5to7_movie

Istri Merokok

Pada mulanya sederhana saja: perempuan idolaku adalah perokok. Janis Joplin, Grace Slick, Patti Smith, sampai Joan Jett. Waktu itu dalam benak, perempuan merokok itu uber cool. Lebih dari sekadar keren.

Tapi kemudian aku pikir lagi. Ternyata perjumpaanku dengan perempuan perokok bukan berawal dari rock n roll. Tapi dari ibu-ibu dan nenek-nenek di pasar. Di kampungku, setidaknya hingga pertengahan 1990-an, para bakul sayur yang kebanyakan perempuan itu merokok. Rokoknya melinting sendiri. Tembakau rajang dan papir biasanya ditaruh di kantong plastik.

Sejak pukul 4 pagi, mereka sudah  duduk di atas kain alas. Lalu melinting rokok, dan mengisapnya dengan nikmat. Aku yang sering menemani ibu ke pasar, jadi akrab dengan mereka: para perempuan perokok. Waktu itu di kampungku tidak ada stigma bahwa perempuan perokok itu bandel. Yaitu merupakan pemandangan biasa saja. Ibuku juga melihat para perempuan perokok sebagai hal yang normal belaka.

Sewaktu SMA, aku punya obsesi agak aneh, yakni punya pacar dengan dua kriteria: bertato dan merokok. Beberapa kawan menimpali obsesiku itu dengan ledekan, bahwa aku suka perempuan bandel. Itu tahun 2003, dan hamper semua teman nongkrongku tak ada yang tahu siapa itu Joplin, Slick, atau Jett. Dan mereka jelas tak kenal bakul-bakul sayur di kampungku.

Salah satu obsesi itu kesampaian ketika aku menikah. Sewaktu pacaran, ia sempat bertanya padaku, “Kamu gak papa kah aku merokok?” Pertanyaan yang tentu saja aku jawab dengan senyum lebar.

Kami merahasiakan kebiasaan istriku dari keluarga besar. Kalau mereka tahu, wah bakal heboh. Keluarga kami berdua memang konservatif. Istriku juga bias menahan diri untuk tak merokok kalau ada di tengah keluarga.

Aku jelas tak keberatan dengan istri seorang perokok, walaupun aku juga bukan seorang perokok. Aku memberinya ruang seluas yang dia mau. Tapi ia sudah member batas sendiri. Di rumah misalkan. Ia hanya bias merokok di ruang makan dan perpustakaan. Kalau di kamar, ia tak merokok. Ketika waktu tidur, ia tahu aku kurang suka bau rokok. Maka ia sikat gigi dan cuci muka agar bau rokok minggat.

Sebelum menikah, ia sempat berikrar akan berhenti merokok. Aku bilang: ya terserah saja. Kalau misalkan mau berhenti, ya silakan. Tapi yang jelas, aku tak mau memaksanya untuk berhenti. Aku berusaha menghormati apapun pilihannya. Bagiku yang sudah melihat perempuan merokok sejak kecil, kebiasaan istriku sama sekali tak mengganggu. Memang, setelah menikah ia memang sempat berhenti merokok selama beberapa bulan.

Lucunya, gara-gara berhenti merokok itu, ia sering merepet karena stress perkara pekerjaan. Kadang dilampiaskan pula ke aku. Kan kampret. Suatu hari aku yang sedang capai karena pekerjaan, harus mendengarkan ocehannya soal kerjaan. Aku kesal dan sedikit memarahinya balik.

“Kalau karena kamu berhenti ngerokok terus sukangomel, mending gak usah berhenti deh.”

Ia bengong. Lalu mikir. Mungkin ia berpikir kalau berhenti merokok membuatnya tak punya cara untuk melepas stress. Aku sempat menyuruhnya ikut tinju kek, sambil membayangkan samsak adalah para klien yang menyebalkan. Apa yang lebih memuaskan ketimbang memukuli orang menyebalkan? Tapi rupanya ia terlalu malas untuk buang keringat, apalagi sampai membuat sakit tangan.

“Aku merokok lagi boleh gak?”

“Bebas ajalah. Terserah kamu aja.”

Akhirnya ia kembali merokok sampai sekarang.

Sekarang ia sudah mirip loko kereta yang masih menggunakan batubara. Ngebul. Apalagi kalau sudah di rumah. Soalnya kerjaan istriku ada di gedung tinggi, dan tak ada ruang merokok di sana. Kalau mau merokok, ia harus turun ke lantai dasar. Kasihan benar ya. Nah pelampiasannya selalu di rumah.

Menikah selama lebih dari tiga tahun membuat saya hapal kebiasaan merokoknya. Setelah bangun pagi, ia akan menjerang air lalu membuat kopi. Setelah kopi jadi, dia akan mulai memutar lagu dari Spotify. Ia menyulut rokok sembari membaca surel kerjaan. Ia baru bias merokok lagi sore, saat ada jeda kantor. Palingan satu dua batang saja. Lalu kembali bias ngerokok saat sudah di rumah.

Kadang kebiasaannya itu bikin sebal. Terutama kalau ia sempat-sempatnya bakar rokok kalau kami mau keluar rumah. Bukan apa, saya malas menunggu. Lagipula apa enaknya merokok sambil diburu-buru? Merokok itu kan enaknya sambil santai, ngopi, atau pas lagi ngising.

Jadi begitulah. Kami pasangan suami istri yang berbeda. Tapi kami berusaha saling menghargai. Mau merokok atau tidak merokok, asal saling menghargai, semua akan baik-baik saja. []

(Visited 146 times, 4 visits today)
Sugiyanto

Pekerja Seduh Kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *