Membaca sejarah Kretek Jawa bukan berarti mengajak orang untuk menjadi perokok. Karena membaca sejarah rokok kretek berarti memahami bagaimana rokok ketek yang lahir dari masyarakat Indonesia kemudian tumbuh menjadi bagian dari sejarah sosial dan ekonomi bangsa.
***
Saya akan mengajak Anda sejenak menengok ke belakang, melihat sekilas saja tentang sejarah kretek dari sebuah buku berjudul “Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya” karya Rudy Badil, yang pada bulan Agustus 2026 ini tepat berusia 15 tahun. Jika buku ini manusia, tentu sudah memasuki usia remaja. Usia yang penuh semangat dan keinginan untuk melakukan banyak hal. Lazimnya remaja, ia mengalami masa krisis eksistensial. Namun berbeda dengan krisis eksistensialnya remaja, tema pembahasan dalam buku ini yakni Kretek, bahkan sejak pertama kali menjadi industri sudah mengalami krisis eksistensial. Terutama tekanan regulasi dan kebijakan pemerintah yang kurang adil atas keberadaannya.
“Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya” selanjutnya akan saya sebut Kretek Jawa, diterbitkan pertama kali pada bulan Agustus tahun 2011 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Buku ini berisi kisah panjang tentang Kretek yang mengajak pembaca melihat Kretek jauh melampaui sebatang rokok.
Sebagai ilustrasi saya jelaskan ringkas saja tentang jenis rokok. Rokok itu bisa disebut Kretek jika memakai campuran cengkeh. Karena dalam Industri Hasil Tembakau, ada banyak klasifikasi atau jenis jenis rokok. Rokok yang tidak memakai cengkeh itu rokok putihan atau rokok putih produk dari luar. Sedangkan Kretek yang dibahas dalam buku ini adalah rokok yang memakai campuran cengkeh, baik itu rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang memakai filter, maupun rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang tidak memakai filer. Dalam tulisan resensi ini selanjutnya saya akan menyebut rokok menjadi Kretek, dengan ‘K’ besar.
Resensi buku Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya
Di dalam buku Kretek Jawa ini tersimpan kisah sejarah kota Kudus, kisah tentang Haji Djamhari; sang legenda yang disebut-sebut sebagai penemu Kretek, kisah perjalanan Nitisemito sebagai Raja Kretek, tangan-tangan para pelinting, kehidupan buruh pabrik, tembakau Srintil Temanggung, cengkeh dari kepulauan Maluku, hingga tumbuhnya industri Kretek di lembah Brantas. Membaca buku ini berarti membaca sebagian perjalanan masyarakat Jawa melalui tembakau dan Kretek.
Rudy David Badil nama lengkap sang penyusun buku ini adalah salah satu pendiri gurp lawak Warkop bersama Nanu, Dono, Kasino, dan Indro. Setelah keluar dari grup Warkop, pada tahun 1980 Rudy Badil kemudian menjadi wartawan Kompas, dan pensiun pada tahun 2005. Beliau meninggal dunia usia 73 tahun pada 2019 usai lama dirawat rumah sakit karena stroke.
Dalam Menyusun buku ini, Rudy Badil tidak hanya mengumpulkan cerita tentang rokok Kretek melainkan membuka satu per satu kotak pandora budaya masyarakat Jawa, lalu memperlihatkan bahwa di balik kebiasaan mengisap Kretek terdapat sejarah perdagangan, keterampilan tangan, perubahan sosial, ekonomi rakyat, kebudayaan, bahkan jejak perjalanan agama.
Karena itu, buku ini penting dibaca bukan hanya oleh para perokok. Melainkan penting juga dibaca oleh orang yang ingin memahami bagaimana sebuah produk lokal bernama Kretek bisa tumbuh menjadi industri sekaligus bagian dari kebudayaan Indonesia.
Sejarah Kretek
Salah satu kekuatan dalam buku ini terletak pada cara penulis menempatkan sejarah kretek dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kisahnya tidak langsung dimulai dari pabrik.
Pembaca diajak terlebih dahulu untuk melihat kisah Rara Mendut bersama kekasihnya, Pronocitro. Kisah yang hidup dalam budaya Jawa tersebut memperlihatkan bagaimana tembakau dan budaya merokok telah hadir dalam kehidupan masyarakat Jawa jauh sebelum Kretek modern menemukan bentuknya seperti sekarang.
Rara Mendut bahkan mengenalkan sisi lain dari rokok; sebagai barang yang mempunyai nilai ekonomi. Dikisahkan, Rara Mendut menjual rokok lintingannya untuk memperoleh uang. Kisah tersebut memang berada dalam dunia sastra, legenda, dan sejarah. Namun justru disitulah menariknya. Artinya, kita jadi tahu bahwa masyarakat Jawa sudah mengenal tembakau, rokok, dan aktivitas perdagangan jauh sebelum industri Kretek lahir.
Kemudian kisah sejarah mengajak pembaca ke Kudus.
Pada dekade antara tahun 1870–1880, muncul kisah Haji Djamhari. Tokoh yang kemudian menjadi legenda dalam sejarah Kretek itu disebut sebagai orang yang mencampurkan tembakau dengan cengkeh, dilinting, diisap, sebagai eksperimen atau uji coba untuk mengatasi keluhan nyeri dan sesak di dadanya.
Ketika lintingan tembakau dan cengkeh itu dibakar, ujung bakar pada lintingannya menghasilkan bunyi kretek, kretek, kretek.
Onomatope itu kemudian melekat dalam ingatan.
Di sinilah buku Kretek Jawa memperlihatkan sebuah ironi sejarah yang menarik. Sesuatu yang awalnya sederhana dan lahir dari eksperimen seseorang secara personal kemudian berkembang menjadi salah satu industri besar yang tumbuh dari masyarakat Indonesia sendiri.
Dari Cengkeh dan Tembakau, serta Tradisi Meramu
Kretek bukan hanya berasal dari tembakau. Setiap batangnya mengandung cengkeh, elemen penting yang menjadikan rokok tersebut dikenal sebagai Kretek.
Cengkeh juga mempunyai sejarah panjang sebagai komoditas rempah Nusantara. Jauh sebelum Kretek dikenal, bangsa-bangsa Eropa sudah datang ke kepulauan Indonesia untuk mencari rempah. Cengkeh menjadi salah satu komoditas incaran bangsa Eropa yang membuat kepulauan Maluku memiliki posisi penting dalam perdagangan dunia.
Masyarakat Jawa, melalui eksperimen Haji Djamhari, kemudian mencampurkan cengkeh dengan tembakau.
Ramuan cengkeh dan tembakau itu kemudian melahirkan karakter baru. Dalam perjalanannya, tradisi merokok di Jawa mengenal lebih banyak bahan sebagai ramuan. Mulai dari klembak, kemenyan, dan berbagai rempah lain juga pernah menjadi bagian dari kebiasaan meramu bahan untuk diisap. Karena itu, sejarah Kretek sesungguhnya juga merupakan sejarah pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan alam. Artinya, sejarah Kretek adalah juga sejarah tradisi meramu masyarakat Jawa.
Buku ini menarik karena tidak memisahkan semua unsur tersebut. Tembakau, cengkeh, manusia, kebiasaan, dan ekonomi disajikan dalam satu kisah yang panjang.
Budaya Dalam Selinting Rokok
Dalam buku ini terdapat pula sumbangan pemikiran dari budayawan Mohamad Sobary melalui pengantar dengan tulisan berjudul “Budaya Dalam Selinting Rokok” yang membawa pembaca masuk pada pembahasan ke wilayah yang lebih dalam.
Apa yang sebenarnya ada dalam sebatang rokok?
Secara fisik, jawabannya mudah. Ada tembakau, cengkeh, kertas pembungkus, dan bahan lain sesuai jenis produknya. Namun secara kebudayaan, ternyata jawabannya jauh lebih luas; ada Bahasa, ada kebiasaan, ada pergaulan, ada simbol, dan ada cara manusia berhubungan satu sama lain.
Pada halaman XIV, dia menulis begini:
Selinting rokok, tulis Mohamad Sobary, tak semata berhubungan dengan rohani dan apa yang gaib,tetapi juga dengan psikologi—pembuka kemacetan kreativitas—bagi para seniman: tanpa rokok renungan terhambat. Tanpa selinting rokok, kreativitas bagai tak mengalir. Begitu seorang seniman mengisap keharuman aroma rokok, dan dengan cermat menatap gulungan asap lembut, seolah dia menghilang ke dalam kefanaannya sendiri; dunianya terbuka. Seolah dia lalu bisa “sumusuping rasa jati” yang subtil, lembut, dan tak terambah jika tanpa pembuka selinting rokok yang begitu powerfull tadi.

Dari pengalaman spiritual dengan Kretek tersebut orang Jawa kemudian mengenal istilah udud dan ngudut. Sementara kata “rokok” sendiri dalam penelusuran buku ini berasal dari kata Belanda ro’ken. Perubahan istilah tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa ikut merekam perjalanan kebiasaan masyarakat.
Dengan begitu, rokok Kretek tidak hanya menjadi benda konsumsi. Tetapi masyarakat telah memberikan makna lain kepadanya.
Halaman Selanjutnya: Rokok: Dunia Ajaib yang Tidak Musnah
- Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, Melihat Sejarah dari Sebatang Rokok - 10 August 2026
- Industri Rokok Dalam Konser Musik di Indonesia - 19 January 2026
- Gudang Garam De Luxe: Rokok Berkelas yang Bikin Puas - 10 January 2024



