bergerak dari aktivitas tembakau.

Baca Juga:  Pemerintah Terlalu Alergi dengan Seni: Bungkus Rokok Tak Boleh Nyeni, Seniman Tak Punya Penghidupan

Karena itu, persoalan tembakau sebenarnya tidak sesederhana perdebatan mengenai rokok: boleh atau tidak boleh, sehat atau tidak sehat, legal atau ilegal. Ada persoalan ekonomi kerakyatan yang juga perlu kita lihat secara lebih serius. Ada jutaan orang yang berada di dalam mata rantai industri hasil tembakau dan kehidupannya turut dipengaruhi oleh kebijakan negara, strategi perusahaan, daya beli masyarakat, serta perubahan pasar.

Kasus Gudang Garam yang kembali tidak menyerap tembakau Temanggung hanyalah satu contoh dari peliknya kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia. Masih banyak persoalan lain yang terjadi di dalam industri ini dan sering kali luput dari perhatian publik. Mulai dari nasib petani tembakau, kebijakan cukai, keberadaan rokok ilegal, keberlangsungan industri kretek, sampai bagaimana negara menempatkan industri yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: Perjalanan Saya “Bertaruh Nyawa” di Lereng Sindoro demi Bertemu Petani Tembakau Temanggung yang Ditinggal Gudang Garam