Perokok Dinista, Perokok Penyelamat Bangsa

Mendiskreditkan Rokok Sebagai Budaya Tua Hanya Akal-akalan Pasar Obat

  • 75
  •  
  •  
  •  
  •  
    75
    Shares

Jauh sebelum kita mengenal gaya hidup modern yang membawa dampak cukup kompleks. Aktivitas menghisap tembakau bukanlah suatu hal yang dipertentangkan. Menjadi bagian dari ritus keagamaan masyarakat lama. Sementara virus tuberculosis dinyatakan ada sejak zaman kuno. Bukti adanya penyakit tersebut ditemukan pada bangkai bison dari sekira 17000 tahun lalu. Yang artinya virus ini termasuk virus tua.

Ditandai melalui era revolusi neolitikum, suatu istilah yang dicetuskan pada 1923 oleh V. Gordon Childe, seorang arkeolog cum ahli bahasa asal Australia yang mempelajari pembabakan kehidupan manusia prasejah Eropa. Era tersebut dinyatakan sebagai fase transisi beberapa budaya manusia berskala besar, dari gaya hidup pemburu-pengumpul ke gaya hidup agribudaya. Pada fase itu sudah diketahui adanya virus tersebut.

Tentu berkembangnya virus itu tidak berkaitan sepenuhnya dengan aktivitas mengonsumsi tembakau baik secara dikunyah maupun dihisap yang sudah ada sejak 4000 tahun sebelum masehi. Sumber berkembangnya penyakit pada masa itu sebetulnya belum bergeser dari persoalan tata kelola lingkungan dan konsumsi masyarakat. Yang sampai saat ini upaya serupa masih terus dilakukan, tak terkecuali antirokok melalui isu kesehatan yang dimainkannya.

Baca Juga:  Isu HAM Mengancam Industri Kretek Kecil

Banyak hal yang dianggap kuno dan tidak lagi mewakili semangat zaman pada gilirannya dilibas oleh paradigma kesehatan modern. Mulai dari praktik penyembuhan tradisional sampai pada praktik kebidanan yang dilakukan dukun beranak. Itu semua tergantikan sudah. Muncul bentuk-bentuk ketergantungan baru yang dilihat secara ekonomi-politik sebagai pasar yang senantiasa dipelihara dan terus dilipatgandakan fungsinya.

Industri kesehatan memainkan perannya dalam pasar tersebut. Termasuk pula dalam mengondisikan alam pikir masyarakat Indonesia yang dicap masih melestarikan tradisi lama, yakni merokok. Dalam berbagai forum-forum tertentu yang melibatkan kelompok maupun pesohor, praktik yang mendiskreditkan rokok dan aktivitas merokok terus saja gencar dimainkan. Dalil yang diangkat lagi-lagi atas nama kesehatan masyarakat.

Merokok yang dicap sebagai budaya tua, diframing sebagai aktivitas jahiliyah yang merusak badan. Sementara gaya hidup modern yang dinilai sebagai budaya baru, semisal penggunaan gajet dan budaya mengonsumsi makanan siap saji yang makin menjauhkan masyarakat dari etos produktif. Etos produktif itu kini dilokalisir melalui media virtual. Berakumulasi menjadi ancaman penyakit obesitas dan stroke di masyarakat urban. Tentu itu luput dibahas dalam agenda yang mendiskreditkan rokok, boleh jadi haram pula dibahas.

Baca Juga:  Inilah Alasan Mengapa Kemenkes Menolak CPNS Perokok

Berbeda dengan etos masyarakat perdesaan, yang di sana masih terselenggara nilai-nilai produktif yang teraktualisasi nyata. Masih ada aktivitas orang membuat sambal, menyiangi bahan makanan, bahkan dalam hal penyediaan sumber makanan yang ditanam di lahan sendiri. Iya etos semacam itu diframing oleh masyarakat urban sebagai budaya tua. Yang pembabakan sejarahnya ditandai sejak era revolusi agribudaya. Pada masa itu jangan tanya berapa banyak orang yang mati karena kanker, diabetes, stroke ataupula obesitas. Kita baru mengenalnya setelah kurikulum pengetahuan tentang penyakit dikenalkan oleh industri kesehatan modern.

Celakanya, upaya antirokok dalam melibas keberadaan rokok selalu saja menempatkan rokok sebagai penyebab tunggal dari segala penyakit. Masyarakat perdesaan yang masih merokok dan produktif seakan dilecehkan melalui framing budaya tua yang tidak sejalan dengan kepentingan paradigma kesehatan modern.

Rokok sebagaimana media rekreatif lainnya yang di masyarakat urban menjelma dalam berbagai bentuk dan gaya hidup. Pastilah terdapat sensasi kenikmatan serta hal yang membanggakan saat melakukannya. Bukan berarti tidak ada faktor risiko kesehatan dari semua produk gaya hidup itu. Misalnya saja dari trend menyantap makanan berbasis molecular gastronomy ataupula kebiasaan memanjakan waktu melalui game online, rekreasi berbasis virtual reality. Tentu itu semua memberi nilai rekreatif dan dampak tersendiri.

Baca Juga:  Ilusi Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Jangan heran, jika kelak nama-nama penyakit baru bermunculan dan akan pula mendiskreditkan produk gaya hidup itu, yang seiring waktu akan dianggap usang serta layak digempur seperti halnya terhadap rokok. Jika rokok dicap sebagai budaya tua yang harus digantikan, mestinya penggunaan nikotin pada produk NRT (Nicotine Replacement Therapy) juga demikian. Karena rokok dan NRT sama-sama mengandung nikotin. Anda tahu sejak kapan nikotin dikonsumsi dengan cara dikunyah? Iya sejak 4000 tahun sebelum masehi itu.

Di era kini produk budaya itu hanya beralih rupa dengan penyebutan yang berbeda. Pada akhirnya semua hanya komodifikasi belaka. Targetnya adalah mengonstruksi nilai-nilai produk budaya baru di kepala konsumen. Termasuk pula pada agenda industri farmasi melalui isu kesehatan yang mendiskreditkan rokok sebagai budaya tua. Demikianlah pasar obat bekerja mengondisikan alam pikir kita.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah