Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, Melihat Sejarah dari Sebatang Rokok

Dalam Artikel Ini

Resensi Buku Kretek Jawa

Dalam Artikel Ini

Temanggung dan Tembakau Srintil

Buku Kretek Jawa ini tidak melulu membahas tentang Kretek dan pabrikasi serta tokoh tokoh yang berperan dalam sejarah panjang dunia Kretek, melainkan juga mengajak pembaca ke dunia pertanian yang menjadi hulu dari industri Kretek.

Kita balik lagi ke halaman 43, untuk berangkat ke Temanggung.

Kalau Kudus berbicara tentang industri, Temanggung berbicara tentang daun. Ini kisah tentang tembakau. Bab ini berjudul “Kebun Srintil Temanggung Tanpa Pabrik.”

Ya, tembakau memang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di lereng Sumbing. Di antara berbagai jenis tembakau yang terkenal, Srintil menempati posisi istimewa. Petani mengenalnya sebagai tembakau dengan kualitas dan karakter tertentu yang membuat harganya bisa sangat tinggi.

Namun tembakau Srintil tidak hanya mempunyai nilai ekonomi.

Masyarakat juga menyimpan kisah lisan mengenai Ki Ageng Makukuhan yang dikaitkan dengan awal mula tembakau di lereng Sumbing. Cerita tersebut hidup dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Kita tentu harus membedakan tradisi lisan dengan bukti sejarah tertulis. Namun, tradisi lisan tetap mempunyai nilai penting karena memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami asal-usul kehidupan mereka sendiri.

Ada pula kisah bahwa tembakau sudah masuk ke Temanggung sejak masa Sultan Agung Mataram, sekitar 1613–1645. Klaim semacam ini menarik sebagai bagian dari ingatan lokal, tetapi pembaca tetap harus menempatkannya secara kritis karena sejarah awal tembakau di Jawa memiliki sumber yang beragam.

Jika Anda ingin tahu lebih jauh tentang tradisi lisan dan keberadaan Ki Ageng Makukuhan di tengah masyarakat lereng Sumbing, silakan baca tulisan lama saya: “Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing”.

Cacak, Gobang, Rigen, dan Musim Panen

Buku Kretek Jawa menjadi semakin hidup karena juga masuk ke dalam dunia pekerjaan petani.

Petani Temanggung merajang tembakau menggunakan cacak dan gobang. Mereka kemudian menata rajangan di atas rigen untuk proses pengeringan. Musim panen tembakau  di Temanggung menggerakkan banyak orang untuk mendapatkan hasil ekonomi. Penjual keranjang mendapatkan penghasilan. Pembuat rigen memperoleh pesanan. Buruh angkut bekerja. Pedagang datang. Dealer sepeda motor dan toko elektronik biasanya bakal kebanjiran pembeli.

Kemudian grader datang menentukan kualitas.

Di tangan grader, warna, aroma, tekstur, ketebalan, dan karakter daun ikut menentukan kelas tembakau. Harga pun mengikuti kualitas.

Dengan pembahasan tema yang panjang seperti ini, buku Kretek Jawa menunjukkan pada pembaca bahwa tembakau bukan hanya tanaman semata. Ia menciptakan sebuah sistem ekonomi yang sangat rinci.

Pembaca juga berkenalan dengan istilah Voor-oogst dan Na-oogst, dua istilah yang berkaitan dengan pola tanam dan musim serta waktu panen tembakau dalam tradisi budidayanya.

Lembah Brantas dan Segitiga Kretek Jawa Timur

Dari Temanggung kisah tentang kretek kemudian bergerak menuju ke Jawa Timur.

Pada halaman 83 ada Bab berjudul “Kretek-kretek di Lembah Brantas.” Bab ini membawa pembaca ke Blitar, Kediri, dan Tulungagung. Ketiga wilayah tersebut berkembang sebagai kawasan penting industri Kretek di sekitar aliran Sungai Brantas, terutama pada paruh abad ke-20.

Kediri kemudian memperoleh identitas yang sangat kuat melalui industri rokok. Nama Gudang Garam bahkan menjadi ikon citra kota Kediri.

Namun dalam bab ini, buku Kretek Jawa tidak hanya berkisah tentang perusahaan besar. Sekali lagi, ada kisah tangan pekerja menjadi pokok bahasan. Di balik merek yang terpampang di warung dan reklame, terdapat orang-orang yang melinting, membungkus, mengemas, mengangkut, dan menjual. Industri Kretek selalu mempunyai wajah manusia.

Dari Nama Nyeleneh hingga Rokok Modern

Sejarah merek rokok Kretek dalam buku ini juga menarik karena memperlihatkan kreativitas produsen pada masa lalu. Nama-nama yang terdengar aneh, lucu, atau bahkan tidak masuk akal justru bisa menjadi identitas produk. Masyarakat mengingat nama tersebut karena berbeda dari yang lain. Perubahan merek kemudian mengikuti perubahan zaman.

Industri rumahan kemudian berkembang menjadi industri pabrikan. Pabrik menggunakan teknologi baru. Produksi meningkat. Distribusi meluas. Promosi berubah. Konsumen pun ikut berubah.

Pada titik ini, buku Kretek Jawa menunjukkan bahwa Kretek bukan produk yang mengendap dalam sejarah melainkan terus berubah mengikuti masyarakat yang menghidupinya.

Kretek di Tengah Perdebatan Kesehatan dan Industri

Inilah mengapa buku berusia 15 tahun sejak pertama kali diterbitkan ini menarik untuk dibaca ulang saat ini. Kita tidak boleh menutup mata terhadap isu kesehatan. Merokok memang dianggap menghadirkan risiko kesehatan, dan generasi muda membutuhkan perlindungan yang serius. Namun, hal ini tidak berarti seluruh sejarah dan ekosistem industri Kretek menjadi tidak relevan. Memahami perbedaan antara mengatur konsumsi dan menghapus sebuah industri adalah penting.

Di Indonesia, rantai ekonomi dan sosial tembakau melibatkan jutaan orang, mulai dari petani hingga pekerja industri. Oleh karena itu, setiap kebijakan akan berdampak pada aspek ekonomi dan sosial. Larangan iklan, pembatasan promosi, kenaikan cukai, pembatasan produk, hingga ide kemasan polos, dan pembatasan Tar dan Nikotin, bukan hanya soal regulasi. Kebijakan-kebijakan ini juga mempengaruhi keberlanjutan usaha, lapangan kerja, petani, pendapatan negara, dan peredaran produk ilegal.

Jadi masalahnya bukan terletak pada, antara memilih kesehatan atau ekonomi. Kebijakan yang baik seharusnya mampu menjembatani kedua kepentingan tersebut.

Buku Rudy Badil memberikan bahan introspeksi penting di sini. Ia mengingatkan kita bahwa sebelum Kretek menjadi subjek regulasi, Kretek adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat.

Mengapa Buku Ini Penting Dibaca Ulang?

Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya terbit memang sudah lama; sudah 15 tahun lalu. Namun isinya semakin relevan saat kita meninjau kembali keberadaan Kretek saat ini. Memang buku ini mengabadikan cerita yang mudah terlupakan dan dilupakan; tentang Haji Djamhari, tentang Nitisemito, tentang pria dan wanita yang mengandalkan keterampilan melinting Sigaret Kretek Tangan. Atau, tentang buruh dari Demak yang pergi ke Kudus. Dan juga, tentang pasar tiban yang muncul akibat kebutuhan para buruh.

Dan tentu saja tentang merek rokok yang nama-namanya unik dan nyleneh, terdengar asing dan mungkin lucu bagi generasi sekarang. Namun pada zaman dahulu, nama nama merek rokok yang unik dan nyleneh, itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Setiap cerita menyampaikan satu pesan; Kretek tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari pertemuan manusia dengan tanaman, perdagangan dengan budaya, keterampilan dengan tuntutan ekonomi, dan tradisi dengan perubahan zaman.

Membaca Sejarah Kretek Bukan Berarti Mengajak Orang Untuk Merokok

Membaca sejarah Kretek bukan berarti mengajak semua orang untuk merokok, melainkan memahami bagaimana sebuah produk yang asli lahir dari masyarakat Indonesia, tumbuh dan menjadi bagian integral dari sejarah sosial dan ekonomi bangsa. Demikianlah nilai terbesar dari buku Rudy Badil ini.

Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya mengajak kita memandang sebatang Kretek dengan perspektif baru, bukan hanya sebagai benda yang dibakar dan diisap, tetapi sebagai hasil akhir dari perjalanan panjang yang dimulai dari kebun tembakau dan cengkeh, melewati tangan-tangan petani dan pelinting, masuk ke dalam pabrik, merambah pasar, hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Buku Kretek Jawa ini juga dilengkapi visual pendukung tulisan dengan foto foto karya sahabat saya, jurnalis foto, kontributor National Geographic, dan Reuters, Dwi “Oblo” Prasetyo. Foto foto yang disajikan Oblo menunjukkan dinamika pekerja di sentra sentra pabrik rokok dan pertanian tembakau.

Sejarah tak selamanya tertulis dalam prasasti; kadang ia tersimpan dalam selembar daun tembakau, dalam aroma cengkeh, pada telapak tangan seorang pelinting, dan dalam suara kecil yang sudah lama dikenal penikmat rokok lebih dari seabad lalu; kretek, kretek, kretek.

Penulis: Eko Susanto

BACA JUGA: Resensi Buku Nicotine War Karya Wanda Hamilton