Pabrik rokok tertua

4 Pabrik Rokok Tertua di Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Di Indonesia terdapat begitu banyak merek rokok, pun dengan jenis rokok serta pabrikannya. Ada beberapa pabrik rokok yang ternyata usianya menjadi paling tua di Indonesia. Nah tulisan kali ini akan membahas beberapa pabrik rokok tertua di Indonesia, yang hingga saat ini masih berproduksi.

Nojorono

Mungkin PT Djarum adalah pabrik rokok terbesar asal kota kretek Kudus. Namun, secara usia, PT Nojorono Tobacco Internasional memiliki usia yang lebih tua dari Djarum, bahkan menjadi salah satu yang paling tua dan masih beroperasi di Kudus saat ini.

Nojorono didirikan pada tahun 1932 oleh 5 keluarga besar yang masih memilikinya hingga saat ini. Kelima keluarga tersebut adalah Tjoa Kang Hay, Tan Tjiep Siang, Tan Kong Ping, Tan Djing Dhay, serta Ko Djie Siong. Bergabungnya 5 keluarga untuk mendirikan satu pabrik sendiri menjadi hal yang tak lazim di dunia kretek saat itu.

Beberapa produk Nojorono yang terkenal dan masih ada hingga saat ini adalah Class Mild, Minak Djinggo, serta Aroma.

Baca Juga:  Cebong Dan Kampret Masih Tegang, Elit Politik Nyebats Bareng

Bentoel

Pabrikan asal Malang ini juga menajdi salah satu pabrikan terbesar dan tertua di Indonesia. Berdiri dengan nama Strootjes Fabriek Ong Hok Liong pada tahun 1931, pabrikan ini kemudian berganti nama menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel pada tahun 1954.

Pada tahun 1960an, pabrikan ini menjadi trend setter di industri kretek dengan menggunakan plastik pada bungkus rokok. Hal ini kemudian diikuti oleh banyak pabrikan dan menjadi patokan kemasan hari ini. Pada tahun 2009, PT Bentoel dibeli oleh perusahaan asing British American Tobacco.

Beberapa produk yang menjadi produk unggulan Bentoel adalah Bintang Buana, Sejati, Bentoel Biru, serta Dunhill dan Lucky Strike.

Djarum

Salah satu pabrikan terbesar di Indonesia ini didirikan oleh Oei Wie Gwan pada tahun 1951. Pabrik ini awalnya bernama NV Murup dengan produk andalam Djarum Gramofon. Kemudian, sang pemilik mengganti nama perusahaannya menjadi PT Djarum.

Sebelum besar seperti sekarang, Djarum menjadi perusahaan yang harus jatuh bangun dalam mempertahankan bisnisnya. Bahkan, pada tahun 1963, Djarum mengalami musibah kebakaran yang hampir membuat perusahaan ini tutup. Beberapa saat setelah musibah ini, Oei Wie Gwan meninggal dan digantikan oleh anaknya.

Baca Juga:  Belajar Merayakan Perbedaan dari Imlek

Kini, Djarum telah menjadi perusahaan raksasa di Indonesia. Beberapa produknya yang terkenal seperti Djarum Super, LA Lights, serta Djarum 76 hingga hari ini masih menjadi jagoan para kretekus di Indonesia.

Sampoerna

Mungkin ini adalah pabrik rokok tertua yang masih berproduksi hingga hari ini. Bermula dari industri rumahan yang didirikan pada tahun 1913, kini Sampoerna telah menjadi perusahaan rokok besar di Indonesia. Meski begitu, baru pada tahun 1930 lah usaha ini diresmikan sebagai perusahaan dengan nama NVBM Handel Maatschapij Sampoerna.

Pabrikan ini pernah mengalami masa sukses sebelum tahun 1942 dengan produknya yang paling sohor hingga hari ini, Dji Sam Soe. Sayangnya, pada masa pendudukan Jepang perusahaan ini mengalami kemunduran bahkan sempat bangkrut pada medio 1950-an.

Barulah pada tahun 1965, setelah perusahaan diambil alih oleh sang anak, Sampoerna bertransformasi jadi perusahaan besar.

Pada tahun 2005, mayoritas saham PT HM Sampoerna diakuisisi oleh perusahaan rokok asal Amerika Serikat Phillip Morris International. Beberapa produknya yang terkenal adalah Sampoerna Mild, Dji Sam Soe, dan Malboro.

Baca Juga:  Menyematkan Gelar Pahlawan pada Antirokok
Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit